Minggu, 17 Mei 2026
Beranda / Opini / Meugang Semestinya Harga Daging di Aceh Murah

Meugang Semestinya Harga Daging di Aceh Murah

Minggu, 15 Februari 2026 08:00 WIB

Font: Ukuran: - +

Penulis :
Djamaluddin Husita

Djamaluddin Husita, S.Pd., M.Si, Kepala Madrasah Aliyah Ulumul Quran Kota Banda Aceh, meminati masalah Pendidikan dan Sosial Masyarakat. [Foto: Dokpri]



DIALEKSIS.COM | Opini - Menjelang Ramadhan, Aceh berubah. Pasar-pasar mendadak ramai, percakapan tentang harga daging terdengar di warung kopi, di sudut kampung, bahkan di kantor. Aroma bumbu dan rempah mulai tercium di dapur rumah-rumah sederhana hingga rumah besar. Persiapan Meugang bukan sekadar memasak, tetapi ritual sosial yang mengikat masyarakat.

Meugang atau Mak Meugang sendiri adalah tradisi masyarakat Aceh menyembelih dan mengonsumsi daging secara bersama-sama menjelang hari-hari besar Islam, terutama Ramadhan, Idul Fitri, dan Idul Adha. Tradisi ini bukan sekadar kegiatan membeli dan memasak daging, tetapi simbol kebersamaan, ungkapan syukur, serta cara berbagi kebahagiaan dengan keluarga dan lingkungan sekitar. 

Dalam kehidupan masyarakat Aceh, Meugang bahkan telah berkembang menjadi tradisi kebersamaan yang memiliki nilai sakral secara sosial dan kultural karena selalu menandai momentum penting keagamaan sekaligus mempererat hubungan antaranggota masyarakat.

Khusus menjelang Ramadhan, tradisi ini menjadi salah satu bentuk kegembiraan masyarakat Aceh dalam menyambut datangnya bulan suci. Kegembiraan dalam menyambut Ramadhan sendiri merupakan sikap yang dianjurkan dalam Islam, karena bulan tersebut adalah waktu yang penuh berkah, ampunan, dan kesempatan meningkatkan kualitas ibadah. Dengan demikian, Meugang bukan hanya tradisi budaya, tetapi juga menjadi ekspresi sosial-keagamaan yang mencerminkan rasa syukur dan sukacita dalam menyongsong bulan puasa.

Ada kegembiraan khas setiap tahun. Meugang adalah pengalaman bersama, momen di mana masyarakat merayakan kebersamaan, bukan hanya mengisi perut. Di banyak keluarga, Meugang juga menjadi waktu berkumpul, mempererat silaturahmi, dan menumbuhkan kembali kehangatan hubungan keluarga sebelum memasuki bulan suci.

Namun, kegembiraan itu terkadang diiringi kegelisahan karena harga daging melonjak tajam, membuat sebagian keluarga berpikir dua kali sebelum membeli. Lonjakan ini sering dianggap wajar karena permintaan meningkat pesat sementara pasokan terbatas. Mekanisme pasar bekerja sebagaimana biasanya. Tetapi Meugang bukan sekadar soal ekonomi. Tradisi ini lahir dan berkembang untuk tujuan sosial dan pendidikan yang lebih luas daripada sekadar aktivitas konsumsi.

Sejak masa kesultanan, kebiasaan menyembelih hewan menjelang Ramadhan menjadi cara memeratakan kegembiraan. Kehadiran daging di meja makan menjadi tanda bahwa hari besar agama adalah milik semua rakyat. Tidak hanya mereka yang mampu, tetapi juga masyarakat kecil. Semua orang diharapkan dapat merasakan kebahagiaan yang sama dalam menyambut bulan suci.

Dalam keluarga Aceh, Meugang menjadi ruang pendidikan sosial yang alami. Anak-anak belajar berbagi, menghormati orang tua, memperhatikan tetangga, dan memahami kondisi orang lain.

Tradisi ini membentuk ingatan dan karakter lintas generasi. Kenangan tentang suasana Meugang sering melekat kuat dalam memori masa kecil dan menjadi bagian dari identitas budaya. Namun semua nilai itu hanya dapat hidup jika seluruh masyarakat memiliki kesempatan untuk ikut berpartisipasi.

Harga dan Pendidikan Sosial

Kebersamaan hanya terasa utuh jika semua orang dapat merasakannya. Ketika harga daging melonjak, sebagian keluarga harus mengurangi pembelian, bahkan ada yang tidak membeli sama sekali.

Persoalan ini tidak hanya berkaitan dengan kemampuan ekonomi, tetapi juga menyentuh aspek sosial dan psikologis. Dalam masyarakat yang memiliki ikatan komunal kuat seperti di Aceh, ketidakmampuan mengikuti tradisi dapat menimbulkan perasaan tertinggal atau terpinggirkan.

Harga daging pada momentum Meugang tidak seharusnya diperlakukan seperti hari biasa. Meugang adalah peristiwa sosial yang menjadi milik bersama. Karena itu, logika yang digunakan tidak hanya logika pasar, tetapi juga logika kepentingan sosial. Jika kenaikan permintaan selalu diikuti lonjakan harga yang tinggi, maka tujuan utama Meugang untuk memeratakan kegembiraan justru tidak tercapai.

Harga yang terjangkau penting untuk menjaga fungsi pemersatu tradisi. Momentum keagamaan seharusnya memperkecil jarak sosial, bukan memperlebar. Ketika sebagian rumah memasak daging sementara sebagian lainnya tidak mampu membeli, kesenjangan ekonomi menjadi semakin terasa dalam ruang sosial yang seharusnya menghadirkan kebahagiaan bersama.

Karena itu, menjaga harga tetap wajar bukan hanya soal ekonomi, tetapi juga soal keadilan sosial, etika ekonomi, dan menjaga nilai sakral kebersamaan yang melekat dalam tradisi Meugang.

Persoalan harga memang tidak berdiri sendiri. Daging melalui rantai distribusi yang panjang, mulai dari peternak hingga pedagang eceran. Namun jika lonjakan harga terjadi setiap tahun dengan pola yang sama, maka diperlukan langkah yang lebih serius dan terencana.

Pemerintah daerah perlu hadir melalui operasi pasar pada momentum Meugang agar masyarakat memiliki alternatif harga yang lebih terjangkau. Pengawasan distribusi dan pencegahan penimbunan juga penting untuk memastikan pasokan tidak ditahan demi keuntungan sesaat.

Di tingkat gampong, semangat gotong royong dapat dihidupkan kembali melalui penyembelihan bersama atau pembelian daging secara bersama dengan sistem meuripee, sebagaimana pernah dipraktikkan oleh masyarakat terdahulu di berbagai gampong. Mekanisme ini memungkinkan harga menjadi lebih terjangkau sekaligus mendorong pembagian yang lebih merata. Lebih dari itu, praktik tersebut memperkuat kembali nilai kebersamaan yang menjadi inti tradisi Meugang.

Dalam jangka panjang, penguatan peternakan lokal menjadi langkah strategis. Dukungan terhadap peternak, kemudahan akses pakan, pembiayaan yang terjangkau, serta pengembangan sentra ternak akan membantu menjaga stabilitas pasokan sehingga lonjakan harga saat Meugang dapat ditekan.

Meugang bukan soal banyaknya daging di meja, tetapi makna di baliknya. Sebungkus kecil yang dibagikan kepada tetangga, makanan yang diantar kepada orang tua, dan kebersamaan keluarga sebelum Ramadhan adalah pelajaran hidup tentang empati, kepedulian, dan solidaritas sosial. Tradisi ini sebagai ruang pendidikan karakter yang hidup di tengah masyarakat.

Meugang adalah tradisi rakyat yang akan terus dijalankan oleh masyarakat dalam berbagai kondisi. Tradisi ini telah menjadi bagian dari kehidupan sosial yang mengakar kuat dan tidak mudah ditinggalkan. Namun, ketika harga daging semakin tinggi, beban ekonomi keluarga menjadi lebih berat. Tidak sedikit yang harus menyesuaikan pengeluaran lain atau membeli dalam jumlah sangat terbatas hanya agar tetap dapat menjalankan tradisi.

Sebaliknya, jika harga daging lebih terjangkau, beban masyarakat akan jauh lebih ringan. Keluarga tidak perlu mengorbankan kebutuhan pokok lainnya, bahkan masih memiliki ruang untuk saling berbagi dengan orang tua, kerabat, dan tetangga. Seperti itulah kegembiraan Meugang dapat dirasakan lebih luas, tidak hanya sebagai kewajiban sosial, tetapi sebagai perayaan kebersamaan yang hangat dan bermakna.

Menjaga harga daging tetap masuk akal berarti menjaga Meugang benar-benar menjadi milik semua. Harga yang terjangkau memungkinkan lebih banyak keluarga berpartisipasi, memperkuat tradisi berbagi, dan memastikan bahwa nilai kebersamaan yang telah dianggap sakral tetap hidup dalam kehidupan masyarakat Aceh.

Pada akhirnya, Meugang bukan sekadar soal daging, tetapi tentang rasa syukur, kepedulian, dan persaudaraan. Ketika harga tetap terjangkau, bukan hanya kebutuhan ekonomi yang terbantu, tetapi juga martabat sosial terjaga dan kegembiraan menyambut Ramadhan dapat dirasakan bersama dengan hati yang lebih ringan. [**]

Penulis: Djamaluddin Husita, S.Pd., M.Si (Kepala Madrasah Aliyah Ulumul Quran Kota Banda Aceh, meminati masalah Pendidikan dan Sosial Masyarakat)

Keyword:


Editor :
Redaksi

riset-JSI