Minggu, 17 Mei 2026
Beranda / Feature / Rumah Tinggal Kenangan: Warga Lhok Puuk Menanti Huntara

Rumah Tinggal Kenangan: Warga Lhok Puuk Menanti Huntara

Kamis, 01 Januari 2026 08:00 WIB

Font: Ukuran: - +

Reporter : Nora

Salah satu rumah warga Desa Lhok Puuk, Kecamatan Seunuddon, Aceh Utara yang diterjang banjir. Foto: Nora/Dialeksis 


DIALEKSIS.COM | Aceh Utara - Rindu pulang, tetapi mau pulang kemana? Yang tersisa kini hanya kenangan. Tempat berteduh, penuh kedamaian itu telah ditelan alam. Tiada lagi yang tersisa.

Mereka tidak viral dan jarang terdengar. Bagi warga Desa Lhok Puuk, Kecamatan Seunuddon, Aceh Utara, rumah kini tak lagi sekadar tempat pulang. Ia telah menjelma menjadi kenangan yang hanyut bersama banjir bandang pada 26 November 2025 lalu. 

Puluhan rumah lenyap tanpa jejak, dilarikan air deras dan pekat. Kini hanya hembusan angina diantara tenda. Hanya terbercik harapan dan penantian panjang akan hunian sementara (huntara) yang belum juga terwujud.

Sejak bencana itu, hidup warga berubah drastis. Harta benda hilang, pekerjaan terputus, dan rasa aman ikut terkubur. Setiap hari, sebagian warga masih menahan tangis--terpaksa berpindah dari satu rumah keluarga ke rumah keluarga lain. 

Ada pula yang bertahan di camp pengungsian, meski tak sedikit memilih pergi karena merasa tidak nyaman.

Salah satu tempat pengungsian warga. Foto: Nora/Dialeksis 

Keuchik Desa Lhok Puuk, T Bakhtiar, menyebutkan dampak banjir di wilayahnya sangat besar. Di Lorong Barat saja, terdapat sekitar 130 kepala keluarga (KK) terdampak. Dari jumlah itu, 56 rumah benar-benar hilang tanpa sisa, sementara lainnya masih berdiri namun berada di kawasan yang kini terisolasi.

“Sebagian rumah memang masih ada. Tapi karena terbukanya muara atau kuala baru--sekitar 10 kuala--akses jalan ke sana terputus hingga hari ini,” ujar Bakhtiar, akhir Desember 2025.

Kondisi ini membuat sebagian warga tetap memaksakan diri tinggal di area rawan, meski telah diimbau untuk mengungsi. Mereka bagaikan pasrah dalam amukan alam. Alasannya sederhana, ketidaknyamanan hidup di pengungsian dan keterbatasan pilihan.

Namun risiko yang mengintai jauh lebih besar. Abrasi pantai terus menggerus daratan Lhokpuuk. Angin kencang dan gelombang besar setiap saat bisa kembali membawa bencana. 

“Kami khawatir akan terjadi masalah baru jika masyarakat tetap tinggal di sana,” katanya.

Selain Lorong Barat, kerusakan juga terjadi di Lorong Tengah dengan 17 rumah terdampak, serta Lorong Timur dengan 7 rumah, di mana 3 rumah hilang dan 4 lainnya rusak ringan. Secara keseluruhan, 156 rumah di Desa Lhok Puuk mengalami kerusakan. Padahal jumlah penduduk desa ini mencapai 506 KK.

Bagi Bakhtiar, bencana di Lhok Puuk bukan peristiwa tunggal. Desa ini telah berkali-kali diuji alam mulai dari tsunami, abrasi, hingga banjir bandang. Setiap musibah meninggalkan luka baru.

“Yang paling menyedihkan, hampir 99 persen warga kami adalah nelayan tradisional. Satu-satunya tanah yang mereka miliki adalah tempat rumah mereka berdiri. Sekarang rumah itu sudah tidak ada--ikut hanyut bersama tanahnya,” tuturnya.

Kenyataan tersebut membuat upaya penataan kembali desa menjadi sangat rumit. Terbukanya 20 kuala baru di Lhok Puuk dan 5 di Desa Ulee Rubek Barat, menambah keresahan warga. Harapan kini bertumpu pada kehadiran pemerintah untuk membangun huntara sebagai tempat tinggal sementara.

Namun harapan itu kembali terbentur persoalan klasik, ketersediaan lahan. Desa tidak memiliki tanah yang bisa digunakan untuk pembangunan huntara. Permohonan pembebasan lahan telah diajukan, proposal disusun, bahkan telah mendapatkan disposisi dari Gubernur Aceh Mualem. Rencananya, usulan tersebut masuk dalam evaluasi pusat untuk tahun 2026.

“Kami tinggal menunggu hasil evaluasi dari pusat. Mudah-mudahan tidak tercoret. Pengadaan tanah untuk relokasi korban abrasi dan banjir ini sangat kami harapkan,” ujar Bakhtiar.

Di sisi lain, penanganan abrasi mulai menunjukkan secercah harapan. Anggota DPR RI Ruslan M Daud bersama tenaga ahlinya, Muhammad Adam, yang merupakan putra daerah Seunuddon, telah turun langsung ke lokasi. 

Selain itu, kata dia, Pemerintah Gampong juga sudah mengadvokasi hingga ke tingkat kabupaten dan provinsi, termasuk mendorong penganggaran melalui Dana Insentif Daerah (DID).

“Awalnya direncanakan Rp750 juta, tapi yang terealisasi sekitar Rp100 juta tanpa tender. Meski kecil, ini bukti ada perhatian,” kata Bakhtiar.

Tim dari Banda Aceh pun telah turun melakukan pengukuran kadar dan kelembaban tanah. Rencananya, pemasangan batu blok cover di sepanjang bibir pantai akan dilakukan untuk menahan laju abrasi. Bagi warga Lhokpuuk, itu menjadi satu-satunya harapan yang tersisa.

Lhok Puuk adalah desa paling ujung. Kerap luput dari perhatian. "Bukan orang tidak mau melihat, tapi orang tidak tahu. Dan ketika kita tidak memberi tahu, informasi itu tidak pernah berkembang," ujar Bakhtiar.

Di tengah dunia yang menuntut segalanya menjadi viral agar didengar, warga Lhok Puuk masih menunggu dengan sabar, dengan cemas agar rumah mereka tak selamanya tinggal kenangan.

"Kami rindu pulang tetapi kemana?". [NR]

Keyword:


Editor :
Alfi Nora

riset-JSI