Selasa, 23 Juni 2026
Beranda / Berita / Nasional / Magang di Museum Aceh, Mahasiswa UNESA Kembangkan Dua Inovasi Digital

Magang di Museum Aceh, Mahasiswa UNESA Kembangkan Dua Inovasi Digital

Senin, 22 Juni 2026 18:00 WIB

Font: Ukuran: - +

Mahasiswa Program Studi Teknik Informatika Universitas Negeri Surabaya (UNESA), Waiz Abdullah, berhasil menghadirkan dua inovasi digital selama menjalani program magang selama empat bulan di Museum Aceh. [Foto: Museum Aceh]


DIALEKSIS.COM | Banda Aceh - Mahasiswa Program Studi Teknik Informatika Universitas Negeri Surabaya (UNESA), Waiz Abdullah, berhasil menghadirkan dua inovasi digital selama menjalani program magang selama empat bulan di Museum Aceh.

Kedua inovasi tersebut diperkenalkan dalam presentasi hasil magang yang digelar di Museum Aceh. Sistem yang dikembangkan meliputi aplikasi manajemen perawatan koleksi museum serta teknologi pengenalan aksara Jawi berbasis kecerdasan buatan.

Inovasi pertama berupa Sistem Manajemen Berita Acara Perawatan Koleksi yang dirancang untuk mempermudah proses pencatatan dan dokumentasi kegiatan perawatan artefak. Melalui aplikasi berbasis web ini, data riwayat pemeliharaan koleksi dapat tersimpan lebih rapi, aman, dan mudah ditelusuri kembali saat dibutuhkan.

Selain itu, Waiz juga mengembangkan prototipe sistem pengenalan aksara Arab-Jawi Melayu dengan memanfaatkan teknologi machine learning. Sistem tersebut menggabungkan kemampuan computer vision berbasis deep learning dan Large Language Model (LLM) untuk membantu proses identifikasi huruf secara otomatis.

Menurut Waiz, teknologi tersebut dapat berfungsi sebagai alat bantu awal dalam proses transkripsi naskah kuno sehingga pekerjaan peneliti menjadi lebih efisien.

Kepala Museum Aceh, Arif Arham, mengapresiasi inovasi yang dihasilkan selama program magang tersebut. Ia menilai kedua sistem memiliki potensi besar dalam mendukung pengelolaan data koleksi museum sekaligus membantu penelitian terhadap naskah-naskah bersejarah yang tersimpan di Museum Aceh.

Waiz mengaku memilih Museum Aceh sebagai lokasi magang karena lembaga tersebut memiliki banyak koleksi dan manuskrip bernilai sejarah yang relevan dengan bidang digitalisasi dan pengelolaan data yang sedang dipelajarinya.

Melalui penerapan teknologi digital ini, Museum Aceh diharapkan dapat meningkatkan efisiensi proses pelestarian koleksi serta memperkuat upaya digitalisasi naskah kuno untuk kepentingan penelitian dan edukasi di masa mendatang. [*]

Keyword:


Editor :
Redaksi

riset-JSI
dishes