Minggu, 17 Mei 2026
Beranda / Gaya Hidup / Seni - Budaya / Koleksi Kuningan Museum Aceh: Jejak Tradisi, Status Sosial, dan Makna Sakral Masyarakat Aceh

Koleksi Kuningan Museum Aceh: Jejak Tradisi, Status Sosial, dan Makna Sakral Masyarakat Aceh

Senin, 30 Maret 2026 23:00 WIB

Font: Ukuran: - +

Koleksi Kuningan Museum Aceh: Jejak Tradisi, Status Sosial, dan Makna Sakral Masyarakat Aceh.[Foto: Museum Aceh]


DIALEKSIS.COM | Banda Aceh - Di Museum Aceh, koleksi kuningan tidak sekadar dipajang sebagai benda lama. Ia hadir sebagai penanda hidupnya tradisi masyarakat Aceh. Kilau keemasan pada permukaannya menyimpan jejak keseharian sekaligus sakralitas, karena benda-benda ini dahulu digunakan dalam berbagai ritus adat yang sarat makna.

Sebagai bagian dari koleksi etnografika, kuningan hadir dalam beragam bentuk seperti talam, kendi, ceret, hingga wadah upacara. Benda-benda ini terutama digunakan dalam prosesi adat perkawinan. Dalam tradisi tersebut, kuningan melambangkan kemuliaan, kebersihan, dan penghormatan kepada tamu. Ia digunakan untuk menyajikan hidangan, air basuhan, maupun perlengkapan simbolik yang mengiringi setiap tahapan pernikahan.

Tidak hanya dalam perkawinan, kuningan juga digunakan dalam berbagai upacara adat lain seperti kenduri, peusijuek, serta ritual sosial-keagamaan. Kehadirannya mencerminkan nilai estetika sekaligus status sosial. Pada masa lalu, kepemilikan peralatan kuningan kerap menjadi penanda tingkat kesejahteraan suatu keluarga.

Seiring waktu, fungsi praktis benda-benda kuningan mulai tergeser oleh peralatan modern. Namun di museum, ia justru menemukan makna baru sebagai medium pembelajaran budaya. Melalui konservasi dan penyajian yang tepat, koleksi ini mengajak pengunjung memahami bagaimana benda sederhana dapat menjadi bagian penting dari sistem nilai, identitas, dan tradisi masyarakat.

Dalam konteks koleksi etnografika di Museum Aceh, benda-benda kuningan memiliki ragam bentuk dan fungsi yang terkait erat dengan kehidupan adat, antara lain:

Ceurana

Wadah bertingkat yang digunakan dalam upacara adat, terutama perkawinan. Biasanya berisi sirih, pinang, kapur, dan perlengkapan lain sebagai simbol penghormatan dan komunikasi sosial.

Talam

Nampan besar dari kuningan untuk menyajikan makanan atau hantaran dalam prosesi adat, termasuk kenduri dan pernikahan.

Kendi atau Ie Peunawa

Wadah air yang digunakan dalam prosesi peusijuek atau upacara adat lainnya, melambangkan kesucian dan keberkahan.

Ceret atau teko air

Digunakan untuk menuangkan air dalam berbagai keperluan adat maupun keseharian, sering dipadukan dengan gelas kuningan.

Dulang

Mirip talam, tetapi memiliki fungsi lebih khusus dalam penyajian makanan adat dalam jumlah besar.

Peralatan ranup

Satu set perlengkapan untuk tradisi makan sirih yang memiliki nilai simbolik dalam interaksi sosial masyarakat Aceh. 

Benda-benda ini tidak hanya berfungsi secara praktis, tetapi juga sarat makna simbolik. Kuningan menjadi medium yang menghubungkan estetika, status sosial, dan spiritualitas dalam kehidupan masyarakat.

Kini, ketika benda-benda tersebut tersimpan rapi di museum, fungsinya bergeser dari alat menjadi narasi budaya. Ia tidak lagi sekadar digunakan, tetapi dibaca dan dimaknai. Di sinilah kuningan berbicara sebagai cerita tentang manusia, adat, dan perjalanan budaya yang terus berubah.[*]

Keyword:


Editor :
Indri

riset-JSI