DIALEKSIS.COM | BANDA ACEH - Direktur Aceh Sosial Development sekaligus Pemerhati Sosial dan Kebijakan Publik, Nasrul Sufi, meminta pemerintah pusat agar lebih serius memperhatikan masa depan generasi muda Aceh yang dinilai sedang menghadapi berbagai tantangan sosial dan ekonomi.
Menurut Nasrul Sufi, tingginya angka pengangguran, terbatasnya lapangan kerja, dan minimnya ruang pengembangan diri membuat banyak anak muda Aceh berada dalam kondisi ketidakpastian sosial yang dapat berdampak terhadap kehidupan masyarakat di masa depan.
“Jangan biarkan generasi Aceh tumbuh tanpa arah dan kesempatan. Banyak anak muda kita sebenarnya memiliki potensi besar, tetapi belum mendapatkan ruang yang memadai untuk berkembang,” ujar Nasrul Sufi kepada media dialeksis.com, Selasa (26/5/2026).
Ia menilai kondisi tersebut harus menjadi perhatian serius pemerintah pusat karena Aceh membutuhkan dukungan kebijakan yang mampu membuka peluang kerja dan memperkuat pembangunan sumber daya manusia secara berkelanjutan.
Menurut Nasrul, sebagian generasi muda Aceh saat ini mulai menghadapi gejala social uncertainty atau ketidakpastian sosial akibat sulit memperoleh kepastian masa depan, baik dalam dunia kerja maupun pengembangan ekonomi.
Kondisi itu, kata dia, perlahan dapat memengaruhi produktivitas, kesehatan mental, hingga ketahanan sosial generasi muda di Aceh.
“Kalau anak muda terus merasa tidak punya peluang dan akses pekerjaan, lama-lama mereka bisa kehilangan optimisme terhadap masa depan. Ini berbahaya bagi ketahanan sosial masyarakat,” katanya.
Ia juga menyoroti munculnya gejala social alienation, yakni kondisi ketika generasi muda merasa terasing dari lingkungan sosial dan kehilangan rasa percaya terhadap masa depan mereka sendiri.
Menurutnya, persoalan tersebut tidak boleh dianggap sepele karena dapat memicu meningkatnya perilaku negatif, konflik sosial, hingga pesimisme berkepanjangan di tengah masyarakat.
Nasrul Sufi menegaskan bahwa pembangunan Aceh tidak cukup hanya berorientasi pada pembangunan fisik dan infrastruktur semata.
Pemerintah pusat maupun Pemerintah Aceh, kata dia, harus mulai memberi perhatian lebih besar terhadap pembangunan manusia dan penguatan social capital atau modal sosial masyarakat.
“Pembangunan jalan, gedung, dan infrastruktur memang penting. Tetapi pembangunan manusia jauh lebih penting. Anak muda membutuhkan pekerjaan, ruang kreatif, pelatihan keterampilan, dan dukungan ekonomi yang nyata,” ujarnya.
Ia menilai pemerintah pusat perlu menghadirkan kebijakan afirmatif untuk Aceh, khususnya dalam menciptakan peluang kerja, memperkuat sektor ekonomi kreatif, kewirausahaan, teknologi, dan usaha produktif yang mampu menyerap tenaga kerja muda.
Selain itu, ASD juga menekankan pentingnya membangun social resilience atau ketahanan sosial generasi muda agar tidak mudah terjebak dalam tekanan sosial maupun persoalan ekonomi yang berkepanjangan.
Menurut Nasrul, penguatan ketahanan sosial dapat dilakukan melalui program pemberdayaan pemuda berbasis keterampilan, pendidikan, komunitas kreatif, hingga pengembangan ekonomi masyarakat yang berkelanjutan.
Karena itu, ASD mendorong pemerintah pusat, Pemerintah Aceh, perguruan tinggi, dunia usaha, dan seluruh elemen masyarakat untuk bersama-sama memperkuat program pemberdayaan pemuda agar generasi muda Aceh memiliki ruang berkembang yang lebih luas.
“Generasi muda Aceh jangan hanya dijadikan objek pembangunan, tetapi harus menjadi subjek utama dalam menentukan arah masa depan Aceh,” tutup Nasrul Sufi.[nh]