Logo Dialeksis - Masker
Beranda / Berita / Aceh / Prof Farid Terpilih sebagai Ketua MAA, Ini Kata Ampuh Devayan

Prof Farid Terpilih sebagai Ketua MAA, Ini Kata Ampuh Devayan

Sabtu, 28 November 2020 20:00 WIB

Font: Ukuran: - +

Reporter : Alfi Nora
Budayawan Aceh, Ampuh Devayan. [Dok. Panteue]

DIALEKSIS.COM | Banda Aceh - Prof Farid Wajdi Ibrahim terpilih sebagai Ketua Lembaga Majelis Adat Aceh (MAA) periode 2021-2025 mendatang melalui Musyawarah Besar (Mubes) pada Jumat (27/11/2020).

Salah seorang Budayawan Aceh sekaligus Pendiri Komunitas Panteue, Ampuh Devayan mengatakan, kepada ketua yang baru terpilih semoga bisa menjaga dan mengawal urusan adat istiadat Aceh, karena banyak persoalan-persoalan politik budaya yang hari ini sesungguhnya bisa diselesaikan lewat adat istiadat.

"Beliau kita harapkan dapat melakukan hal-hal tersebut, dan inilah yang penting dilakukan oleh seorang profesor yang kapasitasnya sudah cukup untuk menggali hal-hal seperti itu di Aceh. Ini harapan terbesar kita," ujarnya saat dihubungi Dialeksis.com, Sabtu (28/11/2020).

"Majelis Adat Aceh ini menjadikan sebuah parameter bagaimana sesungguhnya adat istiadat dan budaya yang ada di Aceh mampu yang mengakomodir persoalan keadatan. Beliau sebagai seorang akademisi tentunya bisa memahami kondisi masyarakat terkait hal iitu,” tambahnya.

Menurut Ampuh, selama ini persoalan mengenai pelestarian adat dan budaya di Aceh perlu ditingkatkan kembali seperti pernak-pernik daerah, karena selama ini sudah tidak terlihat lagi, tidak mencerminkan bagaimana Aceh itu sebenarnya memiliki multikultur yang seharusnya mampu diakomodir oleh tokoh adat.

“Kita menginginkan adat istiadat itu kembali seperti sediakala, contoh yang dirintis oleh Ibrahim Hasan, ia bisa mengangkat kerawang Aceh sampai ke Asia, bisa memperkenalkan budaya daerahnya, tidak hanya symbol-simbol baju saja, tetapi nilai-nilai adat itu sendiri harus dilestarikan,” ujarnya.

Ampuh berharap, ajang-ajang Pekan Kebudayaan Aceh (PKA) ke depannya dapat mengangkat hal-hal yang lebih khas yang dimiliki oleh Aceh. Dulu Teuku Umar di Meulaboh mampu mengubah semua ornamen, rumah-rumah Aceh, sehingga ketika orang berada di Meulaboh tampak keacehannya dan dapat menjadi identitas orang Aceh.

“Namun, PKA yang hari ini bisa kita lihat adalah PKA itu lebih terkesan dengan pekan kebudayaan kelontong, karena yang dijual malahan ember-ember, barang-barang yang tidak menjadi khas Aceh,” tutur Ampuh.

“Yang bertugas untuk itu adalah lembaga adat, PKA ke depan ini mari kita lihat nanti apakah menjadi entry point bagi sebuah kebangkitan adat istiadat Aceh atau tidak,” tutupnya.

Editor :
Sara Masroni

riset-JSI
Komentar Anda