Logo Dialeksis
Beranda / Kolom / Terbuai Corona di Tanah Rencong

Terbuai Corona di Tanah Rencong

Minggu, 02 Agustus 2020 10:30 WIB

Font: Ukuran: - +


MANUSIA yang mendiami pulau ujung barat Sumatra ini sempat dinobatkan “pandai” dalam mengantisipasi perkembangan wabah virus corona. Hingga memasuki new normal, negeri tanah rencong masih masuk dalam zona hijau.

Namun rakyat di Serambi Mekkah ini tidak tahan dengan “gelar” zona hijau. Saat mereka harus berbaur hidup dengan “siluman” corona, justru satu persatu rakyatnya terpapar Covid-19. Penobatan sebagai zona hijau telah “membuai” mereka.

Terlena dalam status aman, kesadaran masyarakat untuk mengikuti protokol kesehatan rendah. Memakai masker misalnya, ada yang mengangapnya aneh. Pusat pusat keramaian di Aceh dijejal manusia yang tidak mematuhi SOP kesehatan menghadapi wabah.

Saat lebaran Idul Adha 1441 H/2020 M, kejutan terjadi. Aceh yang tidak pernah menggores angka mencapai 100 orang terkena virus dalam sehari, justru kini sudah mensejajarkan diri dengan daerah yang “parah” digempur corona.

Kabupaten-kabupaten yang selama ini aman (Aceh Tengah, Aceh Tenggara dan beberapa kabupaten lainya) dinyatakan zona hijau, dalam sekejab berubah. Hingga berita ini diturunkan, Minggu (02/08/2020) hanya tiga kabupaten lagi yang belum dinyatakan positif corona.

Masih ada keyakinan sebagian masyarakat yang menyebutkan corona itu hoax atau sebagai proyek. Mereka yang meninggal akibat serangan corona juga menunjukan angka peningkatan. Di bumi pertiwi sudah lebih 5.000 jiwa yang melayang. Di Aceh hingga Minggu sore (02/08/2020) sudah 15 tercatat meninggal dunia akibat serangan corona. 

Serangan corona tidak mengenal status pangkat, jabatan, strata sosial. Semuanya berpeluang dirasuki. Banyak yang terkejut, seperti tidak percaya ketika ulama kharismatik Aceh, Teungku Haji Hasanoel Bashry yang lebih dikenal dengan panggilan Abu Mudi dinyatakan positif corona.

Ini bukan hoax. Abu Mudi setelah dinyatakan sembuh memberikan keterangan dalam sebuah cannel youtube miliklnya, bagaimana rasanya dirasuki virus corona. Abu Mudi merasakan, gejala lemah, pusing dan penurunan nafsu makan.

Dia menjalani perawatan medis di RSUZA dengan penuh kesabaran dan yakin Allah memberikan cobaan, akan menurunkan penawarnya. Ahirnya ulama kharismatik ini dinyatakan sembuh.

Demikian dengan dokter di RSU Muyang Kute Bener Meriah, dr Insan Sarami Artanoga. Dia dinyatakan posotif corona. Kemudian dokter ini menulis surat terbuka yang menjadi viral di media. Dokter Insan meminta, agar cukup mereka yang terkena Covid-19.

Insan Sarami mengurai kata, ketika mengalami sakit seperti sesak dan gagal napas, akibat serangan Covid-19 ini, maka yang akan terbayang kematian, siksaan alam kubur, atau tentang amalan amalan yang telah dilakukan belum begitu lengkap.

Dokter spesialis Muyang Kute ini minta dilakukan tes swab dan menyampaikan kepada rekan-rekanya agar juga dilakukan tes swab. Walau dirinya merasa sehat, tidak ada gejala atau tanda tanda digempur Covid-19. Direktur RSU Muyang Kute menyetujui dilakukan tes swab. Hasilnya positif, mereka menambah daftar tenaga medis yang dinyatakan positif corona.

Di Bumi Pertiwi cukup banyak sudah pejabat dari berbagai kalangan yang dinyatakan positif corono. Semoga di Aceh tidak ada pejabat yang menambah daftar nama terkena serangan corona. Walau semuanya berpeluang terkena dan berpeluang selamat dari serangan virus ini.

Namun melihat Aceh yang sudah berubah bukan lagi zona aman, kini angka-angka positif corona sangat mengejutkan, wabah ini berpeluang akan merajalela kemana saja. Semuanya akan dihinggapi corona, bila tidak diantisipasi dengan segenap kemampuan.

Corona Menyebar di Bumi Aceh

Lihatlah hingga Minggu 02/08/2020, daftar daerah yang sudah masuk dalam perangkap corona. Hanya tiga kabupaten lagi yang belum dinyatakan positif. Kabupaten Aceh Singkil, Kabupaten Nagan Raya, dan Kabupaten Pidie Jaya.

Sampai kapan tiga kabupaten ini akan mempertahankan gelarnya sebagai zona hijau? Sementara tetangga sudah menoreh sejarah terkena wabah. Semoga tiga kabupaten ini mampu menghalau corona dan mempertahankan gelarnya sebagai zona hijau.

Prediket zona hijau tidak bertahan lama untuk Nagan Raya. Memasuki Minggu (2/8/2020) menjelang siang, lima warga di sana dinyatakan positif corona. 

Menurut Saifullah Abdulgani (SAG), Juru Bicara Gugus Tugas Percepatan Penangan Covid-19 Pemerintah Aceh, hingga Sabtu (1/8/2020) di tanah Rencong, sudah 410 positif corona, 12 diantaranya meninggal dunia. Namun didapat kabar, pada Minggu sore 2/8/2020, sudah 15 yang meninggal dunia.

Dari 410 yang dinyatakan positif corona,  menurut SAG, Banda Aceh berada diurutan teratas (120 orang).Disusul Aceh Besar 79 orang, Bener Meriah ( 34) Aceh Tamiang (33), Bireuen( 21), Lhokseumawe 20, Aceh Barat Daya 19 orang, Aceh selatan (18), dan Aceh Utara sebanyak 11 orang.

Aceh Tengah yang sebelumnya aman, kini sudah sama dengan Kota Langsa,ada 8 orang. Pidie 5 orang, Aceh Barat 4, Aceh Tenggara, Aceh Timur, Simeulue masing-masing 3 orang. Gayo Luwes dan Kota, Sabang ada 2 orang. Aceh Jaya dan Subulussalam masing-masing 1 orang. Ada juga pendatang dari luar daerah (14 orang) dan seorang dari luar negeri.

Melihat daftar yang sudah dirasuki virus corona, wabah itu sudah merayap kemana-mana. Zona hijau sangat sulit mempertahankan diri untuk tetap tidak ada yang positif corona. Wabah yang tak kasat mata ini akan menyerang kawasan hijau.

Aceh sebelumnya dinobatkan sebagai daerah relatif aman corona, namun karena manusia terbuai dengan julukan hijau, banyak rakyatnya lupa diri. Terbuai seakan akan corona tidak merayap di bumi Aceh.

Masyarakatnya sudah melupakan protokol kesehatan. Pusat pusat keramaian di Aceh dibanjiri manusia yang abai akan protokol kesehatan.Melihat keadaan ini, penulis teringat tulisan dengan Bek Pue Pungoe Droe

Semua kita berpeluang selamat dan berpeluang terkena serangan corona. Kalau sekiranya ada diantara kita yang terkena wabah virus ini (mereka tentunya tidak meminta dihinggapi wabah), sudah selayaknya sebagai manusia kita memberikan sugesti kepada mereka, agar kuat dan tabah menghadapi cobaan ini, agar mereka cepat sembuh.

Bukan dikucilkan, dicela. Namun berilah semangat kepada mereka, agar keluar sebagai pemenang dalam menghadapi cobaan Tuhan ini. Mereka tidak meminta terkena wabah. Penulis jadi teringat dengan tulisan “Kalau saya Terkena Covid-19”.

Rakyat Aceh harus kuat, harus mau melawan wabah, karena kita hidup dalam lingkaran wabah.Patuhilah aturan kesehatan, jaga diri dan keluarga dengan baik, semoga tidak ada lagi daftar korban yang terkena serangan siluman yang mematikan ini. (Bahtiar Gayo)


Editor :
Redaksi

riset-JSI
Komentar Anda