Beranda / Gaya Hidup / Seni - Budaya / Kupiah Meukutop, Kerajinan Tangan dari Pidie Laris Manis di PKA-8

Kupiah Meukutop, Kerajinan Tangan dari Pidie Laris Manis di PKA-8

Minggu, 12 November 2023 19:30 WIB

Font: Ukuran: - +


DIALEKSIS.COM | Banda Aceh - Kupiah Meukeutop kini telah menjadi identitas yang melekat bagi masyarakat Aceh. Sebagian orang bahkan menjadikan kupiah tersebut bagian dari fashion dalam aktivitas sehari-hari.

Kopiah Meukutop yang identik dengan sosok Teuku Umar itu merupakan karya budaya khas masyarakat Pidie. Produksi terbesarnya ada di Desa Garot.

Kupiah ini juga dikenal sebagai kupiah kop atau kupiah dari Tungkop. Salah satu Desa di Pidie yang menjadi sentra industri kupiah meukeutop.

Kerajinan tangan masyarakat inilah yang turut dipamerkan dan menjadi daya tarik pengunjung Pekan Kebudayaan Aceh (PKA)-8 di Anjungan Kabupaten Pidie.

Penjaga anjungan Pidie, Sakdiah mengatakan, kupiah meukutop memiliki motif khas terdiri dari empat warna yaitu merah, kuning, hijau dan hitam. Masing-masing warna itu memiliki filosofi tersendiri.

Merah melambangkan keberanian, kuning simbol kebangsawanan, hijau adalah kemakmuran dan agama, warna hitam simbol kepahlawanan, serta warna putih sebagai simbol kesucian.

Kemudian juga ada motif 4 anak tangga yang mengandung makna tersendiri. Anak tangga pertama bermakna hukum, anak tangga kedua bermakna adat, anak tangga ketiga bermakna qanun, dan tangga keempat bermakna resam.

“Untuk proses pembuatannya sampai dua minggu, karena kupiah meukutop ini murni dibuat dengan tangan dan tanpa mesin,” katanya, Minggu 12 November 2023.

Sakdiah menceritakan, kupiah meukutop diproduksi di Garot lantaran masyarakat di sana rata-tata usahanya kerajinan tangannya adalah membuat kupiah meukeutop.

“Karena memang orang daerah situ yang bisa, walaupun kupiah meukeutop dipakai sama Tengku Umar di Meulaboh, tapi yang buat dari Garot,” ujarnya.

Untuk tetap melestarikan ciri khas ikonik kupiah meukeutop, masyarakat di Pidie saat ini telah memproduksi dalam bentuk ragam variasi. Mulai dari kopiah syam, peci, baju, hingga tas.

Selama perhelatan PKA berlangsung, kata Sakdiah, peci motif kopiah meukutop itu paling banyak dibeli oleh pengunjung. Sementara kopiah meukutop sendiri hanya orang-orang tertentu saja.

“Selama momen PKA, peci paling laris manis. Harganya kita jual 60 ribu, sementara kopiah meukutop sendiri Rp 350 ribu,” tuturnya. 

Keyword:


Editor :
Alfi Nora

riset-JSI
Komentar Anda