Beranda / Berita / Pria Ini Sukses Jual Skincare dari India, Kantongi Omzet Rp500 juta per bulan

Pria Ini Sukses Jual Skincare dari India, Kantongi Omzet Rp500 juta per bulan

Minggu, 10 Januari 2021 17:30 WIB

Font: Ukuran: - +

CEO & Founder GAMAL Men, Fariz Egia Gamal memiliki penjualan hingga Rp500 juta per bulan. - Foto: istimewa


DIALEKSIS.COM | Jakarta - Indonesia menjadi salah satu pasar yang menarik untuk produk-produk kecantikan dari luar. Dengan jumlah penduduk 270 juta jiwa, Indonesia menjadi pangsa pasar yang sangat menggiurkan.

Hal ini dimanfaatkan oleh CEO & Founder GAMAL Men, Fariz Egia Gamal yang mendapatkan lisensi ekslusif untuk menjual produk kecantikan perawatan kulit dari India. Pada Oktober 2019, Fariz sering mempromosikan produk skin care dari India yang dia pakai di akun Instagram dan juga Youtube.

Ternyata, video tersebut mendapat respon yang luar biasa. Kata dia, banyak yang bertanya di mana bisa membeli produk skin care yang dia bahas di Instagram dan Youtube.

Fariz kemudian mendirikan GAMAL Men pada 8 Januari 2020 yang fokus untuk menjual skin care untuk pria. Lewat toko online tersebut, Fariz juga menjual skin care pria yang diproduksi dari India yaitu Ustraa.

Ustraa merupakan salah satu brand perawatan wajah dari India yang telah mendominasi pasar produk perawatan pria di Indonesia. Tidak hanya face-wash, tetapi juga dilengkapi dengan rangkaian lengkap seperti face-mask, face-scrub, sampai moisturizer dan sunscreen untuk melindungi kesehatan kulit wajah dari paparan sinar matahari.

Ustraa merupakan brand impor yang berkualitas tinggi, bebas paraben, tidak mengandung zat kimia yang berbahaya, dan tidak diujikan kepada hewan (cruelty free).

Brand Ustraa telah berkolaborasi dengan GAMAL Men, tech platform yang mengakomodasi pria Indonesia untuk mencapai potensi maksimalnya. Tidak hanya produk impor, berbagai brand produk lokal juga tersedia di GAMAL Men.

“Jadi GAMAL Men itu memang khusus menjual produk skin care pria. Selain produk lokal, saya juga menyediakan produk skin care dari India. Dan ternyata responnya luar biasa. Penjualan skin care dari India dua kali lebih banyak dibandingkan produk lokal. Konsumen biasanya memesan produk skin care dari India tersebut lewat e-commerce seperti Shopee,” jelasnya.

Namun, semuanya berubah ketika pandemi melanda dunia. Pada April 2020, GAMAL Men tidak lagi menjual skin care dari India karena negara tersebut melakukan karantina wilayah akibat Covid-19. Penjualan skin care di GAMAL Men pun turun drastis.

Akan tetapi, hal tersebut tidak berlangsung lama. Ketika India sudah tidak lagi lockdown, produk skin care mulai tersedia lagi di GAMAL Men. Pada Juni, pemesanan skin care untuk pria buatan India di GAMAL Men kembali melonjak.

“Saya juga kaget, ketika di Juni ternyata pemesanan justru melonjak saat Work From Home. Semakin banyak konsumen pria yang membeli skin care dari India. Mungkin karena bekerja dari rumah dan semua dilakukan secara virtual jadi kaum pria mulai memerhatikan penampilan khususnya perawatan kulit,” jelasnya.

Fariz melanjutkan, Gamal Men didirikan untuk memudahkan konsumen pria untuk bisa memilih produk skin care yang pas. Karena, berdasarkan hasil tesisnya, Fariz menemukan masih banyak konsumen pria yang tidak tahu di mana harus membeli skin care dan merek apa yang paling bagus.

“Jadi, skin care untuk pria ini menjadi tesis S2 saya. Saya melakukan wawancara dengan banyak orang. Dari situ yang tahu bahwa banyak pria yang ingin melakukan perawatan kulit tapi tidak tahu harus beli skincare di mana. Karena itulah, saya memutuskan untuk mendirikan GAMAL Men,” ujarnya.

Fariz menambahkan, penjualan skin care dari India terus meningkat hingga akhir 2020. Berdasarkan omzet, produk skin care dari India yang dijual di GAMAL Men bisa mencapai Rp500 juta per bulan sedangkan produk skin care lokal hanya sekitar Rp 250 juta.

Menurut Fariz, salah satu kelebihan skin care buatan India adalah aromanya yang berbeda dengan skin care buatan lokal. Menurutnya, aroma skin care dari India unik dan harganya juga lebih murah dibandingkan produk lokal [Bisnis.com].

Editor :
Redaksi

riset-JSI
Komentar Anda