Sabtu, 30 Mei 2026
Beranda / Data / Sains Jelaskan Cahaya Bulan, Al-Qur’an Telah Bedakan Matahari dan Bulan Sejak Awal

Sains Jelaskan Cahaya Bulan, Al-Qur’an Telah Bedakan Matahari dan Bulan Sejak Awal

Sabtu, 30 Mei 2026 08:00 WIB

Font: Ukuran: - +

Reporter : Redaksi

Ilustrasi Alquran dan sains ungkap bulan memantulkan cahaya matahari. Foto: Unsplash


DIALEKSIS.COM | Jakarta - Cahaya bulan yang tampak lembut menerangi malam ternyata bukan berasal dari bulan itu sendiri. Dalam kajian astronomi modern, bulan tidak memproduksi cahaya sebagaimana matahari. Cahaya bulan yang terlihat dari Bumi merupakan pantulan sinar matahari yang mengenai permukaan bulan.

Badan Antariksa Amerika Serikat atau NASA menjelaskan, “moonlight” pada dasarnya adalah sunlight reflected atau sinar matahari yang dipantulkan. NASA juga menyebut bulan hanya memantulkan sebagian kecil cahaya matahari yang diterimanya, sementara sebagian besar lainnya diserap oleh permukaannya yang gelap dan berbatu.

Fakta ini membuat bulan berbeda secara mendasar dengan matahari. Jika bulan hanya memantulkan cahaya, matahari justru merupakan sumber cahaya dan panas. NASA dalam penjelasan tentang matahari menyebut energi matahari berasal dari reaksi nuklir di inti matahari, yaitu proses fusi hidrogen menjadi helium yang menghasilkan panas dan cahaya.

Pemahaman manusia tentang bulan juga mengalami perjalanan panjang. Pada masa lalu, benda langit sering dipahami melalui mitos dan pandangan kosmologis sederhana. Namun, sejarah ilmu pengetahuan mencatat bahwa tidak semua pemikir kuno menganggap bulan memiliki cahaya sendiri. Smithsonian Magazine, misalnya, menulis bahwa filsuf Yunani Anaxagoras sekitar 2.500 tahun lalu telah menyatakan bulan adalah benda berbatu yang memantulkan cahaya matahari.

Meski demikian, pengamatan astronomi baru mengalami lompatan besar setelah teleskop digunakan pada awal abad ke-17. NASA mencatat, Galileo Galilei melalui teleskopnya menemukan bahwa bulan bukan bola langit yang halus dan sempurna, melainkan memiliki gunung, lubang, dan bentang permukaan seperti Bumi. Temuan itu ikut mengubah cara manusia memandang bulan sebagai benda langit yang nyata, berbatu, dan tidak bercahaya sendiri.

Menariknya, pembahasan tentang perbedaan karakter cahaya matahari dan bulan juga ditemukan dalam Al-Qur’an. Dalam Surah Yunus ayat 5, Kementerian Agama RI menerjemahkan ayat tersebut dengan kalimat: “Dialah yang menjadikan matahari bersinar dan bulan bercahaya.” Ayat itu juga menyebut bulan memiliki fase-fase agar manusia mengetahui bilangan tahun dan perhitungan waktu.

Pada Surah Nuh ayat 16, Al-Qur’an kembali menggunakan diksi berbeda antara bulan dan matahari. Kemenag menerjemahkan ayat tersebut: “Dan di sana Dia menciptakan bulan yang bercahaya dan menjadikan matahari sebagai pelita yang cemerlang.” Dalam teks Arabnya, bulan disebut dengan kata nur, sedangkan matahari disebut siraj.

Perbedaan istilah ini menjadi perhatian banyak pembaca Al-Qur’an dan pengkaji sains Islam. Kata siraj secara umum bermakna pelita atau sumber cahaya, sedangkan nur bermakna cahaya. Dalam sejumlah terjemahan kontemporer berbahasa Inggris, seperti yang ditampilkan Quran.com, kata nur pada konteks bulan diterjemahkan sebagai “reflected light” atau cahaya pantulan, sementara matahari disebut sebagai “radiant lamp” atau pelita bercahaya.

Surah Al-Furqan ayat 61 juga memperlihatkan pola serupa. Kemenag menerjemahkan ayat itu dengan menyebut Allah menjadikan gugusan bintang di langit serta padanya “pelita” dan “bulan yang bercahaya”. Dalam konteks tafsir, pelita dipahami sebagai matahari, sementara bulan disebut sebagai benda langit yang bercahaya.

Namun, dalam penulisan ilmiah dan jurnalistik, klaim bahwa Al-Qur’an secara eksplisit menjelaskan mekanisme optik cahaya bulan perlu disampaikan secara hati-hati. Al-Qur’an menggunakan pilihan kata yang membedakan karakter matahari dan bulan, sementara ilmu astronomi modern menjelaskan mekanisme fisiknya: matahari menghasilkan cahaya melalui fusi nuklir, sedangkan bulan tampak bercahaya karena memantulkan sinar matahari.

Dengan demikian, perbedaan istilah dalam Al-Qur’an dapat dibaca sebagai salah satu isyarat kebahasaan yang menarik untuk direnungkan. Di sisi lain, sains modern memberikan penjelasan empiris melalui observasi, pengukuran, dan penelitian astronomi.

Fenomena cahaya bulan akhirnya mempertemukan dua ruang pemahaman: sains yang menjelaskan proses alam secara fisik, dan Al-Qur’an yang mengajak manusia memperhatikan tanda-tanda kebesaran Tuhan di langit. Bagi umat Islam, perbedaan penyebutan matahari dan bulan dalam Al-Qur’an menjadi bahan tafakur bahwa alam semesta tidak hanya indah dipandang, tetapi juga menyimpan pesan pengetahuan yang terus terbuka untuk dikaji.

Keyword:


Editor :
Redaksi

riset-JSI