Minggu, 17 Mei 2026
Beranda / Opini / Menanti Balasan Mojtaba Khamenei

Menanti Balasan Mojtaba Khamenei

Selasa, 10 Maret 2026 09:00 WIB

Font: Ukuran: - +

Penulis :
Nurdin Hasan

Sayyed Mojtaba Hosseini Khamenei Pemimpin Tertinggi Iran. Foto: Kolase Dialeksis


DIALEKSIS.COM | Opini - Publik dunia terkejut, awal pekan ini. Majelis Ahli Iran secara resmi menunjuk Sayyed Mojtaba Hosseini Khamenei sebagai Pemimpin Tertinggi yang baru di negeri para mullah. Pria berusia 56 tahun itu naik ke pucuk pimpinan di tengah duka mendalam. Ayahnya, Ayatollah Ali Khamenei telah wafat akibat pemboman yang dilancarkan Amerika Serikat dan Israel saat memulai perang terhadap Iran pada 28 Februari silam. 

 Kini, beban berat berada di pundak putra kedua sang Ayatollah itu. Siang dan malam, negerinya dibombardir kekuatan Amerika-Israel. Malah, pimpinan kedua negara itu telah bersumpah siapa pun yang ditunjuk sebagai Pemimpin Tertinggi Iran akan dijadikan target pembunuhan.

Namun, Iran bukan negara yang mudah ditundukkan. Serangan balasan rudal dan drone tanpa henti terus menghantam pangkalan-pangkalan militer Amerika di sejumlah negara Teluk dan daerah-daerah pendudukan zionis Israel. Pertahanan Amerika dan Israel jebol dan tak mampu menghadapi gempuran Iran.

Mojtaba lahir di Mashhad pada 1969. Dia tumbuh besar dalam suasana revolusi penuh gejolak. Ayahnya adalah salah seorang tokoh kunci dalam menggulingkan kekuasaan Shah Iran. Masa kecil Mojtaba jauh dari kemewahan publik. Dia dididik dalam tradisi agama yang sangat ketat.

Pendidikan agamanya dimulai di Teheran dan berlanjut ke Qom. Qom adalah pusat intelektual Islam Syiah yang paling berpengaruh. Di sana, ia belajar dari guru-guru besar yang konservatif. Tapi, pendidikan Mojtaba bukan hanya soal kitab suci. Ia juga belajar tentang strategi kekuasaan di balik tembok istana. 

Pengalaman tempurnya terasah saat ia masih remaja. Mojtaba ikut terjun langsung ke garis depan dalam Perang Iran-Irak tahun 1980-an, padahal kala itu ayahnya menjabat presiden. Ia bergabung dengan Korps Garda Revolusi Islam atau IRGC. Pengalaman perang ini membentuk wataknya menjadi sangat keras. Ia merupakan sosok yang sangat percaya pada kekuatan militer.

Selama puluhan tahun Mojtaba dikabarkan menjadi bayangan ayahnya dan sangat jarang muncul di publik. Ia mengelola kantor pusat kekuasaan di Iran. Semua keputusan penting harus melewati tangannya terlebih dahulu. 

Mojtaba boleh dikatakan sebagai penjaga gerbang kekuatan Iran yang sangat setia. Dia juga diketahui sangat dekat dengan para jenderal IRGC dan kalangan ulama. Itu menjadi salah satu pertimbangan utama mengapa Mojtaba ditunjuk sebagai Pemimpin Tertinggi Iran.

Namun, ia juga dituduh sebagai otak di balik penindasan demonstran. Namanya sering dikaitkan dengan tindakan keras terhadap oposisi. Inilah yang membuat sosoknya sangat ditakuti sekaligus disegani. Kini ia tak lagi berada di balik bayangan ayahnya. Dia adalah nahkoda utama di tengah badai yang sangat hebat.

Tantangan yang dihadapi Mojtaba saat ini sungguh luar biasa. Iran sedang berada dalam perang terbuka melawan hegemoni yang ditunjukkan Presiden Amerika Donald Trump bersama Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu. Serangan Amerika dan Israel telah menghancurkan banyak fasilitas penting. 

Bahkan serangan itu merenggut nyawa anggota keluarganya sendiri. Istrinya Zahra Haddad Adel bersama putri mereka yang masih berusia 14 bulan, Zahraa Mohammadi, menjadi korban. Begitu juga beberapa anggota keluarga yang lain tewas dalam serangan hari pertama perang. 

Apalagi pembantaian 175 anak saat Amerika membombardir sekolah dasar perempuan di daerah Minab. Kondisi ini tentu membuat perang melawan teroris zionis Amerika-Israel menjadi sangat personal bagi Mojtaba. Ia harus memimpin negara yang sedang terluka dan marah. Ekonomi Iran juga sedang berada di titik nadir. Sanksi internasional telah mencekik kehidupan rakyat jelata.

Ada pengamat Barat mempersoalkan masalah legitimasi. Ini bisa menjadi duri dalam daging bagi kepemimpinannya. Ada yang mengkritik penunjukan Mojtaba sebagai praktik dinasti. Revolusi 1979 sebenarnya bertujuan menghapus kekuasaan turun-temurun. Tapi kenyataannya kini justru putra sang pemimpin yang berkuasa. 

Hal ini memicu ketegangan di dalam negeri sendiri. Sebagian rakyat Iran mulai mempertanyakan arah masa depan negara mereka. Di sisi lain tekanan dari luar negeri tak kunjung reda. Amerika di bawah Presiden Donald Trump terus menekan dengan serangan militer. Israel juga bersumpah tidak akan membiarkan Iran mengembangkan senjata nuklir.

 Namun, Mojtaba tetap mampu menyeimbangkan banyak kepentingan yang saling bertabrakan. Ia harus bisa menjaga kesetiaan para jenderal Garda Revolusi. Di saat yang sama, ia harus meredam kemarahan rakyat kalau perang terus berlarut. Caranya, Mojtaba harus membalas lebih keras lagi serangan musuh dan menunjukkan kepada rakyatnya bahwa Iran mampu bertahan menghadapi perang ilegal Amerika dan Israel. 

Pilihan kebijakan akan menentukan masa depan Iran dan nasib jutaan rakyatnya. Apakah ia akan jadi pemimpin yang membawa perdamaian? Ataukah ia akan menjadi pemimpin yang membawa Iran ke ambang kehancuran total? Dunia kini boleh jadi sedang menahan napas melihat langkah pertama sang operator bayangan ini. Yang pasti, dukungan militer tetap kuat dan Mojtaba dapat dipastikan akan melanjutkan program nuklir Iran.

Sejarah Iran sedang ditulis ulang dengan tinta darah dan air mata. Mojtaba Khamenei bukan lagi sekadar putra seorang Ayatollah yang telah gugur. Dia kini penentu nasib terakhir bagi Republik Islam Iran. Berbekal pengalaman puluhan tahun di balik layar, ia akan membalas lebih keras atas kematian ayah, istri, putrinya, dan ribuan rakyat Iran.[]

Penulis: Nurdin Hasan | Jurnalis Freelance 

Keyword:


Editor :
Redaksi

riset-JSI