DIALEKSIS.COM | Jakarta - Sebanyak 1.000 dosis semen beku Sapi Gama disalurkan ke Aceh, Sumatra Utara (Sumut), dan Sumatra Barat (Sumbar) untuk mendukung pemulihan peternakan pascabencana.
Kementerian Pertanian (Kementan) kini menyiapkan strategi lanjutan agar pemanfaatan semen beku Sapi Gama dilakukan secara tepat dan sesuai dengan kondisi peternakan di masing-masing daerah.
Direktur Perbibitan dan Produksi Ternak Kementan, Hary Suhada, mengatakan pengembangan Sapi Gama harus disertai perencanaan dan pendampingan yang terukur.
Menurutnya, pemanfaatan teknologi inseminasi buatan tersebut diharapkan tidak hanya meningkatkan produktivitas ternak, tetapi juga memperkuat populasi sapi pedaging dan mempercepat pemulihan usaha peternakan di daerah terdampak bencana.
"Kami ingin memastikan bahwa inovasi di bidang perbibitan dapat diterapkan secara tepat di lapangan," ujar Hary dalam keterangan resmi yang diterima pada Sabtu (24/10/2026).
Sapi Gama telah ditetapkan sebagai rumpun sapi pedaging baru melalui Keputusan Menteri Pertanian Nomor 840 Tahun 2025. Sapi tersebut merupakan hasil kolaborasi Fakultas Peternakan Universitas Gadjah Mada (UGM) dan PT Widodo Makmur Perkasa.
Dalam pengembangannya, pejantan Sapi Gama terseleksi telah ditempatkan di Balai Inseminasi Buatan (BIB) Lembang untuk mendukung produksi dan distribusi semen beku.
Dari total 1.000 dosis yang disalurkan pada 2026, sebanyak 200 dosis dialokasikan ke Aceh, 300 dosis ke Sumut, dan 500 dosis ke Sumbar.
Kementan bersama pemerintah daerah dan pihak terkait menargetkan peluncuran inseminasi buatan menggunakan semen beku Sapi Gama di Aceh, Sumut, dan Sumbar pada akhir Oktober atau awal November 2026.
Pengembangan Sapi Gama nantinya akan dinilai dari keberhasilan inseminasi, perkembangan keturunan, mutu bibit, serta manfaatnya bagi peternak. Dengan pemantauan yang terukur, Sapi Gama diharapkan mampu meningkatkan produktivitas sapi pedaging sekaligus mendukung pemulihan peternakan pascabencana. [in]
