DIALEKSIS.COM | Kolom - Jumat malam, 28 Februari 2026, menjadi babak baru yang sakral di Aula Kantor Gubernur Aceh. Di bawah pendar lampu dan kekhidmatan sumpah, Murthalamuddin resmi dilantik sebagai Kepala Dinas Pendidikan (Kadisdik) Aceh definitif. Namun, jabatan ini bukanlah karpet merah penuh kemudahan. Ia adalah sebuah pundak yang harus siap memikul beban sejarah mengurai benang kusut pendidikan tanah Serambi Mekkah dari hulu hingga ke hilir.
Tugas itu sudah sangat berat. Namun takdir, rupanya, ingin menguji sejauh mana urat nadi kepemimpinan seorang Murthalamuddin mampu bertahan di bawah tekanan.
Jauh sebelum pelantikan malam itu, ujian sesungguhnya telah datang menyapa. Akhir November 2025, langit Aceh kembali menangis.
Bencana hidrometeorologi, yakni banjir bandang dan tanah longsor menerjang, memutus konektivitas jalan sebagai urat nadi kehidupan di berbagai wilayah. Di tengah kepanikan warga dan situasi yang kian genting, Pemerintah Aceh menunjuk Murthalamuddin memegang kendali vital lainnya, yakni Juru Bicara Posko Penanganan Bencana Hidrometeorologi Aceh.
Dua amanah besar kini berada di satu pundak. Di sinilah, karakter “Sibak Agam” dan roh “Meu’Aceh” yang melekat kuat dalam dirinya bangkit ke permukaan. Bukan sekadar istilah, karakter ini mewakili sosok lelaki Aceh yang tegas, berani mengambil risiko, pantang surut selangkah pun, dan memiliki empati besar bagi tanah kelahirannya.
Sebagai juru bicara, ruang kerjanya berpindah ke Lantai 3 Kantor Gubernur Aceh. Dari ruangan yang riuh oleh dering telepon dan laporan darurat itu, suaranya terdengar lantang dan berwibawa di berbagai media, mengabarkan kondisi riil Aceh tanpa ada yang ditutup-tutupi. Di saat kepanikan massal rawan dipicu oleh disinformasi, ia berdiri tegak sebagai benteng. Dengan ketegasan seorang jurnalis senior dan wibawa seorang pejabat, Murthalamuddin berani menepis langsung berbagai berita hoaks yang disebarkan oleh oknum tidak bertanggung jawab.
Bagi dia, di tengah bencana, informasi yang benar adalah penyelamat nyawa.
Namun, Murthalamuddin bukanlah tipe pemimpin yang betah berlama-lama di balik meja ber-AC saat rakyatnya sedang menangis. Baginya, jeritan warga di daerah terisolir tidak akan terdengar jernih jika hanya dibaca melalui lembaran laporan.
Maka, perjalanannya pun dimulai. Menembus batas-batas wilayah yang luluh lantak.
Ia bergerak cepat dari satu titik ke titik ekstrem lainnya. Dari kawasan pedalaman Kabupaten Bireuen yang berlumpur, menanjak ke dataran tinggi Aceh Tengah, menerobos genangan di Aceh Utara dan Aceh Timur, membelah belantara Gayo Lues dan Aceh Tenggara, hingga menyisir Kota Langsa dan Aceh Tamiang yang luluh lantak dihantam air bah.
Lewat rekaman video amatir warga yang beredar, publik tidak melihat sosok pejabat dengan pakaian dinas yang rapi dan sepatu mengkilap. Publik melihat seorang anak kandung Aceh yang menggulung lengan kemejanya tinggi-tinggi.
Di bawah rintik hujan yang tersisa, ia turun langsung ke kubangan. Dengan kedua tangannya sendiri, Murthalamuddin ikut menyekop lumpur pekat yang menggenangi rumah-rumah warga, membersihkan ruang-ruang kelas di sekolah yang hancur agar anak-anak bisa kembali belajar, hingga membasuh lantai mushalla yang tertutup material banjir agar lantunan ayat suci bisa kembali menggema.
"Pendidikan tidak bisa berjalan jika ruang kelasnya terkubur lumpur, dan mental anak-anak kita runtuh karena trauma. Kita harus hadir di sini, bersama mereka," mungkin begitulah kalimat yang membakar semangatnya di lapangan.
Melihat sepak terjangnya di medan bencana, pelantikannya sebagai Kadisdik Aceh definitif pada akhir Februari lalu terasa seperti sebuah jawaban atas doa-doa yang dipanjatkan dari tenda pengungsian. Dedikasi yang ia tunjukkan selama masa-masa kelam bencana hidrometeorologi adalah bukti sahih bahwa ia tidak hanya memimpin dengan instruksi, melainkan dengan hati dan aksi nyata.
Kini, tantangan besar telah menanti di meja kerjanya. Memulihkan fasilitas pendidikan yang rusak pascabencana, sembari mengejar ketertinggalan mutu pendidikan Aceh secara menyeluruh.
Tugas ini memang teramat berat. Namun, melihat ketegasan sang Sibak Agam yang menembus pekatnya lumpur pedalaman, rakyat Aceh punya alasan kuat untuk menaruh harapan baru. Kita berharap, di tangan Murthalamuddin, masa depan pendidikan Aceh akan bangkit, sekuat dan seanggun tanah Serambi Mekkah yang selalu mampu berdiri tegak setelah badai berlalu. Semoga saja.
Penulis Oleh: Mirza Ferdian, Kolomis dan penggiat literasi
