Beranda / Berita / Kajian Marxian Prof. Purwo Santoso di Masjid Kampus UGM, Simak Isinya!

Kajian Marxian Prof. Purwo Santoso di Masjid Kampus UGM, Simak Isinya!

Senin, 25 Maret 2024 18:00 WIB

Font: Ukuran: - +

Profesor Purwo Santoso, Guru Besar di FISIP Universitas Gajah Mada. Foto: dpp.fisipol.ugm.ac.id


DIALEKSIS.COM | Nasional - Nama Profesor Purwo Santoso, seorang Guru Besar di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Gajah Mada (UGM), tengah menjadi perbincangan hangat di berbagai media sosial.

Hal ini dipicu oleh cuplikan ceramah dalam kajian Ramadan yang disampaikan oleh Profesor Purwo Santoso di Masjid Kampus UGM, yang menyoroti Peran Kebijakan Publik dalam Mewujudkan Keadilan Sosial.

Dalam ceramahnya, Profesor Purwo Santoso mengangkat isu kemiskinan struktural dan mengaitkannya dengan aliran ekonomi kiri Marxian.

Tentu saja, hal ini cukup jarang terjadi, di mana dalam konteks kajian agama, terutama Islam, membahas kemiskinan dari sudut pandang kiri.

Menurut pandangan beliau, pemerintah cenderung memandang kemiskinan sebagai sifat dan karakteristik individu, bukan sebagai hasil dari relasi sosial yang ada.

"Jika kita membicarakan kemiskinan struktural, maka kemiskinan tersebut adalah produk dari struktur kehidupan dan hubungan sosial yang ada," ungkap Profesor Purwo.

Lebih lanjut, beliau menjelaskan bahwa cara masyarakat bertransportasi dan memproduksi serta menjual makanan dapat menjadi sumber ketimpangan.

Dari hubungan yang tidak seimbang ini, kata Profesor Purwo, orang miskin selalu berada dalam posisi yang lemah dan seringkali dikalahkan.

"Analisis mengenai kemiskinan struktural semacam ini lebih disukai oleh penganut Marxisme, karena mereka membagi masyarakat ke dalam kelas-kelas dan mereka yang terpinggirkan selalu mencari cara untuk melawan, termasuk dengan protes dan mengorganisir diri," tambahnya.

Menurut Profesor Purwo, wacana mengenai kemiskinan struktural belakangan ini semakin tidak terdengar lagi, mungkin karena kita cenderung berpikir tidak lagi dalam kerangka pemikiran Marxisme.

"Saya tidak yakin apakah tepat untuk membicarakan Marxisme di dalam masjid kampus. Namun, sebagai suatu wacana dan alat analisis, saya kira hal tersebut masih layak untuk dipertimbangkan," tegasnya.

Dengan lugasnya, Profesor Purwo menyatakan bahwa wacana strukturalis yang berasal dari kelompok-kelompok kiri, dengan metode pemikirannya yang mereka kembangkan, adalah faktor yang membuat wacana tersebut tetap relevan dan solusinya bersifat struktural.

Keyword:


Editor :
Redaksi

Berita Terkait
    riset-JSI
    Komentar Anda