Minggu, 17 Mei 2026
Beranda / Berita / Aceh / Jembatan Hanyut, Warga Reje Payung Linge Aceh Tengah Butuh Jembatan Darurat

Jembatan Hanyut, Warga Reje Payung Linge Aceh Tengah Butuh Jembatan Darurat

Sabtu, 16 Mei 2026 21:00 WIB

Font: Ukuran: - +

Reporter : Naufal Habibi

Jembatan apung yang selama ini menjadi akses utama keluar masuk Desa Reje Payung, Kecamatan Linge, hanyut diterjang arus sungai. [Foto: Dokumen untuk dialeksis.com]


DIALEKSIS.COM | Takengon - Warga Desa Reje Payung, Kecamatan Linge, kini menghadapi kesulitan besar setelah jembatan apung yang selama ini menjadi akses utama keluar masuk desa hanyut diterjang arus sungai. Kondisi itu membuat aktivitas masyarakat lumpuh, termasuk akses para pelajar menuju sekolah.

Jembatan darurat yang sebelumnya dibangun secara swadaya bersama relawan tersebut rusak setelah diterjang derasnya arus sungai beberapa waktu lalu.

Sejak saat itu, warga harus berjibaku menyeberangi sungai tanpa fasilitas yang memadai. Bahkan, sebagian warga terpaksa menunda aktivitas karena tidak berani melintasi sungai yang arusnya cukup deras.

Ketua Panitia Penanganan Bencana Desa Reje Payung, Mulia Rizki, mengatakan masyarakat sudah berulang kali mencoba memperbaiki jembatan tersebut secara gotong royong. Namun keterbatasan bahan dan alat membuat upaya itu belum berhasil.

“Pasca rusaknya jembatan darurat itu, kami sudah sebulan kesulitan menyeberangi sungai. Kami berkali-kali melakukan perbaikan secara gotong royong, tetapi usaha kami terus terkendala karena kekurangan bahan dan alat,” kata Mulia Rizki kepada media dialeksis.com, Sabtu (16/5/2026).

Menurutnya, jembatan apung tersebut bukan sekadar fasilitas biasa, melainkan satu-satunya akses vital masyarakat untuk keluar masuk desa. Tidak hanya warga Desa Reje Payung, para siswa dari lima desa sekitar juga sangat bergantung pada jalur tersebut untuk menuju sekolah.

“Jembatan ini merupakan satu-satunya jalur keluar masuk warga dan jalur siswa-siswi dari lima desa untuk menuju SMA, SMP, dan SD di Desa Reje Payung,” ujarnya.

Ketiadaan jembatan membuat aktivitas pendidikan terganggu. Para pelajar harus mencari jalur alternatif yang lebih jauh dan berisiko, sementara sebagian lainnya memilih tidak berangkat sekolah ketika debit air sungai meningkat.

Selain berdampak pada pendidikan, rusaknya jembatan juga memukul aktivitas ekonomi warga. Hasil pertanian masyarakat sulit dibawa keluar desa, sementara kebutuhan pokok dari luar juga terkendala masuk ke kawasan tersebut.

 Warga berharap pembangunan kembali jembatan apung dapat segera dilakukan agar roda ekonomi kembali bergerak.

Mulia Rizki menjelaskan, kebutuhan material untuk membangun kembali jembatan apung diperkirakan mencapai Rp22.160.000. Dana tersebut akan digunakan untuk membeli berbagai bahan utama, seperti 300 drum biru, tiga gulung kawat licin, besi behel pengikat drum, papan, dan bruti.

“Bahan kebutuhan jembatan yang akan kami beli yakni drum biru 300 buah, kawat licin tiga gulung, besi behel pengikat drum, papan dan bruti. Total kebutuhan mencapai Rp22.160.000,” jelasnya.

Karena keterbatasan anggaran desa dan kemampuan warga, panitia akhirnya membuka donasi bagi masyarakat luas, khususnya warga asal daerah tersebut yang berada di luar kampung halaman.

“Saat ini kami sangat membutuhkan jembatan ini. Kami berharap dengan dibukanya donasi ini, saudara-saudara kami di luar desa bisa membantu memperbaiki kembali jembatan apung ini,” katanya.

Panitia membuka bantuan melalui rekening Pos Panitia Penanganan Penanggulangan Bencana Reje Payung di Bank Syariah Indonesia (BSI) dengan nomor rekening 7346984303 atas nama PMPB Reje Payung.

Mulia menegaskan, bantuan yang diberikan masyarakat akan sangat berarti bagi warga desa yang kini sedang berupaya bangkit dari keterisolasian.

“Bantuan dari saudara kami sangat membantu warga di sini, bukan saja untuk jembatan, tetapi juga untuk memulihkan perekonomian warga,” tutupnya. [nh]

Keyword:


Editor :
Redaksi

riset-JSI