DIALEKSIS.COM | Banda Aceh - Pemerintah pusat memastikan tradisi Meugang yang telah mengakar kuat dalam kehidupan masyarakat Aceh tetap terlaksana menjelang bulan suci Ramadan, meski provinsi tersebut tengah berada dalam fase pemulihan pascabencana.
Komitmen ini ditegaskan sebagai bentuk penghormatan terhadap kearifan lokal sekaligus upaya menjaga ketahanan sosial dan psikologis masyarakat yang terdampak.
Ketua Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) RI, Ahmad Muzani, menyampaikan bahwa pihaknya telah berkoordinasi langsung dengan Menteri Sekretaris Negara (Mensesneg) terkait penyediaan bantuan daging Meugang bagi warga Aceh, khususnya di delapan kabupaten yang terdampak bencana besar.
“Terkait penyediaan bantuan daging Meugang menghadapi Ramadan, saya sudah membicarakan hal ini kepada Mensesneg dan tidak ada masalah. Tradisi yang sudah berjalan ratusan tahun ini harus tetap terjaga meski kita dalam kondisi sulit,” ujar Ahmad Muzani dalam kunjungan kerja di Pendopo Gubernur Aceh, Selasa (10/2/2026).
Menurut Muzani, Meugang bukan sekadar tradisi konsumsi daging menjelang Ramadan, Idulfitri, dan Iduladha, tetapi memiliki makna sosial dan spiritual yang dalam bagi masyarakat Aceh.
Dalam situasi pascabencana, menjaga keberlanjutan tradisi tersebut dinilai penting untuk mengurangi beban psikologis warga sekaligus memperkuat solidaritas sosial di tengah keterbatasan ekonomi.
Ia menegaskan bahwa negara hadir tidak hanya dalam bentuk pembangunan fisik dan bantuan infrastruktur, tetapi juga melalui perhatian terhadap aspek budaya dan nilai-nilai lokal yang menjadi penopang ketahanan masyarakat.
“Pemenuhan kebutuhan pangan untuk Meugang ini adalah bagian dari upaya menjaga ketenangan batin masyarakat. Tradisi ini menjadi momentum kebersamaan keluarga dan simbol kesiapan menyambut bulan suci Ramadan,” katanya.
Pada kesempatan yang sama, Wakil Gubernur Aceh, Fadhlullah, yang akrab disapa Dek Fadh, mengatakan Pemerintah Aceh secara aktif melobi agar bantuan daging Meugang dapat disalurkan secara khusus kepada masyarakat korban bencana yang saat ini mengalami tekanan ekonomi cukup berat.
“Tradisi Meugang harus tetap dirasakan oleh masyarakat Aceh, termasuk saudara-saudara kita di delapan kabupaten terdampak bencana. Banyak warga kehilangan mata pencaharian, bahkan tempat tinggal. Di kondisi seperti ini, Meugang menjadi penguat moral dan harapan,” ujar Dek Fadh.
Dek Fadh menegaskan bahwa Meugang simbol ketahanan budaya masyarakat Aceh yang telah bertahan lintas generasi, bahkan dalam situasi konflik dan bencana di masa lalu. Oleh karena itu, menurutnya, tradisi ini tidak boleh hilang atau tergerus akibat kondisi darurat.
“Tradisi Meugang adalah napas masyarakat Aceh. Ia hidup bersama denyut sosial, keagamaan, dan kebudayaan Aceh. Saya sudah sampaikan langsung kepada pimpinan MPR dan Mensesneg agar pusat membantu penyediaan daging bagi masyarakat di wilayah bencana, dan Alhamdulillah responsnya sangat positif,” katanya.
Pemerintah Aceh berharap bantuan daging Meugang dari pemerintah pusat dapat segera direalisasikan dan didistribusikan secara tepat sasaran, terutama kepada keluarga terdampak bencana, kelompok rentan, dan masyarakat berpenghasilan rendah.
"Bantuan ini diharapkan mampu menjaga suasana kebatinan masyarakat Aceh tetap hangat dan khidmat dalam menyambut Ramadan," ujarnya. [nh]