Minggu, 17 Mei 2026
Beranda / Gaya Hidup / Safuadi: Pejabat yang Menulis Masa Depan Aceh

Safuadi: Pejabat yang Menulis Masa Depan Aceh

Sabtu, 09 Mei 2026 19:30 WIB

Font: Ukuran: - +

Reporter : Arn

Tiga Buku karya Safuadi, S.T., M.Sc., Ph.D, yaitu Aceh Melepas Belenggu, Strategi Memakmurkan Aceh (Mengubah Sumber Daya Alam Menjadi Berkah), serta Belajar dari Cina (Panduan untuk Aceh Menuju Kemajuan). [Foto: Dokumen untuk dialeksis.com]


DIALEKSIS.COM | Banda Aceh - Nama Safuadi, S.T., M.Sc., Ph.D selama ini lebih dikenal sebagai birokrat teknis di lingkaran fiskal negara. Ia duduk sebagai Kepala Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Perbendaharaan (DJPb) Provinsi Aceh posisi yang lekat dengan angka, regulasi, dan disiplin anggaran. Namun di balik rutinitas itu, tersimpan sisi lain yang jarang tersorot: seorang penulis yang tekun merawat gagasan tentang masa depan Aceh.

Redaksi Dialeksis menelusuri jejak pemikirannya, dan menemukan setidaknya tiga buku yang telah ia lahirkan: Aceh Melepas Belenggu, Strategi Memakmurkan Aceh (Mengubah Sumber Daya Alam Menjadi Berkah), serta Belajar dari Cina (Panduan untuk Aceh Menuju Kemajuan). 

Tiga judul ini bukan sekadar karya tulis, melainkan cerminan kegelisahan panjang seorang Safuadi melihat Aceh berjalan di tempat, bahkan kerap tertinggal dari potensi yang dimilikinya sendiri.

Dalam pertemuan khusus bersama Dialeksis, Safuadi berbicara tenang, nyaris tanpa retorika berlebihan. Namun justru di situlah letak kekuatannya gagasan yang ia sampaikan terasa jernih, terukur, dan berangkat dari refleksi panjang.

“Semua yang saya tulis berangkat dari satu pertanyaan sederhana: kenapa Aceh yang punya sejarah besar dan sumber daya melimpah belum sepenuhnya bangkit? Dari situ muncul dorongan untuk menyatukan pikiran dan semangat bahwa kita bisa mengembalikan kejayaan itu dalam konteks zaman sekarang,” ujar Safuadi.

Bagi dia, kejayaan masa lalu Aceh bukanlah cerita nostalgia yang selesai di ruang sejarah. Ia harus ditafsir ulang, diterjemahkan dalam kerja nyata, dan disesuaikan dengan tantangan modern. Aceh, kata dia, tidak kekurangan modal yang kerap kurang adalah keberanian untuk mengelola potensi itu secara konsisten dan visioner.

Safuadi menekankan bahwa buku-buku yang ia tulis bukan untuk menggurui, melainkan untuk membuka ruang berpikir. Ia ingin memantik diskusi, terutama di kalangan generasi muda Aceh yang menurutnya menjadi kunci perubahan.

“Aceh dulu hebat, itu fakta sejarah. Tapi pertanyaannya, apakah kita hanya ingin bangga atau ingin melanjutkan? Kehebatan itu harus diperjuangkan kembali. Dan itu tidak bisa hanya dengan semangat, tapi juga dengan pengetahuan, inovasi, dan kerja yang terarah,” katanya.

Ia juga menggarisbawahi pentingnya perubahan cara pandang. Menurutnya, terlalu lama Aceh terjebak dalam pola pikir yang defensif lebih sibuk melihat keterbatasan dibanding peluang. Padahal, jika dikelola dengan baik, sumber daya alam, posisi geografis, hingga kekuatan sosial budaya Aceh bisa menjadi fondasi kebangkitan yang nyata.

“Yang kita butuhkan sekarang adalah lompatan cara berpikir. Dari sekadar mengelola menjadi menciptakan. Dari hanya mengandalkan sumber daya menjadi membangun nilai tambah. Kalau tidak, kita akan terus berada dalam siklus yang sama,” ujarnya.

Dalam Aceh Melepas Belenggu, Safuadi mengurai berbagai hambatan struktural dan kultural yang dinilai masih membelenggu kemajuan daerah. Ia menawarkan perspektif tentang pentingnya pembenahan sistem dan mentalitas secara bersamaan.

Sementara dalam Strategi Memakmurkan Aceh, ia mengupas bagaimana kekayaan sumber daya alam seharusnya tidak berhenti sebagai potensi, melainkan diolah menjadi kesejahteraan riil bagi masyarakat.

Adapun melalui Belajar dari Cina, Safuadi mencoba menghadirkan cermin dari luar bagaimana sebuah daerah atau negara bisa melompat jauh melalui perencanaan matang, disiplin, dan keberanian melakukan transformasi.

Namun lebih dari sekadar isi buku, Safuadi menegaskan bahwa yang ingin ia dorong adalah gerakan berpikir. Ia percaya perubahan besar selalu berawal dari gagasan yang terus dirawat dan disebarkan.

“Kita tidak bisa berharap perubahan datang dari satu dua orang. Ini harus menjadi kesadaran bersama. Saya menulis karena ingin gagasan ini hidup, dibaca, diperdebatkan, bahkan dikritik. Dari situ kita bisa bergerak,” ucapnya.

Di tengah kesibukannya sebagai pejabat negara, pilihan Safuadi untuk tetap menulis menjadi semacam penegasan: bahwa birokrasi dan intelektualitas tidak harus berjalan sendiri-sendiri. Keduanya bisa bertemu, saling menguatkan, dan melahirkan kontribusi yang lebih luas.

Sosoknya mungkin tidak sering tampil di ruang publik dengan narasi besar. Ia cenderung tenang, bahkan terkesan menjauh dari sorotan. Namun melalui buku-bukunya, Safuadi justru berbicara lebih lantang mengajak Aceh untuk tidak berhenti bermimpi, tetapi juga berani merancang jalan untuk mewujudkannya.

Pada akhirnya, karya-karya Safuadi menjadi pengingat sederhana namun penting: bahwa masa depan Aceh tidak hanya ditentukan oleh kebijakan dan anggaran, tetapi juga oleh keberanian merawat gagasan. 

Dari ruang kerja perbendaharaan hingga lembar-lembar buku yang ia tulis, Safuadi menitipkan satu pesan yang tak berubah Aceh bisa kembali hebat, jika mau berpikir lebih jauh, bergerak lebih berani, dan berjalan bersama menuju arah yang sama. [arn]

Keyword:


Editor :
Redaksi

riset-JSI