Minggu, 17 Mei 2026
Beranda / Berita / Haba Ramadan / Bangkitkan Ekonomi Usai Bencana, Pemko Banda Aceh Gelar Peukan Raya Ramadhan 1447 H

Bangkitkan Ekonomi Usai Bencana, Pemko Banda Aceh Gelar Peukan Raya Ramadhan 1447 H

Kamis, 26 Februari 2026 19:00 WIB

Font: Ukuran: - +

Reporter : Naufal Habibi

Wali Kota Banda Aceh, Illiza Sa’aduddin Djamal saat memberikan keterangan pers kepada awak media di eks Pasar Aceh lama, Banda Aceh, Kamis (26/2/2026). [Foto: Naufal Habibi/dialeksis.com]


DIALEKSIS.COM | Banda Aceh - Pemerintah Kota Banda Aceh menggelar Peukan Raya Ramadhan (PRR) 1447 H/2026 sebagai upaya membangkitkan ekonomi masyarakat usai bencana.

Kegiatan ini berlangsung mulai 27 Februari hingga 13 Maret 2026 di eks lahan Pasar Aceh Shopping Center (PAS) yang telah dinyatakan clean and clear pascapembongkaran.

Wali Kota Banda Aceh, Illiza Sa’aduddin Djamal, mengatakan PRR 2026 dirancang bukan sekadar festival Ramadan, melainkan sebagai langkah strategis mempercepat pemulihan ekonomi, khususnya bagi pelaku UMKM dan warga terdampak bencana, termasuk korban longsor di sejumlah wilayah Aceh.

Peukan Raya Ramadhan merupakan festival ekonomi berbasis masyarakat dengan semangat Khanduri, Raseuki, dan Silaturahmi. Ini bukan hanya ruang transaksi, tetapi juga ruang solidaritas ekonomi,” ujar Illiza kepada awak media di Banda Aceh, Kamis (26/2/2026).

Selama 15 hari pelaksanaan, PRR 2026 dibagi dalam tiga zona utama, yakni Peukan Raseuki, Peukan Khanduri, dan Peukan Silaturahmi.

Pada zona Peukan Raseuki, pemerintah memusatkan aktivitas niaga yang terdiri atas Peukan Takjil dan Peukan Raya.

Sebanyak 120 UMKM lokal dilibatkan dengan jenis usaha yang beragam, mulai dari kuliner khas Aceh, busana muslim, kue lebaran, kerajinan tangan, hingga produk kebutuhan Ramadan dan Idulfitri.

Pemerintah Kota juga menyediakan 100 los pameran gratis bagi UMKM kuliner yang lolos proses kurasi. “Kita ingin membuka peluang seluas-luasnya bagi pelaku usaha lokal. Konsep Khanduri atau berbagi menjadi penggerak terbukanya peluang Raseuki bagi masyarakat,” kata Illiza.

Menurutnya, peningkatan konsumsi masyarakat selama Ramadan menjadi momentum penting untuk mendorong perputaran ekonomi di tingkat lokal.

Selain aktivitas ekonomi, PRR 2026 turut menghadirkan rangkaian atraksi budaya dan spiritual dalam zona Peukan Khanduri.

Kegiatan ini diisi dengan tradisi Teumok Khanduri Ramadhan (berbagi takjil dari belanga), kolaborasi Dzikir Dalael dan Tarian Sufi, kolaborasi nasyid dan perkusi nusantara, serta berbagai atraksi budaya lainnya.

“Ramadan adalah momentum spiritual sekaligus sosial. Kita ingin menghidupkan kembali tradisi berbagi dalam format yang lebih terorganisir dan berdampak ekonomi,” ujarnya.

Sementara itu, zona Peukan Silaturahmi menjadi ruang kreatif bagi masyarakat, khususnya anak muda. Berbagai pertunjukan, permainan interaktif, hingga diskusi ringan komunitas digelar setiap hari sebagai alternatif kegiatan ngabuburit yang edukatif dan menyenangkan.

PRR 2026 diproyeksikan menjadi pusat keramaian utama selama Ramadan. Sentralisasi pedagang takjil dan UMKM di satu lokasi strategis diharapkan mampu menghadirkan arus pengunjung tinggi setiap harinya.

Illiza menyebutkan, pemanfaatan eks lahan Pasar Aceh lama juga menjadi bagian dari upaya menghidupkan kembali denyut perdagangan kawasan tersebut.

“Kita ingin menghidupkan kembali pusat perdagangan, meningkatkan perputaran transaksi, serta memperkuat ketahanan UMKM sebagai pilar utama ekonomi Banda Aceh,” tutupnya. [nh]

Keyword:


Editor :
Redaksi

riset-JSI