Logo Dialeksis
Beranda / Kolom / Kalau Saya Terkena Covid-19

Kalau Saya Terkena Covid-19

Minggu, 29 Maret 2020 08:19 WIB

Font: Ukuran: - +


Anakku…. Kalau Tuhan menakdirkan Ama (bapak) terkena virus covid-19, atau kalian yang dihinggapi wabah ini, apa yang harus kita lakukan? 

Sebagai mahluk Allah, tidak ada satu manusiapun yang berkeinginan untuk diserang wabah. Namun corona tidak mengenal status, pangkat dan jabatan. Siapapun yang dihinggapinya, berpeluang terpapar.

Kita berupaya untuk menghindarinya, mengikuti ketentuan yang sudah ditetapkan, sembari sambil berdoa, agar yang maha mengendalikan dunia ini, mengangkat wabah hingga alam pana ini aman.

Namun bagaimana bila kita yang terkena? Anakku, sekiranya wabah itu hinggap di tubuh Ama yang kurus ini, maka ijinkanlah Ama berjihad. Ama akan berjuang dengan penuh semangat mengobatinya. Menyerahkan ke tenaga medis untuk merawat Ama.

Kalian jangan ragukan kemampuan tenaga medis untuk merawatnya. Kalian tidak perlu ikut campur anakku. Sesuai ketentuan, kalian jangan menjenguk Ama. Biarkan Ama menjalani isolasi. Ihlaskan Ama berjuang menghadapinya.

Ama berjihad, agar virus yang sudah merasuk di tubuh itu tidak menyebar kepada mahluk lainya. Kalau Ama yang kena, kalian keluarga Ama harus diselamatkan. Kalau sekiranya Ama dipanggil Ilahi, dengan sebab virus ini, biarlah Ama bawa virus ini ke dalam bumi.

Ama tidak mau membagi virus ini kepada yang lain. Hati kalian pasti menjerit. Tak tega kalian membiarkan Ama sendiri, sampai proses penguburanya juga tidak boleh kalian ikut campur. Namun tahukah kalian, semua ini dilakukan tenaga medis untuk kebaikan semua.

Jangan karena diri kita orang lain juga kita korbankan! Ama tidak mau menjadi sumber petaka, membawa prahara. Kalau sekiranya Ama sudah terkena, Ama akan berjuang agar yang lainya tidak dirayapi Covid-19.

Demikian dengan kalian, bila ada yang terkena, sebagai orang tua harus mengihklaskanya. Jangan sampai satu orang yang terkena, akan menjalar kemana-mana. Jangan tambah daftar korban karena wabah ini.

Agama kita sudah mengajarkan bagaimana menangani wabah. Bila kita patuh akan ketentuan yang dibawa Rasul, Insya Allah wabah ini tidak merambat kemana-mana. Bila dalam satu area terkena wabah, maka manusia yang ada di sana jangan keluar untuk berinteraksi dengan manusia di luar area ini.

Kalian juga jangan masuk ke sana. Wabah itu tidak kasat mata untuk kita lihat. Namun bila kalian melihat kawanan harimau, atau kelompok ular, apakah kalian berusaha menghindarinya untuk tidak bersua?

Kalau kalian paksa masuk ke dalam area itu, apa yang akan terjadi? Bukankah kalian akan dijadikan mangsa oleh mahluk ini? Lantas kalau Ama yang sudah terkena dan sudah berubah menjadi “harimau”, apakah Ama tega menerkam kalian?

Ama sudah pasti akan berjuang melawanya dan menyerahkan kepada petugas medis untuk menangani, agar tubuh Ama kembali normal. Seiring dengan proses dan waktu, berbagai upaya dilakukan, Ama yakin Insya Allah ada penawarnya.

Rasul kita jauh jauh hari sudah mengajarkan kepada kita ummatnya bagaimana ketetapan Tuhan itu untuk kita sikapi. Wabah sudah ada di dunia ini dengan beragam coraknya. Ketetapan Allah yang dibawa Rasul kita Muhammad SAW, jangan kita langgar. Isolasi diri adalah pilihan yang terbaik.

Tuhan sudah menggariskan perjalanan hidup manusia di muka bumi ini. Beragam cara Tuhan mengambil mahluknya. Ada karena bencana, gempa, tsunami, peperangan karena ulah manusia, atau cara yang tidak ada manusia mampu mempridiksinya. Bila sampai masanya, lagi tidur juga kita akan kembali ke Ilahi.

Tuhan memberikan cobaan kepada manusia karena manusia mampu menjalaninya. Tuhan tidak akan menurunkan cobaan bila tidak memberi imbalan diahirnya. Imbalan dari cobaan itu, kita akan menjadi pemenang atau pecundang.

Ama yakin anakku, bila kita semua mampu menjaga diri, mengikuti ketentuan yang sudah ditetapkan (aturan Tuhan dan anjuran manusia), kita semuanya akan mampu melalui cobaan ini dan akan mendapatkan imbalan sebagai pemenang, bukan pecundang.

Semoga Covid-19 ini mampu segera diatasi. Tuhan memberikan penyakit agar manusia berusaha mencari penawarnya. Kini pasukan “tempur” sedang berjuang melawan corona. Manusia-manusia tangguh, tak kenal lelah dan siap berkorban nyawa, mereka berada digaris depan.

Walau pasukan tempur ini belum dilengkapi dengan senjata dan logistik yang memadai, namun petugas medis yang menjadi andalan untuk mengakhiri peperangan ini, tidak pernah ada kata surut dalam prinsip hidupnya.  

Mereka akan tahan badan dan menggadaikanya nyawanya untuk ummat. Mereka akan berperang demi kita, demi semuanya. Selamat bertempur pahlawan kami. Bait bait doa kami dalam linangan air mata ada untukmu. Kami bermunajat kepada Ilahi. Semoga negeri ini kembali damai. Kita keluar sebagai pemenang. *** Bahtiar Gayo (Penanggungjawab Dialeksis.com)


Editor :
Redaksi

riset-JSI
Komentar Anda