Minggu, 17 Mei 2026
Beranda / Berita / Nasional / Aceh Resmi Jadi Tuan Rumah MTQ Nasional 2028, Penantian 40 Tahun Terbayar

Aceh Resmi Jadi Tuan Rumah MTQ Nasional 2028, Penantian 40 Tahun Terbayar

Selasa, 07 April 2026 15:00 WIB

Font: Ukuran: - +

Plt Kepala Dinas Syariat Islam Aceh, Marzuki SAg, MH, menyambut baik keputusan Provinsi Aceh kembali mendapatkan kepercayaan sebagai tuan rumah Musabaqah Tilawatil Qur’an (MTQ) Nasional ke-33 yang dijadwalkan berlangsung pada 2028. [Foto: dok. DSI Aceh]


DIALEKSIS.COM | Banda Aceh - Provinsi Aceh kembali mendapatkan kepercayaan sebagai tuan rumah Musabaqah Tilawatil Qur’an (MTQ) Nasional ke-33 yang dijadwalkan berlangsung pada 2028. Ini menjadi momen bersejarah, mengingat terakhir kali Aceh menggelar ajang serupa adalah pada tahun 1981, lebih dari empat dekade lalu.

Keputusan tersebut ditetapkan melalui Keputusan Menteri Agama Nomor 95 Tahun 2026 yang ditandatangani Menteri Agama Republik Indonesia pada 2 Februari 2026 di Jakarta. Penunjukan ini sekaligus menunjukkan kepercayaan pemerintah pusat kepada Aceh untuk kembali menjadi pusat kegiatan keislaman berskala nasional.

Pelaksana Tugas Kepala Dinas Syariat Islam Aceh, Marzuki SAg, MH, menyambut baik keputusan tersebut dan mengungkapkan rasa syukur atas amanah yang diberikan.

“Alhamdulillah, Pemerintah Pusat melalui Menteri Agama telah memberikan kepercayaan kepada Aceh untuk menjadi tuan rumah MTQ Nasional XXXIII tahun 2028 di Banda Aceh,” ujarnya, Senin (6/4/2026).

Ia menilai, penunjukan ini menjadi peluang besar bagi Aceh untuk menunjukkan kesiapan daerah dalam menyelenggarakan event nasional sekaligus memperkuat citra sebagai wilayah yang menjunjung tinggi nilai-nilai Islam.

MTQ Nasional XXXIII nantinya akan mempertandingkan berbagai cabang lomba yang berkaitan dengan Al-Qur’an. Mulai dari seni baca Al-Qur’an, qira’at, hafalan, tafsir, fahm, syarh, kaligrafi, hingga karya tulis ilmiah berbasis Al-Qur’an.

Pada cabang tilawah, peserta akan dibagi ke dalam beberapa kategori usia seperti anak-anak, remaja, hingga dewasa, termasuk kategori khusus bagi peserta tuna netra. Sementara untuk cabang hafalan, kompetisi akan disesuaikan dengan tingkat kemampuan, mulai dari satu juz hingga 30 juz.

Di cabang tafsir, peserta akan diuji dalam memahami isi kandungan Al-Qur’an menggunakan tiga bahasa, yakni Arab, Indonesia, dan Inggris. Sedangkan cabang kaligrafi mencakup berbagai jenis karya, mulai dari penulisan naskah, dekorasi mushaf, hingga karya kontemporer dan digital.

Selain sebagai ajang religi, pelaksanaan MTQ Nasional juga diharapkan memberikan dampak luas bagi daerah, seperti mendorong pertumbuhan ekonomi serta meningkatkan sektor pariwisata melalui kedatangan peserta dan tamu dari berbagai daerah di Indonesia.

Untuk jadwal pelaksanaan, pemerintah pusat akan menetapkannya kemudian. Sementara itu, pembiayaan kegiatan direncanakan berasal dari APBD Aceh dengan dukungan dari berbagai pihak terkait. [*]

Keyword:


Editor :
Indri

riset-JSI