DIALEKSIS.COM | Medan - Universitas Sumatera Utara (USU) resmi meluncurkan Konsorsium Perguruan Tinggi untuk Ketahanan Bencana Alam pada Rabu, 28 Januari 2026. Konsorsium ini dibentuk sebagai respons atas meningkatnya risiko bencana alam di wilayah Sumatera, mulai dari banjir, tanah longsor, hingga gempa bumi.
Konsorsium tersebut diketuai langsung oleh Rektor Universitas Sumatera Utara. Sementara posisi wakil ketua dipercayakan kepada Prof. Dr. Ir. Herman Fithra, ST., MT., IPM., ASEAN Eng., yang juga menjabat sebagai Rektor Universitas Malikussaleh.
Kepada Dialeksis, Prof. Herman menyebut amanah tersebut sebagai tanggung jawab kolektif perguruan tinggi dalam menjawab tantangan kebencanaan yang kian kompleks. Ia menegaskan, konsorsium ini tidak boleh berhenti pada agenda seremonial semata.
“Alhamdulillah, ini amanah besar. Konsorsium ini bukan sekadar forum simbolik, tetapi ruang kerja bersama untuk memperkuat ketahanan masyarakat berbasis ilmu pengetahuan,” ujar Herman usai peluncuran di Kampus USU kepada Dialeksis melalui sambungan seluler, Kamis (29/1/2026).
Menurutnya, peran perguruan tinggi selama ini masih kerap terfragmentasi dan terbatas pada riset atau kajian akademik yang tidak selalu terhubung dengan kebutuhan lapangan. Konsorsium ini, kata Herman, dibentuk untuk menjembatani kesenjangan tersebut.
“Kampus harus hadir sebelum bencana terjadi, bukan hanya setelahnya,” tegasnya.
Herman menjelaskan, konsorsium akan memprioritaskan penguatan riset terapan kebencanaan, pengembangan sistem peringatan dini, serta pendidikan kebencanaan lintas disiplin. Perguruan tinggi yang tergabung di dalamnya didorong untuk berkolaborasi dalam pemetaan wilayah rawan bencana serta penyusunan rekomendasi kebijakan berbasis data ilmiah.
Ia menilai, wilayah Sumatera memiliki karakteristik kerawanan bencana yang khas, baik dari sisi geografis maupun sosial. Karena itu, pendekatan penanganan yang dibangun tidak bisa bersifat seragam.
“Kita membutuhkan solusi yang kontekstual, berbasis karakter lokal, dan disusun bersama para pemangku kepentingan,” katanya.
Selain penguatan riset, konsorsium juga akan mengembangkan program pengabdian kepada masyarakat serta pelatihan kebencanaan. Mahasiswa, menurut Herman, harus dilibatkan secara aktif sebagai agen perubahan.
“Mereka bukan hanya objek pendidikan, tetapi subjek yang bisa berperan langsung dalam mitigasi dan kesiapsiagaan bencana,” ujarnya.
Dalam jangka menengah, Herman berharap konsorsium ini mampu melahirkan pusat data kebencanaan regional yang terintegrasi antarpaguruan tinggi. Data tersebut diharapkan menjadi rujukan strategis bagi pemerintah daerah dalam merancang kebijakan penanggulangan bencana.
“Kampus harus menjadi mitra strategis negara, bukan sekadar pengamat,” katanya.
Ia juga menekankan pentingnya sinergi lintas sektor. Menurut Herman, konsorsium akan membuka ruang kerja sama dengan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), BMKG, dunia usaha, hingga komunitas lokal.
“Ketahanan bencana tidak bisa dibangun sendiri. Ini adalah kerja kolaboratif,” ucapnya.
Menutup keterangannya, Herman berharap konsorsium ini mampu menghasilkan dampak nyata bagi masyarakat, bukan sekadar aktivitas akademik.
“Ukuran keberhasilan kami bukan jumlah seminar, tetapi berkurangnya risiko dan korban ketika bencana datang,” katanya.
Peluncuran konsorsium tersebut dihadiri pimpinan perguruan tinggi, akademisi, serta perwakilan pemerintah daerah. Mereka sepakat bahwa kolaborasi antarkampus menjadi kunci utama dalam membangun ketahanan bencana yang berkelanjutan di Indonesia.
Selain peluncuran konsorsium, bersama Majelis Rektor Perguruan Tinggi Negeri Indonesia (MRPTNI), Konsorsium Perguruan Tinggi Ketahanan Bencana juga melakukan kunjungan kerja serta penyaluran bantuan kepada masyarakat terdampak bencana di Tanjung Pura, Kabupaten Langkat, Sumatera Utara, serta di Kabupaten Aceh Tamiang, Aceh Utara, dan Kota Lhokseumawe.
Kegiatan tersebut dihadiri oleh Rektor Universitas Negeri Gorontalo (UNG), USU, Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS), Universitas Tadulako (UNTAD), Universitas Maritim Raja Ali Haji (UMRAH), Universitas Teuku Umar (UTU), dan Universitas Samudra (UNSAM). Turut hadir pula Wakil Rektor dari Universitas Indonesia (UI), Universitas Negeri Padang (UNP), dan USU, serta perwakilan dari Universitas Padjadjaran (UNPAD), Universitas Sebelas Maret (UNS), Universitas Negeri Surabaya (UNESA), dan Universitas Sriwijaya (UNSRI), pada Kamis, 29 Januari 2026. [arn]