Logo Dialeksis
Beranda / Tajuk / Derita Si Miskin dan Suara Hati Anda

Derita Si Miskin dan Suara Hati Anda

Minggu, 01 Maret 2020 12:32 WIB

Font: Ukuran: - +

foto.kompas.com/masriadi

Semua manusia tidak ingin terlahir sebagai orang miskin. Semuanya ingin hidup makmur, berkecupan, hidup dalam kedamaian, serba nyaman, tidak ada duka dan air mata. Namun bila semua manusia hidup berkecupan, mewah, pertanda usia manusia tidak lama lagi di bumi.

Bila tidak ada manusia yang ekonominya menengah ke bawah, siapa yang akan beraktifitas memenuhi kebutuhan hidup manusia? Tuhan sudah menakdirkan hidup manusia ada si kaya diantara miskin. Tanpa mereka yang ekonominya menengah ke bawah, kehidupan ini tidak akan berputar.

Mereka yang tergolong kaya tidak akan mampu menjalani kehidupan ini, bila tidak ada manusia menengah ke bawah. Si kaya kebutuhan hidupnya ditopang oleh menengah ke bawah, lantas bagaimana dengan si kaya, apakah dia juga akan memperhatikan si miskin di sekitarnya? Sadarkah mereka tanpa si miskin mereka tidak bisa hidup?

Membantu mereka yang ditakdirkan Tuhan sebagai orang miskin, bukan hanya tanggungjawab pemerintah semata. Bila si kaya menyadari, dia bisa menikmati kehidupan karena ada andil si miskin, dia harus membebaskan saudaranya yang miskin, agar hidupnya lebih baik.

Lihatlah negeri Aceh, sebuah wilayah ujung barat Sumatra, masyarakat yang tergolong miskin di sana, pada September 2019 masih ada 810 ribu orang (15,01 persen). Angka ini senantiasa mengalami penurunan dari priode sebelumnya (15,68 persen pada Maret 2018).

Untuk memperkecil kemiskinan itu bukanlah semudah membalik telapak tangan. Harus ada proses, ada tahapan yang harus dilalui. Semuanya membutuhkan waktu. Namun angka kemiskinan ini akan cepat turunya, bila andil si kaya juga turut membantu (itu juga bila si kaya memiliki hari nurani, bahwa perputaran hidupnya turut ditentukan oleh mereka yang miskin).

Untuk memperkecil angka kemiskinan pada priode pemerintah Aceh 2017-2022 ada 15 program yang diharapkan mampu memperbaiki keadaan.

Diantara program itu; Aceh teuga dan Aceh hebat. Aceh Seujahtera (JKA plus). Aceh carong, Aceh energy, Aceh meugoe dan meulaot. Aceh troe , Aceh kreatif, Aceh kaya, Aceh peumulia, Aceh dame, Aceh mueadab, Aceh Sueniya, Aceh Seumeugot dan sejumlah program lainya.

Program itu bagaikan satu kesatuan yang tidak terpisahkan, karena langsung bersentuhan dengan hidup manusia. Pemda Aceh berupaya mengurangi angka kemiskinan dan berharap rakyatnya sejahtera dengan sejumlah program unggulan.

Diantara 15 program unggulan Pemda Aceh ini, ada penyedian 10.000 unit rumah layak huni. Targetnya pada tahun 2022 selesai dikerjakan.Dimana hingga tahun 2019 sudah terealisasi 4.006 unit rumah.

Demikian dengan sejumlah upaya lainya untuk mengurangi angka kemiskinan, seperti menyediakan listrik, sarana air bersih, bantuan sumber usaha, membangun manusianya (SDM) dan program unggulan lainya.

Tekad dan semangat masyarakat sendiri untuk membebaskan dirinya dari prediket miskin, juga sangat menentukan upaya memperkecil angka kemiskinan di Aceh. Selain itu, hati nurani si kaya dalam melihat saudara di sekitar mereka ( memberi pancing, bukan umpan) juga tak kalah pentingnya.

Membangun masyarakat dalam sebuah negeri bila hanya mengandalkan kekuatan pemerintah, bukan membutuhkan waktu dalam sebuah proses, namun tdak semuanya mampu dipenuhi oleh pemerintah. Namun bila semua pihak mau terlibat dan serius membantu, tantangan itu akan terasa ringan.

Apakah mengurangi angka kemiskinan, khususnya memperbaiki nasib saudara saudara di sekitar kita, semuanya harus menjadi tanggungjawab pemerintah? Apakah mereka yang hidupnya mapan, berkecukupan, bahkan lebih (kaya) tidak memiliki tanggungjawab untuk mengangkat saudaranya dari lembah penderitaan?

Membiarkan mereka dan hanya mengandalkan pemerintah, apakah tidak melanggar fitrah kita sebagai manusia yang punya hati nurani. Bukankah kita hidup bagaikan satu tubuh dalam satu nyawa?

Bila ujung kaki yang sakit, maka akan terasa sampai ke ubun ubun kepala. Pemerintah berkewajiban membebaskan rakyatnya dari kemiskinan. Namun bagaimana dengan mereka yang tergolong berada? Apakah dalam harta mereka ada hak orang lain di sana?



Editor :
Redaksi

riset-JSI
Komentar Anda