DIALEKSIS.COM | Banda Aceh - Ketua DPRK Banda Aceh, Irwansyah, menyoroti tingginya angka perceraian dan kasus kekerasan seksual terhadap anak di Banda Aceh. Kedua persoalan tersebut dinilai membutuhkan perhatian serius serta keterlibatan berbagai pihak.
Hal itu disampaikan Irwansyah saat berkunjung dan bersilaturahmi ke Mahkamah Syar’iyah Banda Aceh pada akhir bulan September 2026.
Berdasarkan data yang diperolehnya, lebih dari 300 perkara perceraian telah ditangani Mahkamah Syar’iyah Banda Aceh sepanjang Januari-September 2026. Sekitar 80 persen di antaranya merupakan gugatan yang diajukan pihak istri.
Irwansyah menyebut sejumlah faktor yang dominan memicu perceraian, antara lain judi online, masalah ekonomi, suami yang tidak bertanggung jawab, serta kehadiran pihak ketiga dalam rumah tangga.
Ia menilai, kondisi tersebut perlu menjadi perhatian bersama melalui penguatan ketahanan keluarga dan program pencegahan perceraian.
Kasus Kekerasan terhadap Anak Jadi Alarm
Selain perkara perceraian, Irwansyah juga menyoroti sejumlah perkara pidana jinayah yang ditangani Mahkamah Syar’iyah Banda Aceh. Salah satu yang menurutnya sangat memprihatinkan adalah perkara kekerasan seksual terhadap anak.
Ia menyebut terdapat kasus dengan pelaku yang justru berasal dari lingkungan keluarga sendiri, termasuk ayah yang melakukan kekerasan seksual terhadap anak dan kakek terhadap cucunya.
Bahkan, terdapat korban yang masih berusia empat tahun.
“Ini sangat miris. Ada anak yang menjadi korban oleh ayahnya sendiri, ada yang dilakukan oleh kakeknya, dan berbagai kasus lainnya. Semoga ini menjadi alarm bagi kita semua,” ujar Irwansyah.
Menurutnya, berbagai perkara yang masuk ke Mahkamah Syar’iyah Banda Aceh harus menjadi bahan evaluasi dan perhatian bersama, baik terkait ketahanan keluarga maupun perlindungan terhadap anak.
Irwansyah mengajak para orang tua dan keluarga untuk meningkatkan pengawasan serta memberikan perlindungan maksimal kepada anak-anak. Ia juga mengingatkan agar kewaspadaan tidak hanya ditujukan kepada orang asing, tetapi juga terhadap lingkungan sekitar, termasuk orang-orang terdekat.
“Orang-orang terdekat yang seharusnya melindungi anak justru bisa menjadi pihak yang menghancurkan masa depan mereka. Karena itu, kita semua harus lebih waspada dan menjaga anak-anak kita,” tegasnya.[*]