Minggu, 17 Mei 2026
Beranda / Ekonomi / Di Tengah Serbuan Impor, Pabrik Baru Rp300 Miliar Ini Jadi Harapan Industri Baja

Di Tengah Serbuan Impor, Pabrik Baru Rp300 Miliar Ini Jadi Harapan Industri Baja

Jum`at, 08 Mei 2026 17:30 WIB

Font: Ukuran: - +

Reporter : Indri

Wakil Menteri Perindustrian Faisol Riza. [Foto: dok. Kemenperin]


DIALEKSIS.COM | Subang - Kementerian Perindustrian (Kemenperin) meresmikan fasilitas produksi kawat besi galvanis milik PT Beka Wire Indonesia di Subang, Jawa Barat, pekan ini. Kehadiran pabrik baru tersebut diharapkan dapat memperkuat industri logam nasional sekaligus menekan ketergantungan impor produk kawat besi dan baja.

Peresmian dilakukan oleh Wakil Menteri Perindustrian Faisol Riza yang mewakili Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita. Dalam sambutannya, Faisol mengatakan fasilitas produksi tersebut akan memperdalam struktur industri baja nasional, terutama untuk sektor otomotif, konstruksi, pertanian hingga energi.

“Semoga dengan berdirinya pabrik ini dapat menambah kemandirian industri besi baja nasional, khususnya pada produk kawat, serta dapat memperdalam struktur industri penggunanya,” ujar Faisol dalam acara grand opening.

PT Beka Wire Indonesia mencatat realisasi investasi awal sebesar Rp300 miliar dengan potensi ekspansi hingga Rp500 miliar. Pabrik ini dirancang memiliki kapasitas produksi mencapai 36 ribu ton per tahun untuk berbagai jenis kawat coated wire seperti hot dip galvanized, zinc-aluminium, bezilum, serta non-coated wire.

Tak hanya menyasar pasar domestik, perusahaan juga menargetkan ekspor agresif. Sebanyak 40% dari total produksi akan dikirim ke pasar Asia Tenggara, Amerika Latin, Eropa hingga Australia. Langkah ini dinilai penting di tengah melemahnya kinerja ekspor produk kawat besi dan baja Indonesia dalam lima tahun terakhir.

Data Kemenperin menunjukkan volume ekspor kawat besi dan baja turun 48,5% dari 22.225 ton pada 2021 menjadi hanya 11.442 ton pada 2025. Di sisi lain, impor masih meningkat sehingga defisit perdagangan komoditas tersebut melebar dari minus 113.567 ton menjadi minus 132.221 ton dalam periode yang sama.

Pemerintah pun menegaskan komitmennya menjaga daya saing industri baja nasional melalui berbagai kebijakan strategis, mulai dari pengendalian impor, penerapan Bea Masuk Anti Dumping (BMAD), jaminan harga gas industri lewat skema Harga Gas Bumi Tertentu (HGBT), hingga optimalisasi program Peningkatan Penggunaan Produk Dalam Negeri (P3DN). 

“Kami berharap kehadiran pabrik ini dapat menjadi pendorong transformasi industri logam nasional menuju industri yang lebih mandiri, berdaya saing, dan berkelanjutan,” kata Faisol. [in]

Keyword:


Editor :
Redaksi

riset-JSI