Logo Dialeksis - Masker
Beranda / Opini / Resiliensi dan Covid-19, Aceh Banyak Belajar dari Pengalaman

Resiliensi dan Covid-19, Aceh Banyak Belajar dari Pengalaman

Sabtu, 02 Mei 2020 14:30 WIB

Font: Ukuran: - +


Oleh Irfan Sulfiansyah

Data Kementerian Kesehatan per 1 Mei 2020 pukul 15.45 WIB, sebanyak 10.551 orang positif corona di Indonesia dan 800 orang di antaranya meninggal dunia. Di waktu yang sama, data WHO secara global menyebutkan 3.259.167 orang di seluruh dunia positif corona dan 233.439 meninggal dunia.

Tiga juta terkonfirmasi terinfeksi Covid-19 di seluruh dunia. Ratusan ribu orang meninggal dunia. Hal ini yang membuat WHO menetapkan Covid-19 sebagai pandemi, artinya penyakit menyebar ke semua negara dan menjangkit banyak orang.

Di Indonesia sendiri, Presiden Joko Widodo telah menetapkan wabah corona sebagai bencana nasional pada 13 April 2020 lalu. Artinya, akan ada regulasi tertentu seperti pemenuhan kebutuhan masyarakat, realokasi anggaran dan sebagainya, dalam mengadapi situasi ini.

Menakutkan

Sejak kasus pertama di Indonesia yang diumumkan Presiden bersama Menteri Kesehatan RI di Istana Negara pada Senin 23 April 2020 lalu, masyarakat mulai panik dan terjadi perubahan sosial secara menyeluruh di Indonesia.

Masyarakat mulai menimbun masker, handsanitizer dan bahan pokok. Hal ini yang kemudian membuat barang-barang tersebut langka dan terjadi kenaikan harga secara drastis. Harga masker yang sebelumnya hanya Rp 20 ribuan menjadi Rp 500 ribuan per kotaknya. Begitupun harga kebutuhan pokok dan sebagainya.

Ketakutan pun semakin bertambah kala angka kasus di Indonesia semakin hari semakin meningkat. Lahirlah berbagai aturan mulai dari social distancing (jaga jarak sosial), physical distancing (jaga jarak fisik), wajib pakai masker, Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) dan larangan mudik.

Dalam kondisi ini masyarakat seolah dalam kondisi tertekan. Terlebih mereka para UMKM dan buruh pekerja. Pandemi Covid-19 telah memberanguskan pundi-pundi keuangan dan mengakibatkan lahirnya orang miskin baru di Indonesia. Data terakhir, sudah lebih 2 juta orang pekerja di-PHK dan dirumahkan secara nasional.

Bertahan di tengah pandemi

Dalam dunia psikologi ada yang namanya resiliensi. Mengutip Dictio.id (2018), R-G Reed berpendapat, resiliensi adalah kapasitas atau kemampuan untuk beradaptasi secara positif dalam mengatasi permasalahan hidup yang signifikan.

Selanjutnya, Samuel (dalam Nurinayanti dan Atiudina, 2011: 93) mengatakan resiliensi sebagai kemampuan individu untuk tetap mampu bertahan dan tetap stabil dan sehat secara psikologis setelah melewati peristiwa-peristiwa yang traumatis.

Merangkum pendapat di atas, resiliensi jika dimaknai dalam konteks pandemi Covid-19 adalah kemampuan kita masing-masing dalam menjaga fikiran positif, beradaptasi dan keluar dari masalah tersebut dengan tetap survive atau malah menjadi lebih baik lagi.

Sebagian orang belum mampu bertahan (resiliensi) dalam menghadapi kondisi seperti sekarang ini. Hal itu dikarenakan lebih mengedepankan kekhawatiran dan ketakutan, ketimbang mencarikan solusi terbaik terhadap situasi yang tengah dihadapi saat ini.

Lahirlah peribahasa "Waspada boleh, panik jangan". Kalimat ini yang kemudian mengisayaratkan bahwa kepanikan hanya akan membuat semuanya menjadi tambah rumit. Tidak sedikit pula orang yang menurun imunitas tubuhnya, bahkan sampai kepada jatuh sakit akibat kemampuan memanejemen diri yang tidak tepat di tengah kondisi pandemi seperti sekarang ini.

Aceh Banyak Belajar dari Pengalaman

Dalam konteks ke-Acehan, bencana dan masa sulit merupakan sesuatu yang tidak asing bagi masyarakat bumi Serambi Mekkah ini. Aceh pernah diserang penyakit kolera saat perang melawan Belanda tahun 1873. Bahkan salah seorang Sultan Aceh, Sultan Mahmud Syah meninggal di pengungsian karena wabah, setelah istananya dikuasai Belanda, Acehkini/Kumparan (31/1/2020).

Masih dari sumber yang sama, penyakit kolera ini pertama kali mewabah pada tahun 1817 hingga 1820 yang menyebabkan kematian misterius di banyak negara. Penyakit ini mewabah mulai dari India hingga ke Thailand, Oman, China, Persia, Indonesia hingga ke Eropa melalui perjalanan kapal mereka yang sudah terinveksi.

Selanjutnya, dalam menghadapi masa sulit, Aceh pernah dilanda konflik selama hampir 30 tahun lamanya. Konflik terjadi antara Gerakan Aceh Merdeka (GAM) dan Republik Indonesia (RI) sepanjang 1976-2005. Perdamaian ditandai dengan perjanjian damai MoU Helsinki dengan beberapa kesepakatan hingga lahirnya kekhususan Aceh melalui Undang-undang Pemerintah Aceh (UUPA).

Dalam kurun waktu tersebut, ekonomi dan kehidupan sosial di Aceh sungguh tidak baik-baik saja. Operasi militer, baku tembak dan pembunuhan terjadi di mana-mana hingga menimbulkan banyak korban jiwa.

Selanjutnya, bencana paling dahsyat yang kemudian membuat mata dunia tertuju pada Aceh yakni tsunami pada 2004 lalu. Gelombang besar tersebut menewaskan 167 ribu orang dan memporak porandakan Aceh, Kompas (26/12/2019).

Semua hancur. Kehidupan seperti dimulai kembali pasca tsunami 2004. Aspek sosial dan ekonomi dibugarkan kembali. Hingga saat ini dikenal yang namanya rekonsiliasi (membangun kembali) Aceh dengan lahirnya Badan Rehabilitasi dan Rekonstruksi (BRR), sebuah badan rehabilitasi dan rekonstruksi untuk Aceh dan Nias yang terkena tsunami akibat gempa bumi Samudra Hindia 2004 lalu.

Dari banyaknya pengalaman pahit Aceh dalam menghadapi bencana, hal ini termanifestasikan melalui sikap Aceh dalam menghadapi wabah pandemi Covid-19. Lihat saja, Aceh menjadi provinsi terdepan saat memantau hingga memulangkan mahasiswanya dari Wuhan, daerah yang menjadi sumber pertama virus corona.

Pemerintah Pusat melalui Kementerian Luar Negeri (Kemenlu) RI memberikan apresiasi kepada Pemerintah Aceh atas respon cepat terhadap pemulangan masyarakat dan mahasiswa Aceh di China yang berkaitan dengan virus corona, ANTARA (6/2/2020).

Kemudian di Aceh, betapa gegap gempitanya masyarakat di perkampungan dalam menutup pintu gerbang desa (gampong) dan memberlakukan jaga malam selama pandemi Covid-19. Hingga pada akhirnya Pemerintah Aceh menerapkan jam malam, walau akhirnya aturan itu digugat kembali dan ditiadakan.

Kemudian mengutip Dialeksis.com (29/4/2020), Pemerintah Aceh juga menjadi yang terdepan dalam mempersiapkan 10 ribu paket sembako untuk membantu meringankan beban masyarakat Aceh di Malaysia, saat 1 juta TKI (Tenaga Kerja Indonesia) terjebak lockdown dan terancam kelaparan di sana.

Dari beberapa sikap yang ditunjukkan Aceh dalam menghadapi bencana pandemi Covid-19, hal ini mengisyaratkan bagaimana bumi Serambi Mekkah ini sudah belajar dari banyaknya pengalaman mengahadapi situasi sulit di masa lalu dan teraktualisasikan melalui sikap masyarakat dan pemerintahnya hari ini.

Aceh dianggap tetap survive (mampu bertahan) dengan segala keterbatasan yang ada, dan tahu bagaimana cara berbuat di tengah pandemi Covid-19. Inilah yang kemudian menjadi makna dari resiliensi sesungguhnya.

Data terakhir dari Dinas Kesehatan Aceh per 01 Mei 2020 pukul 15:00 WIB, sebanyak 11 orang positif corona di Aceh dengan catatan lima orang di antaranya sembuh dan sudah dipulangkan.

Hingga saat ini belum diberlakukan PSBB mengingat angka kasus Covid-19 di Aceh masih sangat kecil dan belum memenuhi prasyarat diberlakukannya aturan tersebut.

Kita berharap, semoga ke depan Aceh tetap waspada (terapkan prokol kesehatan) terhadap penyebaran virus corona, tetap survive dangan mengedepankan kemampuan resiliensi dan terpenting adalah menaruh empati terhadap orang lain dengan saling bahu membahu meringankan kesulitan sesama kita dalam menghadapi bencana corona.

Irfan Sulfiansyah, Mahasiswa Prodi Psikologi UIN Ar-Raniry Banda Aceh

Editor :
Sara Masroni

riset-JSI
Komentar Anda