Logo Dialeksis
Beranda / Berita / Nasional / Alasan Orang Sembuh Kembali Terinfeksi Corona, Ini Pendapat Ahli Indonesia

Alasan Orang Sembuh Kembali Terinfeksi Corona, Ini Pendapat Ahli Indonesia

Rabu, 01 April 2020 17:06 WIB

Font: Ukuran: - +


DIALEKSIS.COM | Jakarta - Peneliti Lembaga Biologi Molekuler Eijkman menyatakan orang yang sembuh berpotensi kembali positif Covid-19 akibat terinfeksi virus corona SARS-CoV-2. Peneliti senior LBM Eijkman David Handojo Muljono menduga sisa virus yang tidak terdeteksi memicu terjadinya infeksi ulang.

"Pada pasien itu, mungkin terjadi infeksi ulangan atau sisa-sisa infeksi yang lalu, di mana masih ada keturunan virus-virus. Sementara tubuh masih membersihkan dengan sistem imunnya," ujar David kepada CNNIndonesia.com, Rabu (1/4).

David mengaku informasi ilmiah mengenai seseorang dinyatakan kembali positif Covid-19 belum lengkap. Sehingga dia menyatakan tidak dapat mengambil kesimpulan secara pasti mengenai hal tersebut.

David menambahkan Covid-19 seperti flu. Dia berkata orang yang pernah terkena flu bisa terkena lagi di waktu yang berbeda.

"Atau sisa virus yang lama yang belum habis," ujarnya.

Lebih dari itu, David mengatakan imunitas merupakan faktor penting untuk menyembuhkan infeksi Covid-19 di tengah belum tersedinya vaksin. Namun, dia juga mengingatkan orang yang baru dinyatakan sembuh tidak langsung melakukan rutinitasnya agar imunitas kembali pulih

"Jangan dipaksa kerja dulu, nanti jatuh lagi karena imunitasnya sedang dibangun," ujar David.

David menuturkan virus corona baru yang menyebabkan pandemi global saat ini merupakan virus RNA (ribonucleic acid). Dia berkata virus RNA kerap mengalami hal yang dinamakan quasispecies, populasi berbeda dari induk yang sama akibat mutasi.

Secara sederhana, David mencontohkan quasispecies adalah ketika 30 ribu induk virus RNA bisa memiliki banyak turunan berbeda.

Quasispesies sendiri terjadi akibat tingginya mutasi virus. Hal ini kerap terjadi pada tipe virus RNA, yang kerap salah melakukan replikasi diri. Sehingga tingkat mutasi virus ini tinggi.

"Sedangkan kalau DNA kita ketika mau mengkode gigi, lalu keliru, dia tidak akan menjadi rambut. Kalau keliru ada mekanisme yang namanya proofreading, dianjurkan sendiri oleh DNA polymerase kita. Bakteri ya begitu," ujarnya.

Sebelumnya, Peneliti Senior Pusat Studi Primata IPB, Joko Pamungkas menyatakan virus yang menyerang manusia terdiri dari virus DNA dan RNA. Virus DNA berasal dari manusia, sementara virus RNA berasal dari binatang.

Lebih lanjut, menurut David primer tes polymerase chain reaction (PCR) yang tidak diperbarui setiap pekan bisa menjadi salah satu penyebab orang yang sudah sembuh bisa kembali dianggap positif Covid-19.

Mutasi yang cepat dari virus itu, menurutnya perlu diimbangi dengan pembaruan tes PCR yang digunakan untuk mengetes kasus positif Covid-19. Mutasi virus ini membuat primer RNA lama tidak mengalamai kecocokan. Sedangkan, ketika tes dengan primer baru mengalami kecocokan.

"Jadi bisa saja itu sisa-sisa virus yang di badan itu sudah mulai sehat, tapi dengan  quasispecies itu masih ada, macam-macam," ujar David.

David mengaku memiliki karya ilmiah yang menemukan fakta bahwa virus Covid-19 mengalami mutasi sejak pertama kali diketahui mewabah China pada Desember 2019. Dia berkata virus corona baru mengalami mutasi berantai yang dinamakan genetic drift. (im/CNNIndonesia)

Editor :
Im Dalisah

dalimi
utu lebaran
Komentar Anda
hendri budian