Kamis, 21 Mei 2026
Beranda / Liputan Khusus / Diaspora / Dr Ichsan Jadi Orang Indonesia Pertama Lolos Program Bergengsi Oxford, USK Juga Catat Sejarah

Dr Ichsan Jadi Orang Indonesia Pertama Lolos Program Bergengsi Oxford, USK Juga Catat Sejarah

Kamis, 21 Mei 2026 08:30 WIB

Font: Ukuran: - +

Reporter : Arn

Dr. dr. Ichsan, M.Sc., SpKKLP., Subsp.FOMC, dosen Fakultas Kedokteran USK. Foto: doc Dialeksis.com


DIALEKSIS.COM | Banda Aceh - Kabar membanggakan datang dari Universitas Syiah Kuala (USK). Dr. dr. Ichsan, M.Sc., SpKKLP., Subsp.FOMC, berhasil lolos sebagai orang Indonesia pertama dalam The Oxford International Primary Care Research Leadership Programme yang diselenggarakan oleh Nuffield Department of Primary Care Health Sciences, University of Oxford.

Tak hanya itu, USK juga tercatat sebagai universitas pertama dari Indonesia yang diterima dalam program prestisius tersebut. Informasi itu diperoleh redaksi Dialeksis dan kemudian dikonfirmasi langsung oleh Dr Ichsan.

Dengan nada sederhana, ia menyampaikan rasa syukur atas pencapaian yang menurutnya merupakan buah dari dukungan banyak pihak.

“Berkat semua pihak yang mendukung saya dan mendoakan saya, sehingga berkesempatan bertukar ilmu dan pengalaman di Oxford untuk membawa manfaat bagi kepentingan Indonesia dan Aceh,” ujar Dosen FK USK ini. 

Dr Ichsan menjelaskan, dirinya bersama tujuh peneliti lain akan mengikuti Research Leadership Training di Harris Manchester College, University of Oxford, United Kingdom, sebanyak tiga kali pada 2026, 2027, dan 2028.

Ia mengaku sempat tidak menyangka bisa menembus seleksi program yang sangat ketat tersebut. Menurutnya, pada awalnya ia hanya mencoba mengikuti proses seleksi untuk menambah pengalaman.

“Alhamdulillah saya lulus diterima pada The Oxford International Primary Care Research Leadership Programme yang diselenggarakan oleh Nuffield Department of Primary Care Health Sciences, University of Oxford,” kata dia.

Program ini dikenal sangat bergengsi karena setiap tahun hanya memilih delapan peneliti dari seluruh dunia. Sejak pertama kali diluncurkan pada 2002, Dr Ichsan menyebut baru dirinya, sebagai peneliti Indonesia, yang berhasil lolos.

“Seleksinya sangat ketat. Secara logika, mungkin terasa mustahil orang kampung seperti kita bisa lolos. Karena itu, saya meyakini ini bukan semata hasil ikhtiar, tetapi 100 persen anugerah Allah,” ujarnya.

Ia menegaskan tetap ingin merendah dan tidak berlebihan menyikapi pencapaian tersebut. Prinsipnya, kata dia, tetap down to the earth dan keep low profile.

Capaian ini dinilai menjadi momentum penting, tidak hanya bagi dirinya pribadi, tetapi juga bagi penguatan jejaring riset internasional USK di tingkat global. Dr Ichsan berharap keikutsertaan dalam program Oxford dapat memberi dampak nyata bagi pengembangan ilmu pengetahuan, khususnya di bidang kesehatan primer, sekaligus membawa manfaat bagi Aceh dan Indonesia.

Keyword:


Editor :
Redaksi

riset-JSI