DIALEKSIS.COM | Kolom - Siapapun yang menjadi pemimpin, umumnya akan berusaha keras untuk mensejahterakan rakyatnya terutama untuk memenuhi berbagai janji kampanye yang sudah dipaparkan pada masa kampanye sebelumnya, tidak terkecuali para pimpinan daerah yang ada di Aceh. Berbagai upaya terus dilakukan termasuk juga untuk mencari berbagai peluang investasi yang ada di luar negeri.
Pada saat yang bersamaan, berbagai program dari Pemerintah Pusat saat ini khususnya pada Program Makan Bergizi Gratis (MBG) juga merupakan salah satu peluang yang sangat besar apabila hal tersebut mampu ditangkap oleh daerah. Mulai dari penyediaan sarana produksi seperti beras, sayuran, ikan, telur, daging, susu, buah-buahan dan komponen lainnya yang mengandung gizi sesuai dengan yang dipersyaratkan oleh pemerintah. Itu belum lagi berbicara terkait dukungan dalam penyiapan semua proses tersebut, sehingga pemerintah harus menggelontorkan dana sampai ratusan triliyun untuk mewujudkan peningkatan sumber daya manusia Indonesia dalam jangka panjang nantinya.
Banyaknya peluang yang ada didalam negeri dan upaya mencari sumber lain ke luar negeri oleh pimpinan daerah termasuk Gubernur Aceh Muzakir Manaf (Mualem) perlu mendapat dukungan dari berbagai komponen masyarakat, dunia usaha, dan seluruh stakeholder. Walau demikian, kita juga harus cerdas melihat peluang investasi yang ada disekitar kita. Jangan sampai para investor yang datang ke Aceh, kita yang ada di Aceh ini hanya menjadi penonton melihat awak lua nanggroe bekerja dan berkarya di Aceh.
Kita dari sekarang harus bisa mempersiapkan diri agar mampu bersaing dan mampu memenuhi berbagai program pemerintah sehingga kita bisa ikut berperan serta dalam mensukseskan program pembangunan sekaligus kita mampu memenuhi kebutuhan hidup masing-masing yang pada akhirnya juga mampu mensejahterakan masyarakat Indonesia termasuk Aceh.
Salah satu yang mungkin bisa kita persiapkan adalah bagaimana memenuhi berbagai kebutuhan untuk MBG khususnya yang ada di Aceh. Kita coba kupas satu persatu, dimulai dari beras. Untuk beras, mungkin Aceh tidak perlu khawatir karena setiap tahun kita mengalami surplus gabah dan surplus beras, sehingga gabah Aceh hampir setiap panen dan setiap tahun selalu dijual ke provinsi tetangga.
Mengutip sumber dari Distanbun Aceh, bahwa luas baku sawah Aceh tahun 2024 adalah seluas 202.553 ha, dengan produktivitas 5,6 ton/ha dan mampu menghasilkan produksi gabah sekitar 1.659.966 ton setara dengan 956.278 ton beras. Kebutuhan beras Aceh sebesar 660.064 ton/tahun, dengan demikian Aceh mengalami surplus beras sebesar 296.214 ton. Kondisi ini menunjukkan bahwa untuk menopang kebutuhan beras Aceh, sudah lebih dari cukup dan kita bisa menjual atau mengeskport ke luar daerah.
Kemudian untuk komoditi sayur-sayuran, terutama untuk cabai merah Aceh telah mampu memenuhi kebutuhannya, hanya saja untuk bawang merah dan bawang putih Aceh masih impor dari luar daerah. Ini juga termasuk buah-buahan yang banyak dipasok dari Sumatera Utara, tidak terkecuali juga dengan kebutuhan telur ayam dan susu. Sedangkan untuk kebutuhan ikan dan daging, Aceh masih mampu memenuhi dari sumber daya yang ada di Aceh.
Kebutuhan sayur dan buah-buahan yang masih dipasok dari luar daerah terutama Sumatera Utara dan sentra produksi sayur dan buah di Aceh umumnya adalah dari Aceh Tengah, Bener Meriah, Aceh Besar dan sebagian kecil kabupaten lainnya belum mampu mencukupi kebutuhan secara Aceh. Ini sebenarnya salah satu peluang, bila masyarakat dan dunia usaha mau turun dan terjun pada sektor ini. Dikhawatirkan bila program MBG ini semakin meluas dilaksanakan di seluruh Indonesia secara serentak, maka dikhawatirkan seluruh daerah tidak akan mampu untuk mensuplai keluar daerah karena masing-masing daerah akan memenuhi kebutuhannya sendiri. Bisa-bisa jangankan untuk kebutuhan suplai MBG, suatu saat bila tidak ada peternakan ayam petelur yang memadai di Aceh, untuk makan martabak telur saja di warung kopi Aceh, bisa terancam suatu saat. Karena suplai telur akan tertahan dengan alasan, suplai untuk Sumatera Utara belum semua tercukupi. Ini artinya, hal positif dari MBG adalah bagaimana membuat semua daerah untuk bisa lebih mandiri dari sebelumnya. Terlepas dari berbagai kekurangan dalam implementasi MBG selama ini yang sudah berjalan.
Untuk itu perlu adanya reorientasi program pada setiap level kebijakan di kabupaten dan provinsi. Sudah seharusnya eksekutif terutama instansi terkait bersama DPRA/DPRK melihat ini sebagai salah satu peluang dalam menghidupkan dan menggerakkan ekonomi rakyat. Perencanaa dan implementasi program perlu ditata ulang kembali untuk mampu memenuhi kebutuhan program pemerintah yang berujung pada lancarnya distribusi pasokan bahan pangan, uang lancar beredar dipasar, daya beli masyarakat bisa meningkat, sehingga juga akan mampu menekan inflasi yang pada akhirnya mampu meningkatkan pertumbuhan ekonomi dan pendapatan masyarakat.
Pemerintah provinsi dan kabupaten/kota perlu mendorong dan mengajak dunia usaha lokal dan masyarakat untuk berperan serta dalam memenuhi semua kebutuhan ini karena dari sisi sumberdaya lahan dan sarana produksinya secara umum masih mampu dicover oleh Aceh, pertanyaannya adalah maukan kita ? atau kita hanya mau jadi penonton melihat para investor asing yang bekerja semua untuk Aceh dengan alasan peningkatan investasi.
Padahal sebagian itu mampu dikerjakan oleh anak negeri ini. Hanya saja sumber daya keuangan dalam bentuk APBA dan APBK belum sepenuhnya mengakomodir kebutuhan rakyat dan untuk mendukung program pemerintah pusat yang bisa meningkatkan kesejahteraan rakyat Aceh, disinilah letak perlu reorientasi program dan juga reorientasi penganggaran berbasis kebutuhan dan peningkatan kesejahteraan. Kita harus optimis bahwa Aceh mampu melakukan dan menangkap peluang ini dengan bergandeng tangan, bekerja bersama dan sama-sama bekerja demi kesejahteraan rakyat. Ini adalah tugas kita bersama semua komponen yang ada di Aceh…, wallahualam… [**]
Penulis: Dr. Ir. Azanuddin Kurnia, SP, MP, IPU, ASEAN Eng (Plt. Kadistanbun Aceh dan Ketua Perhimpunan Sarjana Pertanian Indonesia (PISPI) Aceh; Email : azanorlando@gmail.com)