DIALEKSIS.COM | Banda Aceh - Di tengah derasnya arus globalisasi dan tantangan identitas generasi muda, Nilai-nilai peradaban Kesultanan Aceh sebagai fondasi pembangunan karakter dan kepemimpinan terus dihidupkan.
Upaya tersebut diwujudkan melalui Diskusi Publik bertajuk “Refleksi Sejarah Alam Peudeung: Penguatan Karakter dan Kepemimpinan Mahasiswa” yang diselenggarakan oleh TRIDA Advokasi & Riset bersama Program Studi Ilmu Politik FISIP UIN Ar-Raniry Banda Aceh, Kamis (25/6/2026) yang menghadirkan narasumber dari Delfi Sufanda dan Hermansyah dari akademisi Universitas Islam Negeri (UIN) Ar-Raniry Banda Aceh dan Ketua Yayasan Sultan Alaidin Mansyursyah yang juga cucu Sultan Aceh, Tuanku Warul Waliddin.
Dalam forum tersebut, Ketua Yayasan Sultan Alaidin Mansyursyah yang juga cucu Sultan Aceh, Tuanku Warul Waliddin, menegaskan bahwa sejarah Kesultanan Aceh bukan sekadar catatan masa lalu, melainkan sumber nilai yang masih sangat relevan untuk menjawab tantangan zaman.
Menurutnya, Yayasan Sultan Alaidin Mansyursyah hadir bukan semata-mata untuk menjaga warisan sejarah, tetapi juga berkhidmat bagi peradaban dengan menghidupkan kembali nilai-nilai luhur yang pernah menjadi dasar kejayaan Aceh.
“Kesultanan Aceh dibangun di atas fondasi yang kuat, yaitu perpaduan antara sultan, ulama, dan uleebalang sebagai tiga pilar otoritas. Nilai-nilai itu perlu dipahami kembali oleh generasi muda agar mereka memiliki karakter kepemimpinan yang berlandaskan moral, ilmu, dan tanggung jawab,” ujar Tuanku Warul Waliddin dalam paparannya yang dilansir media dialeksis.com.
Ia menjelaskan bahwa salah satu simbol penting dalam perjalanan sejarah Aceh adalah Alam Peudeung, yang menjadi lambang persatuan dan kedaulatan masyarakat Aceh. Alam Peudeung tidak hanya dimaknai sebagai simbol kebesaran kerajaan, tetapi juga sebagai perekat identitas kolektif rakyat Aceh.
Dalam pemaparannya, Tuanku Warul Waliddin menguraikan konsep yang disebutnya sebagai “Cakram Integrasi Identitas Aceh”, yang dirumuskan berdasarkan pesan-pesan dan wasiat para Sultan Aceh.
Konsep tersebut menegaskan lima identitas utama yang menyatukan masyarakat Aceh, yakni satu negeri Aceh, satu bangsa Aceh, satu bahasa Aceh, satu kerajaan Aceh, dan satu agama Islam yang berlandaskan syariat.
“Alam Peudeung mengajarkan bahwa Aceh memiliki identitas yang utuh. Kita adalah satu negeri, satu bangsa, satu bahasa, satu kerajaan, dan satu agama. Inilah yang menjadi kekuatan peradaban Aceh sejak dahulu,” katanya.
Lebih lanjut, ia mengungkapkan bahwa dari 21 pesan dan wasiat Sultan Aceh yang menjadi bahan kajian dalam diskusi tersebut, terdapat lima nilai utama yang dapat dijadikan pedoman hidup bagi generasi muda. Kelima nilai tersebut adalah amanah, berani, disiplin, rajin, dan setia.
Menurutnya, nilai amanah menjadi fondasi utama dalam menjalankan tanggung jawab dan kepemimpinan. Sementara keberanian diperlukan untuk menghadapi tantangan dan mengambil keputusan yang benar.
“Disiplin membentuk keteraturan hidup, rajin melahirkan produktivitas, sedangkan setia menjadi landasan menjaga komitmen terhadap agama, bangsa, dan tanah air,” jelasnya.
Tuanku Warul Waliddin menilai bahwa lima nilai tersebut sangat relevan diterapkan dalam kehidupan mahasiswa yang kelak akan menjadi pemimpin masa depan Aceh.
Di hadapan para peserta diskusi, ia juga menjelaskan bahwa sistem pemerintahan Kesultanan Aceh memiliki fondasi hukum yang jelas dan berlapis. Sumber hukum utama berasal dari Al-Qur’an dan Hadis, kemudian diperkuat dengan qiyas serta ijmak ulama sebagai sumber hukum sekunder.
Selain itu, terdapat pula aspek sosiologis yang mencakup hukum adat, resam, dan qanun yang hidup di tengah masyarakat.
“Kesultanan Aceh sejak dahulu telah menunjukkan bagaimana agama, adat, dan hukum berjalan secara harmonis. Inilah yang menjadi kekuatan tata negara Aceh pada masanya,” ujarnya.
Ia menambahkan, seluruh sistem tersebut berada di bawah panji syariat Islam yang mengikuti ajaran Nabi Muhammad SAW dan berpijak pada paham Ahlussunnah wal Jamaah.
Karena itu, menurutnya, memahami sejarah Aceh bukan sekadar mengenang masa lampau, tetapi juga menggali nilai-nilai yang dapat diterapkan dalam kehidupan modern.
“Warisan terbesar Aceh bukan hanya bangunan atau artefak sejarah, tetapi nilai-nilai peradaban yang mampu membentuk manusia berkarakter. Jika generasi muda mampu menghidupkan kembali nilai amanah, keberanian, disiplin, kerajinan, dan kesetiaan, maka Aceh akan kembali melahirkan pemimpin-pemimpin yang berkualitas,” tutur Tuanku Warul Waliddin.
Melalui kegiatan tersebut, Yayasan Sultan Alaidin Mansyursyah berharap mahasiswa tidak hanya memahami sejarah sebagai ilmu pengetahuan, tetapi juga menjadikannya sebagai sumber inspirasi dalam membangun masa depan Aceh.
“Aceh memiliki sejarah yang besar. Tugas kita hari ini adalah memastikan nilai-nilai kebesaran itu tidak hilang ditelan zaman, tetapi tetap hidup dalam karakter dan kepemimpinan generasi muda,” pungkas Tuanku Warul Waliddin. [nh]
