DIALEKSIS.COM | Jakarta - Prestasi membanggakan kembali ditorehkan putra daerah Aceh. Dr. dr. Hendra Zufry, Sp.PD, K-EMD, FINASIM, meraih juara 1 dalam ajang Prodia Science Award 2026 untuk kategori Biomedical Innovation for Precision Medicine, sebuah penghargaan bergengsi bagi peneliti dan inovator di bidang kesehatan. Informasi mengenai pencapaian tersebut diperoleh Dialeksis, yang kemudian langsung menghubungi dr. Hendra Zufry untuk meminta tanggapan atas keberhasilan tersebut.
Hendra yang saat ini menjabat sebagai Kepala Divisi Endokrinologi Metabolik dan Diabetes serta Pusat Pelayanan Tiroid Terpadu pada Departemen/KSM Ilmu Penyakit Dalam Fakultas Kedokteran Universitas Syiah Kuala/RSUD dr. Zainoel Abidin Banda Aceh, dinilai unggul atas kontribusi riset dan inovasinya yang berdampak nyata.
Penghargaan tersebut diselenggarakan oleh Prodia Education and Research Institute (PERI), lembaga yang didirikan oleh Andi Wijaya PhD, pendiri Prodia Laboratorium. PERI diketahui telah bekerja sama dengan 65 fakultas kedokteran di Indonesia serta aktif memberikan beasiswa dan hibah penelitian bagi mahasiswa di bidang kesehatan.
Hendra menjelaskan, Prodia Science Award 2026 merupakan inisiatif pertama yang digagas PERI dengan sistem seleksi ketat dan komprehensif. Penilaian dilakukan berdasarkan sejumlah indikator, mulai dari kualitas riset, publikasi ilmiah, kiprah sebagai invited speaker di forum internasional, kepemilikan hak kekayaan intelektual dan paten, hingga dampak langsung terhadap masyarakat.
“Prodia Science Award ini bukan sekadar penghargaan, tetapi bentuk pengakuan terhadap kerja-kerja ilmiah yang memberikan manfaat nyata. Ini menjadi ruang bagi para peneliti untuk terus berkontribusi bagi kemajuan ilmu pengetahuan dan pelayanan kesehatan,” ujar Hendra kepada Dialeksis, 9 Mei 2026.
Ia mengaku, undangan sebagai nominasi saja sudah menjadi kebanggaan tersendiri. Mengingat, kata dia, banyak peneliti hebat dari seluruh Indonesia yang juga masuk dalam radar penilaian.
“Ketika mendapat undangan nominasi, rasanya seperti mimpi. Saya sadar banyak kandidat luar biasa di Indonesia. Karena itu, capaian ini menjadi amanah besar untuk terus berkarya dan memberikan kontribusi yang lebih luas,” katanya.
Dalam ajang tersebut, posisi kedua diraih dosen senior dari Universitas Padjadjaran, sementara posisi ketiga ditempati peneliti senior dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN).
Hendra menegaskan, capaian ini bukan akhir, melainkan awal dari tanggung jawab yang lebih besar dalam mengembangkan riset berbasis kebutuhan masyarakat, khususnya di Aceh.
“Ke depan, saya ingin memperkuat riset yang lebih aplikatif dan berdampak langsung bagi masyarakat. Terutama dalam pengembangan precision medicine, agar pelayanan kesehatan semakin tepat sasaran,” ujarnya.
Ia juga menyampaikan apresiasi kepada Universitas Syiah Kuala dan Pemerintah Aceh yang selama ini memberikan dukungan terhadap pengembangan riset dan inovasi.
“Terima kasih atas dukungan Universitas Syiah Kuala dan Pemerintah Aceh. Tanpa dukungan tersebut, tentu perjalanan riset ini tidak akan sampai pada titik ini,” ucapnya.
Sementara itu, pendiri Prodia Laboratorium, Andi Wijaya PhD, turut memberikan apresiasi atas capaian Hendra. Ia menilai, prestasi tersebut mencerminkan dedikasi dan kontribusi nyata dalam dunia ilmu pengetahuan dan pelayanan kesehatan.
“Terima kasih atas dedikasi, inovasi, dan kontribusi luar biasa dalam kemajuan ilmu pengetahuan dan pelayanan kesehatan. Semoga prestasi ini menjadi inspirasi bagi banyak orang dan membawa manfaat yang lebih luas bagi masyarakat,” ujar Andi Wijaya.
Ia juga mendorong agar para peneliti Indonesia terus berkarya dan memberikan dampak positif bagi bangsa.
“Terus berkarya, menginspirasi, dan memberikan arti,” tambahnya.
Hendra berharap, penghargaan ini dapat menjadi pemantik semangat bagi generasi muda dan insan akademik di Aceh untuk terus menekuni dunia riset.
“Semoga ini menjadi motivasi bagi insan ilmiah lainnya di Aceh untuk terus berinovasi dan berkontribusi,” katanya.
Di tengah tantangan dunia kesehatan yang semakin kompleks, capaian ini menegaskan bahwa riset dan inovasi dari daerah mampu bersaing di tingkat nasional, bahkan membuka jalan menuju pengakuan global. Keberhasilan Hendra Zufry bukan hanya tentang kemenangan individu, melainkan juga cermin dari potensi besar Aceh dalam melahirkan karya-karya ilmiah yang berdampak luas. Dari laboratorium hingga pelayanan kesehatan, langkah-langkah kecil yang konsisten itu kini menjelma menjadi inspirasi bahwa ilmu pengetahuan, ketika ditekuni dengan kesungguhan, dapat memberi arti bagi banyak orang.