Logo Dialeksis
Beranda / Tajuk / Jihad Petugas Medis

Jihad Petugas Medis

Kamis, 26 Maret 2020 20:02 WIB

Font: Ukuran: - +

foto ilustrasi

Ketika Anda mengetahui ada ancaman maut, sudah pasti Anda burapaya menghindarinya. Anda tidak mau bersentuhan denganya. Namun, ada manusia justru ketika manusia lain berupaya menghindarinya, mereka justru senantiasa bersentuhan dengan sumber maut.

Mereka tidak punya nyawa lebih. Nyawa mereka satu, sama seperti manusia lainya. Mereka tidak kebal dan tidak ada jaminan bahwa mereka akan terbebas dari ancaman maut. Namun setiap saat mereka harus “berperang”, demi menyembuhkan orang lain.

Profesi telah menuntut mereka untuk ihlas. Walau dalam melaksanakan tugas, bayang bayang maut senantiasa mengintai. Demi kesembuhan orang lain mereka tak kenal lelah, tidak ada istilah harus takut. Walau hati kecil mereka ada perasaan takut, karena mereka juga manusia.

Pandemi corona telah membuat petugas medis senantiasa bersentuhan dengan peluang maut. Dalam melayani pasien yang sudah terkena Covid- 19, petugas medis sangat rentan untuk tertular. Petugas medis faham benar, mereka jadi incaran maut.

Namun mereka tidak pernah surut untuk menolong orang lain. Bahkan ada satu kepuasan, bila mereka mampu membebaskan pasienya dari bayang-bayang maut. Ketika pasien kembali ke kediamanya dengan selamat, rasa haru dan bahagia menghiasi relung hati mereka.

Ketika virus itu menyerang mereka, sebagai tenaga medis mereka juga harus ihlas. Karena itu bentuk dari konsekwensi tugas yang diemban. Tidak ada tenaga medis yang mengutarakan  penyesalanya ketika menolong orang lain, walau nyawa mereka terancam.

Tugas yang suci dan mulia diemban. Ketika manusia lain berusaha menghindari, namun mereka senantiasa bersentuhan dengan sumber virus. Mereka harus meninggalkan keluarga yang butuh perhatian. 

Apa yang ada dalam benak Anda, ketika pihak Rumah Sakit Zainal Abidin (RSUZA) telah mengisolasi sejumlah tenaga medis? Manusia yang senantiasa bersentuhan dengan pasien terkena virus corona.

Dokter dan perawat yang menangani langsung pasien positif terjangkit virus corona ini, sudah didata sebelumnya. Pihak RSU sudah mengkarantinakan 14 tenaga medis yang menangani pasien positif corona, sebut Dr.Azharuddin, direktur RSUZA.

Pihak RSUZA tidak menyebutkan tentang status 14 petugas medisnya. Sebagai manusia, hati kita terenyuh. Mereka mengihlaskan diri mereka demi menyembuhkan orang lain. Apalagi selama ini sudah ada kabar, tenaga medis ada yang gugur sebagai kesuma bangsa.

Tenaga medis bekerja siang dan malam. Mereka seperti melupakan diri sendiri yang juga butuh perhatian. Namun karena tuntutan tugas, mereka mengabaikan kepentingan pribadi. Walau dalam benak mereka terbayang keluarga, teringat orang orang dekat.

Di Jakarta, menurut data Selasa (23/3/2020) ada 50 tenaga medis yang positif terkena virus corona. Belum lagi daerah lainya di bumi pertiwi ini. Ada diantara mereka yang sudah gugur sebagai pahlawan demi menolong manusia lain.

Di China, menurut Kompas.com, 1.716 tenaga medis positif terkena covid. Justru yang lebih banyak tenaga medis terpapar corona di negara Itali. Di negara menara Pisa ini, 4.826 tenaga medisnya terjangkit corona. Belasan dari tenaga kesehatan ini meninggal dunia.

Mereka mengobati orang lain, tidak ada jaminan mereka bebas dari serangan corona. Dalam menghadapi Covid-19, Organisasi Kesehatan Dunia (World Health Organization/WHO) meminta semua negara untuk melindungi dan memprioritaskan para petugas medis dalam menghadapi bahaya wabah.

“Semua negara harus memprioritaskan melindungi petugas kesehatan,” ujar Direktur Jenderal WHO Tedros Adhanom Ghebreyesus . Petugas medis termasuk orang yang paling berisiko terkena virus ini, karena setiap hari berhubungan dengan pasien yang terinfeksi virus corona.

Selain petugas medis, WHO juga meminta semua negara melibatkan masyarakat, untuk melindungi orang-orang yang paling berisiko terkena penyakit parah, terutama orang tua dan orang-orang dengan kondisi kesehatan kurang baik.

Petugas medis juga manusia, sama seperti pasien. Mereka punya keluarga, punya kerabat. Bathin mereka berperang saat melaksanakan tugas ditengah amukan wabah ini. Namun sebagai manusia yang sudah dinobatkan mengurus si sakit, mereka harus ihlas menjalaninya.

Sebagai warga negara, saat wabah ini melanda, kita jangan mengorbankan diri. Melanggar himbauan yang sudah dianjurkan. Ketika larangan itu dilanggar dan terjangkit virus, bukan hanya kita yang menjadi korban. Namun kita mengorbankan orang lain yang mengurus kita.

Jangan tambah beban untuk tenaga medis. Karena demi menyelamatkan pasien, mereka sendiri terancam menjadi korban. Sebisa mungkin hindarilah, sayangilah diri Anda. Sayang- lah tenaga medis, karena mereka juga manusia, sama seperti Anda.

Sayangilah petugas medis. Mereka mengorbankan dirinya, mengorbankan perasaanya, mengorbankan kepentingan keluarganya, semuanya demi pasien. Nyawa mereka taruhanya.

Semoga wabah ini cepat berahir, tidak ada lagi daftar musibah. Tidak ada lagi tenaga medis yang ikut menjadi korban.

Editor :
Redaksi

riset-JSI
Komentar Anda