Rabu, 20 Mei 2026
Beranda / Berita / Nasional / WHO Tetapkan Darurat Ebola, Begini Langkah Siaga Indonesia

WHO Tetapkan Darurat Ebola, Begini Langkah Siaga Indonesia

Rabu, 20 Mei 2026 11:30 WIB

Font: Ukuran: - +

Reporter : Indri

Kepala Biro Komunikasi dan Informasi Publik Kemenkes, Aji Muhawarman, mengatakan status darurat yang ditetapkan WHO menjadi sinyal perlunya kewaspadaan global terhadap penyebaran Ebola. [Foto: dok. kompas.com/Fika Nurul Uhya]


DIALEKSIS.COM | Jakarta - Kementerian Kesehatan RI memastikan hingga kini belum ditemukan kasus Ebola di Indonesia. Meski demikian, pemerintah memperkuat kewaspadaan setelah Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menetapkan wabah Ebola di Republik Demokratik Kongo sebagai Darurat Kesehatan Masyarakat yang Meresahkan Dunia (Public Health Emergency of International Concern/PHEIC) pada 17 Mei 2026.

Kepala Biro Komunikasi dan Informasi Publik Kemenkes, Aji Muhawarman, mengatakan status darurat yang ditetapkan WHO menjadi sinyal perlunya kewaspadaan global terhadap penyebaran Ebola. Menurut dia, langkah itu diambil karena tingginya angka kematian dan adanya penyebaran lintas wilayah di kawasan Afrika Tengah.

“Kementerian Kesehatan terus memantau situasi global dan melakukan penguatan kewaspadaan lintas sektor. Kami memastikan seluruh pintu masuk negara, baik pelabuhan maupun bandara, meningkatkan pengawasan terhadap pelaku perjalanan, terutama yang berasal dari negara terdampak,” ujar Aji.

Kemenkes juga memperkuat skrining terhadap pelaku perjalanan internasional dengan menyiagakan petugas kesehatan di bandara dan pelabuhan. Selain itu, prosedur rujukan ke rumah sakit berstandar internasional disiapkan apabila ditemukan penumpang dengan gejala yang mengarah pada Ebola. 

Seluruh laporan dari pintu masuk negara akan dipantau selama 24 jam melalui Sistem Kewaspadaan Dini dan Respons (SKDR) serta Public Health Emergency Operation Center (PHEOC).

Berdasarkan data resmi, wabah di Provinsi Ituri, RD Kongo, disebabkan oleh virus Ebola jenis Bundibugyo. Hingga 16 Mei 2026, tercatat 246 kasus suspek, termasuk delapan kasus terkonfirmasi dan 80 kematian. Kasus terkait perjalanan juga dilaporkan di Kampala, Uganda, serta Kinshasa akibat tingginya mobilitas penduduk dan keterbatasan fasilitas kesehatan.

Aji menjelaskan, Ebola merupakan penyakit infeksi virus dengan tingkat fatalitas tinggi. Penularannya terjadi melalui kontak langsung dengan darah, cairan tubuh, atau benda yang terkontaminasi manusia maupun hewan yang terinfeksi. Gejalanya meliputi demam mendadak, tubuh lemas, nyeri otot, sakit kepala, hingga muntah, diare, dan perdarahan.

“Langkah terbaik saat ini adalah tetap waspada dengan rajin mencuci tangan menggunakan air dan sabun, mengenakan masker jika merasa kurang sehat, serta menerapkan etika batuk dan bersin yang benar. Hindari juga kontak langsung dengan orang atau hewan yang sakit,” kata Aji. [in]

Keyword:


Editor :
Redaksi

riset-JSI