Sabtu, 31 Oktober 2026
Beranda / Sumatera Pulih / Dari Tertimbun Lumpur, Siswa SMAN 2 Meureudu Akan Punya Kelas Baru

Dari Tertimbun Lumpur, Siswa SMAN 2 Meureudu Akan Punya Kelas Baru

Sabtu, 31 Oktober 2026 08:30 WIB

Font: Ukuran: - +

Reporter : Redaksi

Gedung baru SMAN 2 Meureudu, Kabupaten Pidie Jaya, Provinsi Aceh terus dikebut Pembangunannya, sehingga para siswa akan kembali nyaman belajar di ruang kelas. Sejumlah pekerja masih menyelesaikan pekerjaan akhir, mulai dari pengecatan hingga perapian bangunan. [Foto: Dok. Tim Media Satgas PRR]


DIALEKSIS.COM | Meureudu - Muhammad Putra Ananda (16) masih mengingat masa ketika lumpur menutupi sekolahnya hingga aktivitas belajar harus berlangsung dalam kondisi darurat. Kini, siswa kelas XI SMAN 2 Meureudu, Kabupaten Pidie Jaya, Provinsi Aceh itu mulai melihat harapan baru seiring pembangunan gedung sekolah yang hampir selesai.

Bagi Putra, bangunan baru bukan sekadar tempat belajar yang lebih nyaman. Pengalaman banjir yang pernah melanda sekolahnya masih menyisakan kekhawatiran, terutama ketika hujan turun dan ia teringat kemungkinan air kembali naik.

Di tengah proses pemulihan tersebut, ruang kelas, perkantoran, laboratorium, hingga perpustakaan di SMAN 2 Meureudu kini telah berdiri. Sejumlah pekerja masih menyelesaikan pekerjaan akhir, mulai dari pengecatan hingga perapian bangunan.

Perubahan sekolah ini menjadi bagian dari upaya pemulihan pendidikan pascabencana di Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat yang dikoordinasikan melalui Satuan Tugas Percepatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi (Satgas PRR) Pascabencana Sumatra.

Ketua Satgas PRR Pascabencana Sumatra, Muhammad Tito Karnavian, mengatakan keberlanjutan kegiatan belajar mengajar menjadi salah satu capaian penting dalam pemulihan pendidikan di wilayah terdampak.

“Meski jumlah sekolah terdampak mencapai ribuan, proses pembelajaran telah kembali berjalan di seluruh sekolah terdampak,” kata Tito dalam Rapat Koordinasi Perkembangan Percepatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi Pascabencana Alam di bidang pendidikan untuk Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat di Posko Satgas PRR, Jakarta, 23 September 2026.

Namun, kembalinya aktivitas belajar belum berarti seluruh persoalan pendidikan selesai. Perbaikan bangunan permanen, pemenuhan sarana pembelajaran, serta pemulihan kondisi psikologis siswa dan tenaga pendidik masih menjadi bagian penting dari proses rehabilitasi dan rekonstruksi.

Dari Sekolah yang Tertimbun Lumpur

SMAN 2 Meureudu merupakan salah satu sekolah yang terdampak parah akibat banjir. Lumpur sempat menutupi kawasan sekolah hingga lebih kurang 2 meter dan merendam berbagai fasilitas pembelajaran.

Kondisi tersebut memaksa kegiatan belajar berlangsung dalam keterbatasan. Sebagian siswa bahkan sempat belajar dengan menggunakan terpal sebagai alas ketika lingkungan sekolah belum dapat difungsikan secara normal.

Kini, kondisi sekolah perlahan berubah. Dari bagian depan, plang nama sekolah masih berdiri, sementara bangunan kantor kembali tegak dengan dominasi warna putih dan abu-abu. Ruang belajar darurat yang sebelumnya digunakan siswa masih terlihat di sekitar kawasan sekolah, berdampingan dengan gedung baru.

Memasuki bagian tengah, sejumlah bangunan beratap seng berwarna merah marun telah berdiri. Pintu dan jendela mulai terpasang, sedangkan para pekerja masih mengerjakan sejumlah bagian akhir konstruksi.

Aktivitas pembangunan terlihat di beberapa titik. Pekerja mengaduk semen, mengangkut material, mengecat dinding, dan merapikan bagian bangunan yang belum selesai.

Secara keseluruhan, ruang kelas, perkantoran, laboratorium, dan perpustakaan telah memperlihatkan bentuknya. Penyelesaian pekerjaan akhir menjadi tahapan penting sebelum fasilitas tersebut dapat dimanfaatkan secara optimal.

Bagi siswa, perubahan itu membawa harapan untuk kembali belajar di lingkungan sekolah yang lebih layak setelah melewati masa darurat pascabanjir.

Ribuan Sekolah Masuk Agenda Pemulihan

Pemulihan SMAN 2 Meureudu sejalan dengan agenda rehabilitasi dan rekonstruksi pendidikan di tiga provinsi terdampak bencana, yakni Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat.

Satgas PRR mencatat sebanyak 4.922 satuan pendidikan terdampak menjadi sasaran penanganan pemerintah. Perbaikan dilakukan secara bertahap dengan mempertimbangkan kondisi kerusakan, akses menuju lokasi, ketersediaan material, kondisi geografis, serta potensi bencana susulan.

Dalam data dukungan pendidikan hingga September 2026, anggaran sebesar Rp5,6 triliun disiapkan untuk mendukung pemulihan sekolah terdampak di tiga provinsi tersebut.

Sementara itu, Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) mencatat bantuan revitalisasi senilai Rp3,03 triliun telah dialokasikan bagi 3.132 sekolah yang menandatangani perjanjian kerja sama. Dari jumlah tersebut, Rp2,63 triliun telah masuk ke rekening sekolah.

Angka tersebut menunjukkan bahwa pemulihan pendidikan tidak hanya bergantung pada pembangunan fisik, tetapi juga pada penyaluran pendanaan dan kemampuan setiap satuan pendidikan melaksanakan pekerjaan sesuai kebutuhan.

Muhammad Putra Ananda (16), siswa kelas XI SMAN 2 Meureudu, Kabupaten Pidie Jaya, Provinsi Aceh berharap bangunan baru sekolahnya bukan sekadar tempat belajar yang lebih nyaman, tapi juga aman. [Foto: Dok. Tim Media Satgas PRR]

Renduk: Membangun Kembali dengan Lebih Aman

Arah pemulihan tersebut juga tercantum dalam Rencana Induk Percepatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi Pascabencana Alam (Renduk PRRP) Sumatra 2026-2028.

Renduk menempatkan pendidikan sebagai bagian penting dari pemulihan sosial pascabencana. Intervensinya mencakup rehabilitasi dan rekonstruksi fasilitas pendidikan, kesinambungan kegiatan belajar, pemenuhan perlengkapan sekolah, serta dukungan bagi peserta didik dan tenaga pendidik yang terdampak.

Pembangunan kembali sekolah juga diarahkan agar lebih tangguh menghadapi risiko bencana. Untuk satuan pendidikan yang mengalami kerusakan berat atau berada di kawasan berbahaya, penanganan dapat mencakup pembangunan unit sekolah baru, penguatan struktur, hingga relokasi apabila kondisi lokasi tidak lagi aman.

Ketua Pengarah Satgasnas PRR sekaligus Menko PMK, Sugiono, menegaskan pembangunan kembali harus memperhatikan aspek keamanan, keberlanjutan serta potensi risiko bencana di masa depan.

“Saya juga perlu menegaskan bahwa arah rehabilitasi dan rekonstruksi pascabencana harus jelas. Kita harus membangun kembali dengan lebih baik, lebih aman, dan lebih berkelanjutan. Prinsip inilah yang harus menjadi pegangan kita dalam melaksanakan rehabilitasi dan rekonstruksi,” kata Sugiono, Senin (26/10/2026).

Selain pembangunan fisik, Renduk mendorong penguatan Program Satuan Pendidikan Aman Bencana (SPAB). Program ini diarahkan untuk meningkatkan kesiapsiagaan sekolah dalam menghadapi ancaman bencana, sehingga kegiatan pendidikan dapat berlangsung lebih aman dan berkelanjutan.

Dengan pendekatan tersebut, pembangunan kembali sekolah tidak semata-mata mengembalikan kondisi sebelum bencana. Rekonstruksi juga perlu memperhitungkan risiko di lokasi sekolah dan kebutuhan perlindungan warga satuan pendidikan.

Pemulihan Tidak Berhenti pada Bangunan

Aspek lain yang menjadi perhatian adalah pemulihan psikososial siswa dan tenaga pendidik. Dalam Renduk, dukungan pendidikan tidak hanya berkaitan dengan gedung dan perlengkapan, tetapi juga pendampingan bagi warga sekolah yang mengalami dampak bencana.

Pelatihan kesiapsiagaan, dukungan psikososial, bantuan operasional pendidikan darurat, serta pemenuhan sarana belajar menjadi bagian dari upaya menjaga agar proses pendidikan tetap berjalan selama masa transisi.

Bagi siswa seperti Putra, kebutuhan itu terasa dekat dengan pengalaman sehari-hari. Gedung sekolah yang kembali berdiri memberikan harapan, tetapi pengalaman banjir masih dapat memunculkan kekhawatiran ketika hujan turun.

Karena itu, penyelesaian pembangunan SMAN 2 Meureudu diharapkan berjalan beriringan dengan upaya menciptakan lingkungan belajar yang aman, mendukung pemulihan psikologis, dan meningkatkan kesiapsiagaan menghadapi bencana.

Keberhasilan pemulihan pendidikan bukan hanya ditentukan oleh berapa banyak gedung yang selesai dibangun. Ukurannya juga terletak pada kemampuan siswa kembali belajar dengan tenang, guru menjalankan tugas secara optimal, dan sekolah memiliki kesiapan yang lebih baik menghadapi risiko bencana berikutnya. [*]

Keyword:


Editor :
Redaksi

riset-JSI