Logo Dialeksis
Beranda / Liputan Khusus / Dialetika / Pelajaran Membangun Desa dari Bur Telege

Pelajaran Membangun Desa dari Bur Telege

Kamis, 18 Juli 2019 21:30 WIB

Font: Ukuran: - +
View alam dari Bur Telege, Takengon. [FOTO: Dialeksis.com]

DIALEKSIS.COM | Hamparan luas berwarna hijau terlihat membentang bak permadani. Dari ketinggian 1.250 meter di atas permukaan laut, pesona kota dingin Takengon dan indahnya Danau Lut Tawar, terpampang seperti lukisan yang berada di depan mata.  

Pemandangan indah yang terletak ketinggian Kota Takengon ini belakangan cukup in di kalangan wisatawan lokal, baik di Aceh dan Indonesia. 

Selain berada di dataran yang tinggi, pemandangan yang mempesona, lokasi wisata baru ini juga dilengkapi dengan fasilitas yang sangat Instagramable untuk menggugah pengunjung untuk berfoto.

Lokasi ini bernama Bur Telege. Destinasi wisata ini tidak jauh dari pusat ibu kota Aceh Tengah, Takengon. 

Jika pengunjung berada di seputaran Kota Takengon, pasti akan tampak tulisan besar “Gayo Highland” di bukit di atas danau. Itulah lokasi destinasi Bur Telege.

Kehadiran objek wisata Bur Telege yang dibalut kearifan lokal ini tentu tidak tiba-tiba. Adalah Misriadi (50) yang membidani gagasan ini sejak 10 tahun lalu, yang baru sejak 2017 bisa terlaksana dengan baik.

Misriadi sebelumnya menggagas Warung Desa, yang dibangun dan dikelola secara swadaya oleh seluruh masyarakat Kampung Hakim Bale Bujang. Warung ini dibangun karena dia merasa cemas atas fenomena pemuda usia produktif di desa itu tampak tidak betah di desanya.

Ia pun membangun Warung Desa, dengan tujuan masyarakatnya bisa betah dan menjalin komunikasi untuk membangun desanya lebih baik. Apa yang ia cita-citakan tercapai pada 2015.

Tak lama kemudian di tahun yang sama, Misriadi menjabat sebagai Reje Kampung (Kepala Desa_red) Hakim Bale Bujang. Dia pun mulai berpikir tentang pengembangan desa berikutnya.

Misriadi, Reje Kampung (Kepala Desa_red) Hakim Bale Bujang, Takengon. [FOTO: Dialeksis.com]

Sukses dengan Warung Desa, dia tertarik merintis pengembangan objek wisata baru Bur Telege dengan serius. Bur Telege dibangun di tanah negara (hutan lindung), di Kampung Hakim Bale Bujang, Kota Takengon.

Sistemnya masih sama. Semua proses pembangunan destinasi ini dikelola secara swadaya bersama masyarakat setempat.

Pemerintah meminjamkan tanah pegunungan seluas 208 Ha, berupa hutan lindung. Namun baru sekitar 2 Ha yang “disulap” jadi wisata bukit kekinian ini.

Setelah mendapat perhatian masyarakat secara serius, destinasi inipun mendapat bantuan Dana Desa dalam 2 tahap.

Tahap pertama, Bur Telege mendapat bantuan dana desa sebesar Rp110 juta rupiah dan menerima Rp69 juta di tahap kedua.

Dengan dana sebesar Rp179 juta rupiah itu, Masriadi dan masyarakat membangun fasiltas-fasilitas menarik di situs ini. Lima orang tenaga kerja ditempatkan di lokasi wisata ini.

Bur Telege berganti rupa. Ciamik sekali. Setiap sudut lokasi memberikan sentuhan pemandangan yang memukau kepada siapa saja yang berkunjung. Alamnya yang eksotis ditambah beberapa fasilitas lainnya menjadikan tempat ini sebagai wahana baru yang sangat memanjakan mata.

Awalnya bukit yang terkenal dengan Tulisan Gayo Highland ini lebih dikenal dengan sebutan Bur Gayo.

“Namun kami kembalikan ke nama aslinya, Bur Telege,” kata Misriadi kepada Dialeksis.com, Selasa (16/7/2019).

Pengunjung menikmati Karpet Aladin di Bur Telege. [FOTO: Kompas.com]

Tak Pernah Kering

Tokoh pemuda Aceh Tengah, Yusnardi (41), menjelaskan arti dari kata ‘Bur Telege’.

"Disebut Bur Telege karena di atas bukit ini terdapat sebuah sumur yang menurut pendapat orang tua kami dahulu, airnya tidak pernah kering walaupun kemarau,” ujarnya kepada Dialeksis.com.

Warga sekitar Bur Telege kemudian meraup keuntungan. Pengunjung rata-rata 500-800 orang per hari jika hari biasa dan mencapai dua kali lipat di hari libur. 

Menurut Yusnardi, destinasi ini memiliki peluang besar untuk menghidupkan ekonomi kreatif.

Pengunjung cukup memerlukan waktu sekitar 20 menit untuk mencapai Bur Telege dari dari Kota Takengon. Selanjutnya, pengunjung harus naik ke puncak dengan berjalan kaki, sebelum bisa menikmati Kota Takengon dari atas perbukitan. Pengelola memasang tarif sekali masuk Rp2.500/orang.

Seorang pengunjung Kusmawati (46) mengatakan, meski menempuh perjalanan jauh dari Kota Banda Aceh, ia mengaku pemandangan di Bur Telege berbeda dengan perbukitan lain. Apalagi bisa sembari menikmati kopi Khas Gayo.

“Lelah perjalanan hilang saat bisa merasakan pemandangan dan ngopi, kopi asli Aceh Tengah,” ucapnya.

Sekedar diketahui, dunia pariwisata di Aceh Tengah saat ini membawa pengaruh positif bagi semua kalangan baik untuk meningkatkan taraf perekonomian masyarakat, serta simbol keunggulan suatu daerah.

Jika pengembangan pariwisata berwawasan lingkungan budaya berhasil diciptakan tercapailah simbiosis mutualisme antara sektor pariwisata dan sektor lingkungan dan budaya.

Takengon yang dikenal sebagai daerah pegunungan nan sejuk, memiliki potensi untuk menjadi ikon pariwisata, dengan kekayaan warisan budaya dan wajah negeri yang indah terutama dengan Danau Lut Tawar adalah modal yang tak ternilai dan dapat menjadi daya tarik serta pendukung pariwisata.

Industri pariwisata merupakan salah satu industri jasa yang potensinya menjanjikan harapan terciptanya kesejahteraan masyarakat pada masa mendatang. 

Menyikapi dunia pariwisata Dataran Tinggi Gayo, dalam hal ini Takengon untuk menuju pariwisata, dengan membentangkan visi “Takengon Menuju Pariwisata Dunia”, segala potensi dan kemampuan akan bisa diarahkan untuk mewujudkan impian tersebut.

Posisi Kota Takengon yang berada di jantung Provinsi Aceh merupakan keunggulan tersendiri yang tidak dimiliki oleh daerah-daerah lainnya di Aceh. 

Takengon yang dapat diakses oleh seluruh kabupaten/kota di Aceh merupakan modal bagi kemajuan pembangunan kota. Takengon bisa menjadi urat nadi perekonomian Aceh secara mikro maupun makro.

Mampukah Takengon menyadari potensi udara dinginnya adalah modal yang mahal dan mewah yang layak diperjuangkan? Semoga. (Hendra Syah)


Editor :
Makmur Emnur

Tsunami
Komentar Anda