Minggu, 17 Mei 2026
Beranda / Politik dan Hukum / JASA Nilai Ketua BRA Jamaluddin Banyak Berkhayal, Kurang Peduli Korban Konflik

JASA Nilai Ketua BRA Jamaluddin Banyak Berkhayal, Kurang Peduli Korban Konflik

Kamis, 16 April 2026 23:00 WIB

Font: Ukuran: - +

Reporter : Naufal Habibi

Juru Bicara Jaringan Aneuk Syuhada Aceh (JASA), Datul Abrar. Dokumen untuk dialeksis.com.


DIALEKSIS.COM | Banda Aceh - Jaringan Aneuk Syuhada Aceh (JASA) mengkritik kinerja Ketua Badan Reintegrasi Aceh (BRA), Jamaluddin yang dinilai hanya piawai dalam berwacana tanpa adanya kerja nyata yang dirasakan langsung oleh masyarakat terdampak konflik.

​"Sejak menjabat tahun 2024, kepemimpinan Jamaluddin hingga saat ini tidak membuahkan prestasi apa pun. Sebaliknya, kondisi para korban konflik, mantan narapidana politik (Napol), dan tahanan politik (Tapol) justru semakin terabaikan di bawah arahannya," kata Juru Bicara JASA, Datul Abrar kepada media dialeksis.com, Rabu (15/4/2026).

Dalam hal ini, katanya, sudah dua tahun BRA dipimpin oleh jamaluddin, tidak ada satu pun program strategis yang menyentuh langsung kebutuhan ekonomi maupun sosial korban konflik dan Tapol/Napol.

"Jamaluddin lebih banyak berbicara tentang rencana-rencana yang tidak realistis dan bersifat "khayalan" daripada fokus pada eksekusi anggaran dan program kerja yang mendesak," ujarnya.


Selama ini, BRA di bawah Jamaluddin dinilai hanya sibuk mengumpulkan data korban konflik secara berulang-ulang tanpa pernah menindaklanjutinya dengan bantuan atau pemberdayaan yang konkret.

​"Kami melihat Ketua BRA saat ini terlalu banyak menghayal dan membangun angan-angan. Beliau banyak ngomong di media, tapi fakta di lapangan nol besar. Jangan jadikan penderitaan korban konflik sebagai komoditas untuk meminta data saja, sementara realisasinya tidak pernah ada," ujarnya.

​Kekecewaan ini bukan tanpa alasan. Banyak keluarga korban konflik dan mantan Napol/Tapol yang menaruh harapan besar pada lembaga BRA sebagai instrumen perdamaian dan kesejahteraan pasca-MoU Helsinki.

Namun, gaya kepemimpinan Jamaluddin dianggap justru menjauhkan lembaga tersebut dari marwah aslinya. Jaringan Aneuk Syuhada Aceh mendesak agar ada evaluasi menyeluruh terhadap jabatan Ketua BRA. 

"Aceh membutuhkan sosok yang mampu bekerja dengan aksi nyata, bukan sekadar retorika yang memberikan harapan palsu bagi mereka yang telah lama berkorban demi daerah ini," tutupnya.

Keyword:


Editor :
Alfi Nora

riset-JSI