Logo Dialeksis
Beranda / Berita / Nasional / BNPB Catat 207 Bencana Melanda Indonesia

BNPB Catat 207 Bencana Melanda Indonesia

Selasa, 21 Januari 2020 21:30 WIB

Font: Ukuran: - +

Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB Agus Wibowo. Foto: ANTARA FOTO/Aprillio Akbar



DIALEKSIS.COM | Jakarta - Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat 207 kejadian bencana yang terjadi di Indonesia hingga Selasa (21/1).

Kepala Pusat Data Informasi dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Agus Wibowo, mengatakan jenis bencana yang terjadi di Indonesia didominasi bencana hidrometeorologi. Seperti puting beliung dengan total 90 kejadian, banjir 67 kejadian, tanah longsor 45 kejadian, kebakaran hutan dan lahan (karhutla) 3 kejadian dan gelombang pasang/abrasi 2 kejadian.

"Dari total kejadian bencana di Indonesia, jumlah korban meninggal dunia mencapai 82 jiwa. Korban hilang 3 jiwa, luka-luka 83 jiwa dan penduduk yang mengungsi mencapai 803.996 jiwa," jelas Agus dalam keterangannya di Jakarta, Selasa (21/1).

Untuk kerusakan rumah tinggal, BNPB mencatat 11.305 unit. Rinciannya, 3.439 rumah rusak berat, 1.584 rusak sedang dan 6.282 rumah rusak ringan. Adapun fasilitas umum yang mengalami kerusakan mencapai 197 unit, yakni 121 fasilitas pendidikan, 65 fasilitas ibadah dan 11 fasilitas kesehatan. Untuk kantor pemerintahan, terdapat 43 bangunan rusak.

Pakar Agroklimat, Sistem Informasi Geografis (SIG) dan Modelling Sumberdaya Alam IPB, Yon Sugiarto, menjelaskan banyak korban jiwa dalam bencana awal tahun. Namun, dia menekankan hal itu bukan berarti Indonesia tidak siap menghadapi bencana.

"Karena kita telah berupaya mempersiapkan diri menghadapi bencana. Ada ancaman bencana yang dapat diprediksi, sehingga kita bisa siapkan early warning sistem. Ada juga bencana yang memang belum bisa kita prediksi kejadiannya," tutur Yon.

Dari rilis BNPB, lanjut dia, kejadian bencana yang mendominasi adalah angin puting beliung. Hal itu mempertegas puting beliung sebagai fenomena alam yang sulit diprediksi sampai saat ini.

"Karena sangat lokal, terjadi pada wilayah tidak luas dengan waktu kejadian yang cepat hanya hitungan menit," pungkasnya. Dia menambahkan banjir dan tanah longsor sebenarnya lebih mudah diprediksi karena pemicunya ialah curah hujan tinggi. Apalagi, PVMBG telah membuat peta rawan gerakan tanah.

"Namun resolusinya kurang detail, sehingga titik rawan potensi tanah longsor tidak teridentifikasi dengan baik. Saat kejadian curah hujan tinggi yang kemudian memicu terjadinya tanah longsor, seperti banyak tempat di Jawa Barat dan Banten pada awal tahun ini," paparnya. (Im/media indonesia)

Editor :
Im Dalisah

riset-JSI
Komentar Anda