Minggu, 02 Agustus 2026
Beranda / Kolom / Pocut Meuligoe, Srikandi Perang Aceh dari Samalanga

Pocut Meuligoe, Srikandi Perang Aceh dari Samalanga

Minggu, 02 Agustus 2026 12:00 WIB

Font: Ukuran: - +

Reporter : Teuku Avicenna Al Maududdy

Teuku Avicenna Al Maududdy, M.Hum. [Foto: Dokpri]


DIALEKSIS.COM | Kolom - Di antara deretan pahlawan perempuan Aceh, nama Pocut Meuligoe belum sepopuler Cut Nyak Dhien, Cut Meutia, atau Tengku Fakinah. Padahal, berbagai sumber primer kolonial menunjukkan bahwa perempuan muda dari Samalanga ini merupakan salah satu tokoh yang paling ditakuti Belanda pada fase awal Perang Aceh. Keberaniannya memimpin rakyat, menyusun strategi pertahanan, serta membangkitkan semangat jihad menjadikannya salah satu srikandi terbesar yang pernah dimiliki Aceh.

Pocut Meuligoe diperkirakan lahir di Kerajaan Samalanga pada pertengahan abad ke-19 sebagai putri bangsawan keturunan Tun Sri Lanang. Hingga kini, sumber-sumber primer belum berhasil mengungkap tanggal dan tahun kelahirannya maupun waktu wafatnya secara pasti. Masyarakat Samalanga meyakini makam beliau berada di Gampong Meunasah Lueng, Kecamatan Samalanga, Kabupaten Bireuen, dalam kompleks makam keluarga keturunan Tun Sri Lanang yang kini menjadi salah satu situs sejarah daerah Aceh.

Menurut silsilah keluarga Keurajeun Syik Samalanga, Pocut Meuligoe binti Teuku Muda Hasan bin Teuku Chik Nyak Gam bin Teuku Keujruen Syik Idris Seri Perkasa bin Tun Aceh Keujruen Syik Rahim Perkasa bin Wazirul Harb Tun Rembau Panglima Bandar Darussalam bergelar Ampon Syik di Blang Garang Samalanga bin Orang Kaya Datuk Bendahara Seri Paduka Tuan Sebrang Seri Bentara Samalanga Tun Muhammad atau Tun Sri Lanang, Uleebalang Raja pertama Samalanga (1615-1659 M). Garis keturunan tersebut menunjukkan bahwa kepemimpinannya lahir dari tradisi birokrasi, militer, keulamaan, dan intelektual Kesultanan Aceh yang telah mengakar selama berabad-abad.

Sebagai putri bangsawan, Pocut Meuligoe memperoleh pendidikan agama Islam, pembelajaran Al-Qur'an, adat Aceh, tata pemerintahan, serta ilmu kepemimpinan dan pertahanan yang diwariskan di lingkungan keluarga uleebalang dan dayah. Pendidikan tersebut membentuk pribadi yang berani, tegas, religius, sekaligus memiliki kemampuan mengorganisasi masyarakat ketika perang berkecamuk.

Kapten Belanda Schoemaker dalam laporannya yang kemudian dikutip H. Mohammad Said dalam Aceh Sepanjang Abad Jilid II menggambarkan Pocut Meuligoe sebagai perempuan yang memiliki kebencian luar biasa terhadap penjajahan Belanda. Ia memerintahkan setiap laki-laki yang telah sanggup mengangkat senjata untuk turun berperang melawan kaphe Belanda. Sawah dan ladang boleh ditinggalkan demi mempertahankan agama dan negeri. Mereka yang mangkir dari kewajiban membela tanah air dikenai hukuman tegas. Dari Samalanga pula ia terus mengirimkan dana, persenjataan, dan sukarelawan untuk memperkuat perjuangan rakyat Aceh di Aceh Besar.

Seruan Pocut Meuligoe membakar semangat rakyat, terutama para pemuda Samalanga. Baginya, mempertahankan negeri bukan hanya kewajiban seorang pemimpin, melainkan tanggung jawab seluruh masyarakat. Semangat inilah yang menjadikan Samalanga sebagai salah satu pusat perlawanan paling tangguh selama Perang Aceh.

Pada 1876 Belanda mencoba membujuk Samalanga agar mengakui kekuasaan kolonial. Namun, menurut laporan Schoemaker, jawaban yang diterima justru rentetan tembakan ke arah kapal perang Belanda. Diplomasi gagal total. Samalanga memilih mempertahankan kemerdekaan daripada tunduk kepada penjajah.

Belanda kemudian mengirim ekspedisi besar di bawah Kolonel Karel van der Heijden. Ribuan serdadu, marinir, artileri, serta kapal perang dikerahkan untuk merebut Samalanga. Namun, perlawanan rakyat di Kiran, Blang Tambeu, Kuala Tambora, Pengiit Tunong, Blang Temulit, hingga Benteng Batee Iliek membuat pasukan kolonial mengalami kerugian besar.

Salah satu peristiwa paling terkenal dalam perang tersebut ialah tertembaknya mata kiri Jenderal Karel van der Heijden. Fakta mengenai hilangnya mata kiri Van der Heijden tercatat dalam berbagai laporan militer Belanda, termasuk De Atjeh-Oorlog karya J.C.J. Kempees dan kemudian dibahas oleh sejumlah sejarawan seperti Anthony Reid serta Ibrahim Alfian. 

Dalam tradisi lisan masyarakat Samalanga berkembang keyakinan bahwa luka tersebut merupakan hasil tembakan pejuang Aceh yang berada di bawah kepemimpinan Pocut Meuligoe ketika mempertahankan Blang Temulit. Sejak saat itu, Van der Heijden dikenang oleh rakyat Aceh sebagai "Jenderal buta siblah (Jenderal buta sebelah)", sebuah julukan yang menjadi simbol bahwa keangkuhan militer kolonial mampu dipatahkan oleh keberanian rakyat Aceh. Peristiwa tersebut bukan hanya dikenang oleh masyarakat Aceh, tetapi juga menjadi bagian dari catatan sejarah militer Belanda tentang beratnya perlawanan di Samalanga.

Perlawanan Samalanga juga diperkuat oleh para ulama. Haji Ahmad menjadi salah seorang tokoh penting yang memimpin pasukan rakyat sebelum akhirnya ditangkap dan gugur. Sinergi antara uleebalang, ulama, dan rakyat menjadikan Samalanga benteng yang sangat sulit ditembus meskipun Belanda datang dengan persenjataan modern.

Perjanjian 17 September 1877 tidak menghentikan ambisi Belanda. Pada 1880 Belanda kembali menyerang Benteng Batee Iliek dengan kekuatan yang lebih besar. Schumacher mencatat bahwa pasukan Belanda berkali-kali maju, tetapi selalu dipukul mundur oleh pertahanan rakyat Samalanga yang memanfaatkan benteng alam, ranjau, bambu runcing, dan penguasaan medan.

Barulah sekitar 1904, setelah menerapkan strategi konsentrasi militer besar-besaran sebagaimana tercatat dalam arsip kolonial serta karya J.B. van Heutsz dan H. Colijn, Belanda mulai berhasil menguasai Samalanga. Fakta bahwa sebuah wilayah mampu bertahan hampir tiga dekade menunjukkan betapa kuatnya kepemimpinan Pocut Meuligoe bersama para uleebalang, ulama, dan rakyat.

Mengenai akhir kehidupan Pocut Meuligoe, hingga kini sumber primer kolonial maupun sumber lokal belum memberikan kepastian mengenai tanggal, tempat, dan sebab wafatnya. Kekosongan data tersebut menjadi pekerjaan rumah bagi para sejarawan untuk terus menelusuri manuskrip keluarga, arsip kolonial, hikayat, maupun tradisi lisan yang masih hidup di tengah masyarakat Samalanga.

Warisan Pocut Meuligoe tidak hanya diukur dari lamanya ia mempertahankan Samalanga dari ekspedisi Belanda, tetapi juga dari kemampuannya membangkitkan keberanian rakyat, terutama para pemuda, agar tidak gentar menghadapi penjajah. Ia membuktikan bahwa perempuan Aceh bukan sekadar pendamping dalam peperangan, melainkan pemimpin, ahli strategi, penggerak logistik, sekaligus simbol keteguhan mempertahankan agama, tanah air, dan martabat bangsa.

Bagi generasi muda Aceh, khususnya pemuda Samalanga, kisah Pocut Meuligoe adalah teladan bahwa keberanian harus selalu disertai ilmu, integritas, dan pengabdian. Jika dahulu para pemuda mengangkat rencong dan senapan mempertahankan kemerdekaan, maka hari ini perjuangan itu diwujudkan melalui pendidikan, riset, pelestarian sejarah, inovasi, dan membangun masyarakat. 

Mengenang Pocut Meuligoe bukan sekadar menghormati seorang srikandi, melainkan menghidupkan kembali semangat bahwa kecintaan kepada agama, tanah air, dan bangsa akan selalu melahirkan generasi Aceh yang bermartabat dan tidak mudah tunduk kepada tantangan zaman. [**]

Penulis: Teuku Avicenna Al Maududdy, M.Hum (Alumni Magister Sejarah Peradaban Islam, UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta dan Dosen Tetap Prodi Pengembangan Masyarakat Islam, Universitas Islam Al-Aziziyah Indonesia (UNISAI) Samalanga, Kabupaten Bireuen, Aceh)

Keyword:


Editor :
Indri

riset-JSI