Dialeksis - Akurat, Tajam, dan Strategis
Beranda / Liputan Khusus / Indepth / Kadin Aceh Memetik Bintang dari Masa Kelam

Kadin Aceh Memetik Bintang dari Masa Kelam

Selasa, 18 Juni 2019 23:27 WIB


DIALEKSIS.COM | Banda Aceh - Aceh kini menaruh harapan baru, ketika Kadin dipercayakan kepada Makmur Budiman. Manusia yang piawai, dinilai amanah dan mampu mengepakkan sayap organisasi, demi kejayaan Aceh. 

Namun catatan sejarah jangan dilupakan. Organisasi kumpulan pengusaha di Aceh ini pernah mengukir sejarah kelam. Pengusaha di daerah tingkat dua “nyaris” tidak percaya pada induk organisasi di provinsi. Organisasi ini “bagai kerakap di atas batu”. 

Kabut hitam menghiasi pengurus Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Aceh. Pengurus didominasi keluarga pimpinan. Mulai dari abang, anak, keponakan, ipar, bahkan supirnya ikut meramaikan. Ada 11 daftar nama keluarga yang menjadi bagian pengurus.

Dialeksis.com memiliki catatan sejarah kelam Kadin Aceh priode 2013- 2018. Sejarah hitam itu dikarenakan sikap sang leader, sebagai tampuk pimpinan yang memanfaatkan Kadin bagaikan organisasi keluarga, serta bermuatan politik.

Aksi protes yang dilakukan pengurus lainya, tidak membuat Firmandez yang memegang tampuk pimpinan Kadin Aceh menentukan sikap.Kadin tidak bergairah dan masih tetap mati suri. Program tidak berjalan.

Hingga berahir masa jabatan pengurus 2013-2018, Musyawarah Provinsi (Musprov) tidak dapat dilaksanakan. Bila Musprov diselenggarakan, kourum tidak terpenuhi. Hanya 5 kabupaten/kota yang memenuhi syarat untuk menjadi peserta Musprov ke –V, karena telah ada pengurus defenitif. Selebihnya memegang jabatan sebagai Plt.

Pengurus Kabupaten/kota, bagaikan tak percaya lagi dengan pengurus Provinsi. Mereka tidak menyelenggarakan Musda untuk membentuk pengurus yang defentif. Keadaan ini membuat pengurus Kadin Aceh, harus mengeluarkan jurus demi menyelamatkan organisasi. Mereka meminta Pengurus Kadin pusat untuk menunjuk careteker.

Kegalauan pengurus Provinsi dan mereka yang mencintai Kadin, ahirnya menyelenggarakan beberapa kali pertemuan. Solusi terbaik menurut mereka, harus careteker. Pengurus Kadin Aceh hasil Musprov ke-V sudah habis masa jabatanya pada 17 September 2018.

Sebelum habis masa jabatan, seharusnya Kadin Aceh sudah menyelenggarakan Musprov ke –VI. Namun, bagaimana mau menyelenggarakan Musprov, sementara mereka yang diharapkan memenuhi kourum, sesuai aturan main, justru tidak memenuhi persyaratan.

Kegundahan itu diakui Muhammad Mada, yang kemudian dipercayakan sebagai salah seorang pemegang mandat caretaker Kadin Aceh. “Bagaimana mau menyelenggarakan Musprov, kalau pengurus defenitif hanya 5 kabupaten/kota,” sebut Muhammad Mada.

Di lain sisi, walau pengurus Kadin Aceh melakukan protes atas sikap kepemimpinan Firmandez. Namun keinginan pengurus bertepuk sebelah tangan. Firmandez tetap dengan sikapnya, membiarkan persoalan interen Kadin, bagaikan bola liar “melambung” ke sana kemari.

Mantan ketua Kadin Aceh, M Dahlan, juga menunjukan kegelisahanya terhadap organisasi yang pernah dipimpinnya. Kadin janganlah dimanfaatkan untuk kegiatan politik, dampaknya Kadin ditinggalkan pengusaha, tidak popular lagi dikalangan pemerintah dan masyarakat.

“Pengurus Kadin harus terlepas dari kegiatan politik praktis. Mereka harus mapan, dikenal bersih dalam berusaha dan jujur. Marwah Kadin itu harus dikembalikan, bahwa mereka sebagai wadah untuk membela pengusaha,” sebut M Dahlan.

Dahlan mengakui sangat sedih ketika organisasi yang pernah dikemudikanya, justru ditinggalkan para pengusaha. Para pengusaha lebih memilih asosiasi lain sebagai wadah untuk membela nasibnya.

Ahirnya demi menyelamatkan Kadin, sejumlah pengurus, pengusaha, mengambil alih kantor Kadin Aceh. Dari sanalah mereka menyusun kekuatan, bagaimana agar Kadin Aceh secepatnya diselematkan. Tidak lagi terombang ambing, bagaikan ayam tanpa induk.

Muntasir Hamid, ketua Kadin Banda Aceh yang turut serta bergabung melakukan pengambil alihan kantor Kadin Aceh, sempat memberikan keterangan kepada media tentang upaya yang mereka lakukan.

“Kadin Aceh mau dibawa kemana? Kita harus menyelamatkan Kadin Aceh. Jangan ada lagi dinasti dalam kepengurusan. Kadin itu milik publik, tempat pengusaha bernaung di dalamnya. Kita minta DPP untuk menunjuk caretaker,” sebut Muntasir Hamid, ketika Kadin Aceh benar benar dalam keadaan mati suri.

Ahirnya DPP Kadin mengerluarkan surat pemberhentian pengurus Kadin 2013-2018 dan menunjuk caretaker. Surat tertanggal 31 Desember 2018 itu, menunjuk Teuku Zulham sebagai caretaker ketua Kadin Aceh dan dibantu lima wakil ketua.

Pemegang mandate caretaker ini berupaya, agar marwah Kadin dikembalikan. Seiring dengan proses dan waktu, ahirnya cita cita besar untuk mengembalikan ruh Kadin, mampu diwujudkan. Kadin Aceh menyelenggarakan Musprov ke-VI yang berlangsung 18-20  Juni 2019 ini.

Kejutan terjadi. Menurut Muhammad Mada, ketua SC Musprov Kadin ke- VI, dari lima kandidat pimpinan Kadin ( Said Isa, Makmur Budiman, Nahrawi Noerdin, Azwar Amin, dan Nova Indah Nita) telah mengambil formulir pendaftaran calon Ketua Kadin Aceh. Namun hanya Makmur Budiman yang mengembalikan formulir.

Musprov tetap dilaksanakan. Calon tunggal ketua Kadin Aceh lebih akrab di sapa Toke Makmur, sudah mendapatkan ucapan selamat. Dia dipercayakan mengayuh biduk Kadin Aceh lima tahun ke depan 2019- 2024.

Kepercayaan yang penuh diberikan kepada Makmur, karena dia diyakini hampir seluruh kalangan, mampu menjadi leader yang baik. Mampu membawa perubahan Aceh.

Pengurus Kadin Aceh priode 2019-2024, harus menjadikan sejarah kepengurusan sebelumnya, sebagai cermin yang baik, agar mereka tidak salah arah untuk kedua kalinya. Masa lalu Kadin Aceh yang kelam, tidak harus diulang lagi.

Toke Makmur yang sudah memiliki program jangka pendek dan panjang (Baca: Toke Makmur, Saatnya Sejahtrakan Rakyat Aceh dengan Ekonomi Digital) tidak menjadikan Kadin sebagai organisasi keluarga, seperti pengurus sebelumnya. Tidak menjadikan kadin sebagai warna politik.

Bila itu kembali terjadi, Kadin Aceh tak ubahnya bagaikan keledai. Rasullullah jauh jauh hari sudah mengingatkan ummatnya, janganlah kamu menjadi keledai, masuk dalam lubang yang sama. Publik yakin, Toke Makmur akan memegang amanat memajukan Kadin Aceh.

Publik yakin, Toke Makmur akan mengingat pesan Rasul untuk belajar dari keledai, agar tidak masuk ke lubang yang sama. Pengusaha Aceh, kalangan muda yang ingin menjadi pengusaha, menaruh harapan besar, Kadin Aceh akan membawa perubahan. (baca : Aceh Menaruh Harapan Pada Toke Makmur)

Sejarah kelam perjalanan Kadin Aceh yang sudah membuat pengusaha di negeri paling ujung barat pulau Sumatera ini, bagaikan ayam kehilangan induk, tidak harus diulang lagi. Makmur Budiman akan menjadi driver yang baik, tahu mana tanjakan dan penurunan, serta jalan yang riskan. 

Bila sang nakhoda piawai dalam mengayuh “lancang kuning”, penumpang juga harus seirama. Mereka harus bahu membahu demi kemajuan Aceh. Sudah saatnya Aceh bangkit, mengulang kejayaan yang pernah diukir para pendahulu. Selamat berjuang nakhoda Toke Makmur.

** Bahtiar Gayo**


Editor :
Redaksi

Komentar Anda