Logo Dialeksis
Beranda / Feature / Derita Hafizah, Gadis Malang Dibalut Kemiskinan

Derita Hafizah, Gadis Malang Dibalut Kemiskinan

Senin, 25 Februari 2019 19:28 WIB

Font: Ukuran: - +

Reporter : Safrizal S.
Hafizah Alfada saat digendong Ibunya, Masyitoh (37) ditemani Kakaknya Rauzahtul Azila (Pertama kiri), M. Faiz (Kedua kiri), dan M. Annas (Pertama kanan). (Foto: Safrizal)

Mimik wajahnya datar. Namun tatapannya tajam. Tak ada sehelai kain pun di tubuhnya. Hanya memakai pampers (popok). Tak ada sepatah kata pun terucap dari bibirnya. Si mungil itu hanya duduk diam di pangkuan sang Ibunya, Masyitoh (37) malam itu

Nama si mungil itu Hafizah Alfada. Usianya baru 5 tahun. Pada tanggal 27 November tahun ini, usianya genap 6 tahun. Keceriannya hilang sejak usia 44 hari setelah dilahirkan karena menderita penyakit gangguan tumbuh kembang. 

Sesekali ia berusaha untuk tersenyum saat diajak bicara. Namun hanya senyuman kecil. Sering kali terlihat cuek dengan apa yang ada di sekitarnya.

"Tapi ngerti jih menyoe ta marid, man (Hafizah) marid manteng yang hanjeut. (Tapi dia ngerti kalau kita ngobrol, cuma (Hafizah) tidak bisa berbicara, Red)," jelas Masyitoh.

Balita malang ini juga mengalami kelainan di bagian atas kepalanya yang tidak memiliki fontanel atau ubun-ubun seperti balita pada umumnya yang jelas terlihat dan lunak itu. Di bagian belakang kepala juga sedikit menonjol dan membesar.

Dalam seminggu, Hafizah dua kali dibawa oleh Ibunya untuk terapi ke Rumah Sakit Zainoel Abidin, Banda Aceh. Dan itu sudah terjadi selama 4 tahun terakhir. Hasilnya tidak ada perubahan. Selama itu pula Hafizah hanya mengkonsumsi susu sebagai makanan utamanya karena tidak bisa makan nasi.

Ibunya yang bekerja sebagai tukang sapu di pasar Induk Lambaro itu hanyalah karyawan kontrak yang baru berjalan hampir 2 tahun di Dinas Kebersihan Kabupaten Aceh Besar. Bahkan dalam 4 bulan terakhir ia tak menerima gaji sepeserpun. Hal ini berimbas pada si mungil yang tidak terpenuhi untuk keperluan membeli susunya. Ironi memang.

Bahkan anak-anaknya yang bersekolah terkadang tidak masuk belajar. Itu karena penghasilannya yang minim. Dia digaji sebesar Rp. 1,5 juta perbulannya. Dan itu, untuk semua. Mulai dari kebutuhan Hafisah sendiri, hingga keperluan saudara-saudarinya untuk bersekolah dan biaya lainnya.

"Menyo hana susu, langsong su um badan, lawet nyoe kon itheun peng kamo, 4 buleun hana ijok, nyan keuh hana ngen bloe susu, saket ju asoe (Hafizah), memang ngoen susu. (Kalau ngga ada susu, langsung badannya panas, selama ini uang (gaji) kami kan ditahan, 4 bulan belum dibayar, karena itu ngga bisa beli susu, sakit terus badannya (Hafizah), memang susu makanan utamanya, Red), ungkap Masyitoh.

Sekarang Masyitoh juga harus merelakan pekerjaan itu jika sewaktu-waktu kontraknya tidak disambung lagi. Betapa tidak, pemerintah Aceh Besar akan merumahkan 17.000 tenaga honorer di lingkungan setempat dalam rangka evaluasi terhadap tenaga honorer/kontrak tahun 2019, salah satu dari sekian banyak nama itu bisa saja ada nama dirinya, Masyitoh. 

Belum lagi biaya hidup yang semakin hari semakin meningkat jauh. Ia tetap bertahan dengan semampu dan sebisanya. Selebihnya, hanya waktu yang bisa menjawab.

"Nyan pih hana tukri chit, buleun 4 nyoe kalon chit ilee na iwo SK lom, Bupati nyan (Mawardi Ali), kontrak di sampoh mandum. (Itupun masih belum tau gimana kelanjutannya, bulan 4 ini kita lihat dulu gimana SK nya, Bupati itu (Mawardi Ali), kontrak semua dihapus, Red)," ujarnya

Sejak setahun lalu Masyitoh tinggal dirumah orang tuanya yang sudah reot. Masyitoh mengisahkan, sebelum Ibunya menghadap sang Khaliq setahun yang lalu, ia beserta keluarga kecilnya tinggal di Rumoh Aceh yang berjarak hanya sekitar 10 meter saja dari rumah yang ia tempati sekarang. 

Kini Rumoh Aceh tersebut sudah tidak layak huni. Bahkan rumah yang ia tempati sekarang, juga demikian. Alas lantai dan tiang-tiang Rumoh Aceh itu sudah lapok dimakan usia. Semenjak itu pula, M. Latif (39) suami Masyitoh yang seharusnya menjadi tulang punggung bagi keluarganya sudah tidak lagi bekerja. Hal itu semata-mata untuk menjaga si buah hati, Hafizah ketika sang Ibu beranjak pergi untuk bekerja. Sebelumnya, M. Latif bekerja sebagai buruh lepas dengan penghasilan yang pas-pasan.

Tidak seperti kanak-kanak pada umumnya. Hafizah lebih menghabiskan waktu kesehariannya di dalam rumah bersama sang Ayah, M. Latif dan 3 saudara-saudarinya, yaitu M. Annas (13), Rauzahtul Azila (10), dan M. Faiz (8). Ketiganya masih bersekolah di tingkat Sekolah Dasar (SD) dan Sekolah Menengah Pertama (SMP) di Kecamatan Simpang Tiga, Kabupaten Aceh Besar. 

Rauzahtul tercatat sebagai siswi kelas 4 dan M. Faiz siswa kelas 2. Keduanya sama-sama bersekolah di SD Gampong Laura, Kecamatan Simpang Tiga. Sementara M. Annas, tercatat sebagai siswa kelas 2 di SMP Negeri 1 Gampong Krueng Mak, Kecamatan Simpang Tiga, Kabupaten Aceh Besar.

Seumuran Hafizah, seharusnya sudah bisa berjalan dan juga berbicara. Namun takdir berkata lain. Hingga kini si mungil itu tak dapat berjalan dan berbicara. Bahkan untuk berdiri saja dia tak mampu. Kedua kakinya tak dapat diluruskan. Kaki sebelah kanan tumbuh bengkok. Hal ini diakibatkan oleh pertumbuhan tulang pada Hafisah yang abnormal.

Keluarga ini menempati sebuah rumah berdinding triplek berukuran 4x6 meter yang nyaris tidak ada kamar. Hanya saja ada satu pembatas antara ruangan depan di bawah dan ruangan dalam di atas. Rumah ini semi panggung yang memiliki 3 anak tangga saja jika ingin melangkah ke atas. Kamar mandinya tepat berada di samping rumah sebelah kanan dan ada satu rangkang yang langsung berhadapan di sisi depan.

Mursalin (16) yang merupakan sepupu Masyitoh sedang berdiri di depan pintu masuk rumahnya yang berdinding triplek di Gampong Ateuk Lam Phang, Kecamatan Simpang Tiga, Aceh Besar.

Rangkang ini, digunakan Masyitoh sebagai tempat bersantai sekaligus tempat dia mengupas bawang merah. Maklum saja, baru beberapa hari ini ia mendapat kerjaan sampingan. Ia diupah Rp. 4.000 untuk satu karung bawang merah yang dibawa pulang dari pasar Induk Lambaro, Kecamatan Ingin Jaya, Aceh Besar. Mengupas bawang merah dilakukan setelah menyelesaikan pekerjaanya di pasar Induk Lambaro dan di depan Mall Lambaro sebagai tukang sapu.

Pekerjaannya dibagi menjadi dua sift di dua tempat. Pukul 08.00 WIB sampai dengan pukul 10.00 WIB di depan Mall Lambaro, kemudian dari pukul 14.00 WIB hingga pukul 18.00 WIB di pasar Induk Lambaro. Masyitoh tinggal di Gampong Ateuk Lam Phang, Kecamatan Simpang Tiga, Kabupaten Aceh Besar. Jarak dari rumahnya ke Lambaro lumayan jauh, hampir 20 menit perjalanan menggunakan sepeda motor.

Ia menceritakan, selama ini ada beberapa orang yang datang mengunjungi rumahnya dan Hafizah. Mereka datang dari berbagai latar belakang, bahkan salah satunya merupakan dari partai politik. Saban hari mereka datang hanya untuk meminta data dan dokumentasi rumah tersebut. Bahkan dijanjikan sebuah rumah. Namun hingga kini, rumah itu tak kunjung ada. Hanya janji manis belaka. 

Ia juga mengatakan, pemerintah sama sekali tidak pernah datang untuk mengunjungi dan menyerahkan bantuan. Jika pun ada, hanya dari Posyandu saja. Itupun hanya sebatas susu, dan tidak sering. 

Hafizah kini masih balita yang tidak bisa bergerak aktif dan terbujur di ayunan. Dari tatapan matanya yang tajam itu. Ia berharap dapat bermain dengan teman seusianya. Hafisah memang tak bisa bicara. Namun matanya sudah menjelaskan keinginannya untuk masa depan.


Editor :
Indri

dalimi
utu lebaran
Komentar Anda
hendri budian