DIALEKSIS.COM | Feature - Dari ruang perawatan RSUDZA Banda Aceh, Senin, 9 Februari 2026, kabar itu beredar pelan lalu menggema. Kho Khie Siong yang akrab dipanggil Pak Aky telah berpulang. Bagi banyak orang Aceh, ia bukan sekadar tokoh Tionghoa, melainkan sahabat yang memilih Aceh sebagai rumah.
Dialah Ketua Hakka Aceh, Ketua Federasi Olahraga Barongsai Indonesia (FOBI) Aceh, Pembina Permata Aceh, dan Dewan Pembina INTI Aceh. Jabatan-jabatan itu terdengar formal. Tapi di mata para sahabatnya, Pak Aky adalah cerita tentang ketulusan, kerja sunyi, dan cinta pada Aceh yang tak perlu diumumkan.
Ahmad Mirza Safwandy, Komisioner Komisi Independen Pemilihan Aceh (KIP Aceh), masih mengingat betul pertemuan pertamanya dengan Pak Aky pada 2014. Saat itu ia mendampingi Dahlan Iskan dalam kunjungan ke Aceh.
“Beliau bilang, ‘Anda berdua harus saling kenal,’” kenang Mirza.
Hari itu, Pak Aky datang sebagai Ketua FOBI Aceh. Pertemuan singkat, namun membekas. Dalam obrolan yang mengalir ringan, Pak Aky bercerita tentang Aceh tanah yang tak hanya ia tinggali, tapi ia pilih dengan sadar.
“Saya lebih bangga menyebut diri sebagai orang Aceh,” ujar Pak Aky kala itu.
Waktu kemudian berjalan seperti biasa. Mereka lama tak berjumpa. Hingga setahun lalu, sebuah panggilan video mempertemukan kembali. Suara Pak Aky tetap sama: ramah, hangat, seperti tak ada jarak.
“Saya baru tahu Ketua Haeqal adik Bung Mirza,” katanya sambil tertawa kecil.
Lalu Senin malam itu datang. Sebuah pesan singkat dari Haeqal menyampaikan kabar duka. Pak Aky wafat di RSUZA Banda Aceh. Jenazah disemayamkan di Rumah Sosial Peunayong.
Mirza meneruskan kabar itu kepada Dahlan Iskan. Jawabannya datang cepat, dari Tarim, Yaman.
“Ya Tuhaaaaan! Sungguh kaget saya membaca WA Anda ini. Beliau orang yang sangat baik. Setiap ke Aceh saya selalu bersama beliau. Beliau sangat menyatu dengan orang Aceh.”
Kesaksian serupa datang dari Fadjri, S.H., pengacara sekaligus sahabat lama Pak Aky. Hubungan mereka terjalin sejak 2012, terutama dalam kerja-kerja kemanusiaan.
Ia masih ingat hari-hari awal bencana di Aceh, ketika kabar dari Bener Meriah menyebutkan stok pangan menipis.
“Pak Aky saya dapat kabar keluarga di Bener Meriah kesulitan. Tidak ada beras dan minyak,” kata Fadjri menirukan ucapannya kala itu.
Respon Pak Aky cepat, nyaris tanpa jeda.
“Bagaimana keadaannya? Apakah keluarga sehat? Butuh berapa banyak? Kita ada donasi dari keluarga besar Hakka. Kalau bisa, kita bantu lebih banyak lewat dapur umum.”
Dalam perjalanan, Pak Aky terus menghubungi. Menanyakan akses, kendala, apa lagi yang bisa dilakukan. Kepeduliannya tak berhenti pada perintah. Ia hadir lewat relawan, membersihkan sumur-sumur warga, hingga mengirim dua unit ekskavator untuk menangani lumpur di Aceh Utara, Aceh Tamiang, Bireuen, dan Pidie Jaya.
“Sore ini jam tujuh saya dapat kabar beliau wafat,” ujar Fadjri lirih. “Rasanya terlalu cepat. Baru tadi kami koordinasi rencana ke Aceh Tengah.”
Duka itu juga dirasakan luas oleh masyarakat Tionghoa Aceh. Bagi mereka, Pak Aky adalah figur pemersatu Ketua Hakka Aceh, Ketua Perhimpunan Masyarakat Tionghoa Aceh, tokoh INTI, dan penggerak olahraga barongsai yang membawa nama Aceh harum di PON XXI.
Aryos Nivada, pemilik media Dialeksis, mengenang Pak Aky sebagai sosok yang selalu sigap dalam urusan kemanusiaan.
“Saya bersaksi, semasa hidupnya Pak Aky orang baik. Dalam kegiatan sosial, namanya selalu ada di barisan awal. Cepat membantu, tanpa banyak bicara.”
Mereka pertama kali berkenalan saat terlibat dalam advokasi kemanusiaan dan respons kebencanaan melalui ACSTF. Dari sana, hubungan itu berlanjut menjadi persahabatan sederhana ngopi bersama di Polem Coffee, Peunayong, di kursi yang sama.
“Beliau itu nyaman. Diskusi dengannya selalu jadi ladang ilmu. Tidak menggurui, tapi mengajak berpikir,” kata Aryos.
Hal yang paling dikenang Aryos: Pak Aky tak pernah mengeluhkan kondisi kesehatannya. Tak pernah menjadikan diri pusat perhatian.
“Beliau memilih bekerja dalam diam. Menjaga keberagaman, menguatkan persaudaraan, dan mencintai Aceh dengan cara yang tulus.”
Kini Pak Aky telah pergi. Tapi cerita tentangnya tinggal di banyak tempat: di sumur yang kembali jernih, di lumpur yang tersingkir, di barongsai yang menari membawa nama Aceh, dan di hati orang-orang yang pernah disentuh kebaikannya.
Selamat jalan, Pak Aky.
Aceh mencatatmu bukan sebagai tamu, melainkan sebagai bagian dari dirinya. [arn]