Beranda / Berita / Aceh / Bentuk Kader Kesehatan, GEN-A Latih Remaja Olah Barang Bekas Jadi Alat Edukasi

Bentuk Kader Kesehatan, GEN-A Latih Remaja Olah Barang Bekas Jadi Alat Edukasi

Rabu, 14 Februari 2024 17:00 WIB

Font: Ukuran: - +

Reporter : Naufal Habibi

GEN-A gelar pendidikan pengolahan barang bekas menjadi alat edukasi bebas rokok. [Foto: dok. GEN-A for Dialeksis.com]


DIALEKSIS.COM | Banda Aceh - Sebanyak 13 orang remaja (SMP-SMA) di Gampong Jawa mendapatkan pendidikan pengolahan barang bekas menjadi alat edukasi bebas rokok.

Program ini bertujuan membentuk kader promotor kesehatan sebaya dan menjadikan Taman Edukasi Gampong Jawa sebagai pusat pembelajaran untuk penyelesaian isu-isu kesehatan prioritas di Kota Banda oleh remaja setempat sesuai dengan program Youth for Health Impact. 

Direktur Eksekutif GEN-A, Imam Maulana mengatakan menurut Survei Tembakau Pemuda Global 2019 sekitar satu dari sepuluh anak berusia 10-18 tahun di Indonesia adalah perokok dan lebih dari 40 persen pelajar Indonesia berusia 13-15 tahun telah mengkonsumsi produk tembakau. 

Terkait kesehatan mental, Data Indonesia National Adolescent Mental Health Survey (I-NAMHS) 2022 menunjukkan, satu dari tiga remaja yang berusia 10–17 tahun, atau 15,5 juta remaja Indonesia memiliki satu masalah kesehatan mental. 

Jumlah itu setara dengan 34,9 persen dari total remaja di Indonesia. Survei yang dilakukan The Aceh Institute pada tahun 2021 melaporkan bahwa lebih dari 50% siswa di Kota Banda Aceh adalah perokok aktif, dan Provinsi Aceh menduduki peringkat 15 dengan angkat perokok tertinggi di Indonesia. 

“Anggota kader yang kita latih semuanya memiliki anggota keluarga yang merokok, dan 5 dari 8 peserta laki-laki pernah merokok dan 3 diantaranya masih merokok, bahkan yang salah seorangnya masih kelas 2 SMP dan mulai merokok sejak kelas 1 SD. Namun demikian, ada 2 peserta hebat yang telah berhasil berhenti total setelah 2 tahun menjadi perokok. Ini menjadi bukti dan alasan kuat untuk kita agar bergerak menyelesaikan permasalahan rokok ini," kata Imam Maulana selaku Direktur Eksekutif GEN-A kepada Dialeksis.com, Rabu (14/2/2024).

Imam mengatakan remaja adalah target pemasaran rokok karena mudah terpengaruh oleh sesuatu yang baru, unik dan menarik atau selalu mengikuti trend mode, termasuk rokok. 

Beberapa cara menghindari pengaruh untuk merokok seperti hindari berkumpul dengan teman-teman yang sedang merokok, yakinlah bahwa rokok bukan satu-satunya sarana pergaulan, jangan malu mengatakan bahwa diri kita bukan perokok, perbanyak mencari informasi tentang bahaya rokok, hindari sesuatu yang terkait rokok dan lakukan hal-hal positif lainnya seperti olahraga, membaca atau hobi lainnya yang menyehatkan.

Tingkat kematian akibat merokok di Indonesia telah mencapai 57.000 orang pertahun. Namun demikian, konsumsi rokok tetap tinggi dan menjadi masalah adiktif yang sulit diputus mata rantainya. 

“Kami percaya walaupun isu rokok sangatlah sulit diselesaikan, namun setiap upaya kita akan berdampak dan berarti, setidaknya dimulai dari sekitar kita dan adik-adik kita," ujarnya.

Ia berharap anak-anak dapat menjadi pelopor untuk mengedukasi mengajak teman sebaya lainnya dalam pencegahan perokok aktif di kalangan remaja dan mudah-mudahan kegiatan baik ini dapat terus dilanjutkan oleh adik-adik dengan inovasi lainnya dalam menyebarkan pesan-pesan kesehatan.

"Asap rokok yang dihisap baik oleh si perokok dan orang lain yang menghirup asap rokok berdampak pada timbulnya berbagai kondisi kesehatan seperti batuk hingga berdarah, tenggorok gatal, rambut rontok, kerusakan mata, kanker hidung dan saluran nafas, kerusakan gigi pada gigi, pembusukan jari-jari kaki hingga dapat diamputasi," pungkasnya. [nh]

Keyword:


Editor :
Indri

riset-JSI
Komentar Anda