Senin, 18 Mei 2026
Beranda / Berita / Aceh / Perpustakaan Museum Aceh Catat 3.633 Pengunjung Sepanjang 2025

Perpustakaan Museum Aceh Catat 3.633 Pengunjung Sepanjang 2025

Selasa, 28 April 2026 16:30 WIB

Font: Ukuran: - +

Dari sisi komposisi, pelajar masih mendominasi kunjungan ke Perpustakaan Museum Aceh. Siswa sekolah dasar menjadi kelompok terbesar dengan 1.040 orang, disusul siswa SMP sebanyak 915 orang, dan mahasiswa 771 orang. [Foto: Humas Museum Aceh]


DIALEKSIS.COM | Banda Aceh - Perpustakaan Museum Aceh terus menunjukkan perannya sebagai ruang literasi berbasis budaya yang diminati masyarakat. Pada tahun 2025 hingga triwulan pertama 2026, tingkat kunjungan relatif stabil dengan beberapa periode lonjakan signifikan.

Sepanjang 2025, total kunjungan tercatat mencapai 3.633 orang. Lonjakan tertinggi terjadi pada Februari sebanyak 922 pengunjung dan Oktober sebanyak 853 pengunjung. Kedua bulan ini dinilai bertepatan dengan momen libur sekolah serta kegiatan studi lapangan dari berbagai institusi pendidikan. Sebaliknya, penurunan tajam terlihat pada Maret dan Agustus, masing-masing hanya 51 dan 23 pengunjung.

Dari sisi komposisi, pelajar masih mendominasi kunjungan. Siswa sekolah dasar menjadi kelompok terbesar dengan 1.040 orang, disusul siswa SMP sebanyak 915 orang, dan mahasiswa 771 orang. Kehadiran pengunjung asing juga tercatat meski dalam jumlah terbatas, yakni 21 orang sepanjang tahun.

Memasuki 2026, tren awal menunjukkan peningkatan yang cukup menjanjikan. Pada Januari, jumlah kunjungan mencapai 686 orang, meningkat dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Februari mencatat 445 pengunjung, sementara Maret mengalami penurunan menjadi 69 orang. Secara total, triwulan pertama 2026 telah mencatat 1.200 kunjungan.

Pustakawan Perpustakaan Museum Aceh, Zurny, mengatakan bahwa fluktuasi jumlah pengunjung merupakan hal yang wajar dan sangat dipengaruhi oleh kalender pendidikan.

“Puncak kunjungan biasanya terjadi saat libur sekolah atau ketika ada kegiatan belajar di luar kelas. Sementara pada masa transisi semester, kunjungan cenderung menurun. Ini menjadi perhatian kami untuk menghadirkan program yang lebih menarik di periode tersebut,” ujarnya.

Ia menambahkan bahwa perpustakaan terus berupaya meningkatkan kualitas layanan agar tetap relevan bagi berbagai kalangan.

“Kami ingin perpustakaan ini bukan hanya tempat membaca, tetapi juga ruang interaksi, diskusi, dan penguatan literasi budaya Aceh. Karena itu, kami terus melakukan pembenahan koleksi dan menghadirkan kegiatan yang edukatif,” tambah Zurny yang dilansir pada Selasa (28/4/2026).

Sejumlah langkah strategis telah disiapkan untuk menjaga konsistensi kunjungan. Di antaranya penguatan koleksi buku sejarah dan budaya Aceh, penyelenggaraan program edukasi serta peningkatan kemitraan dengan sekolah. Selain itu, promosi digital juga akan dioptimalkan.

Perpustakaan Museum Aceh terbuka untuk umum pada hari kerja dan menyediakan berbagai fasilitas seperti ruang baca, koleksi buku umum dan lokal Aceh, serta area diskusi. Kehadirannya diharapkan dapat terus menjadi sumber inspirasi bagi pelajar, mahasiswa, peneliti, maupun masyarakat luas. [*]

Keyword:


Editor :
Redaksi

riset-JSI