Rabu, 24 Juni 2026
Beranda / Berita / Aceh / Kekurangan Guru PLB, SLB YPPC Banda Aceh Andalkan Guru Lintas Jurusan

Kekurangan Guru PLB, SLB YPPC Banda Aceh Andalkan Guru Lintas Jurusan

Selasa, 23 Juni 2026 15:30 WIB

Font: Ukuran: - +

Reporter : Naufal Habibi

Kepala SLB YPPC Banda Aceh, Yenti Alfia. [Foto: Naufal Habibi/dialeksis.com]


DIALEKSIS.COM | Banda Aceh - Di balik peningkatan fasilitas yang diperoleh melalui program revitalisasi sekolah, Sekolah Luar Biasa (SLB) Yayasan Pendidikan Penyandang Cacat (YPPC) Banda Aceh masih menghadapi tantangan besar dalam penyelenggaraan pendidikan bagi anak berkebutuhan khusus. 

Hingga saat ini, sekolah tersebut belum memiliki tenaga pendidik yang berlatar belakang Pendidikan Luar Biasa (PLB).

Kepala SLB YPPC Banda Aceh, Yenti Alfia, mengungkapkan bahwa seluruh guru yang mengajar di sekolah tersebut berasal dari berbagai jurusan pendidikan umum. 

Mereka tetap menjalankan tugas mendidik siswa berkebutuhan khusus meski tidak memiliki pendidikan khusus yang secara spesifik mempersiapkan tenaga pengajar untuk menangani peserta didik difabel.

“Guru yang memiliki latar belakang PLB memang belum ada. Guru-guru kami berasal dari berbagai jurusan seperti Bahasa Indonesia, Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan, hingga Pendidikan Agama Islam,” kata Yenti usai menghadiri peresmian revitalisasi sekolah oleh Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah, Selasa (23/6/2026).

Menurut Yenti, kondisi tersebut menjadi tantangan tersendiri karena karakteristik dan kebutuhan setiap siswa berbeda-beda. Guru dituntut mampu menyesuaikan metode pembelajaran dengan kondisi masing-masing peserta didik agar proses belajar dapat berjalan efektif.

Saat ini, SLB YPPC Banda Aceh menampung 38 siswa dengan berbagai ragam kebutuhan khusus, mulai dari tunarungu, tunagrahita, tunadaksa hingga kategori kebutuhan khusus lainnya. Dari jumlah tersebut, siswa tunagrahita menjadi kelompok yang paling dominan.

Meski masih menghadapi keterbatasan sumber daya manusia, Yenti menyebut program revitalisasi yang diterima sekolah membawa dampak positif bagi lingkungan belajar.

 Perbaikan sarana dan prasarana dinilai mampu meningkatkan motivasi guru maupun siswa dalam mengikuti kegiatan pembelajaran.

“Harapan kami tentu guru-guru semakin bersemangat dan anak-anak juga lebih termotivasi untuk belajar. Dengan fasilitas yang lebih baik, suasana belajar menjadi lebih nyaman dan menyenangkan,” ujarnya.

Sebelum mendapatkan revitalisasi, sekolah hanya memiliki tiga ruang kelas yang digunakan untuk seluruh kegiatan belajar mengajar. Kondisi tersebut dinilai belum mampu mengakomodasi kebutuhan pembelajaran siswa berkebutuhan khusus yang memerlukan pendekatan berbeda sesuai karakter masing-masing.

Keterbatasan juga dirasakan pada media pembelajaran. Untuk siswa tunanetra misalnya, proses belajar selama ini lebih banyak mengandalkan metode perabaan karena minimnya alat bantu pendidikan yang tersedia.

“Dulu fasilitas pembelajaran sangat terbatas. Kami hanya memanfaatkan laptop dan infokus yang ada. Untuk anak tunanetra, pembelajaran lebih banyak dilakukan melalui perabaan karena alat bantu yang tersedia masih sangat minim,” ungkapnya.

Melalui program revitalisasi, sekolah kini memperoleh tambahan berbagai perangkat pendukung pembelajaran, termasuk alat dan kertas Braille serta sejumlah media belajar lainnya yang dirancang khusus untuk siswa berkebutuhan khusus.

Selain fokus pada pendidikan akademik, SLB YPPC Banda Aceh juga terus mengembangkan kemampuan vokasional peserta didik. Berbagai pelatihan keterampilan seperti menjahit, membuat kue, dan kegiatan keterampilan lainnya rutin diberikan setiap pekan sebagai bekal kemandirian bagi siswa setelah menyelesaikan pendidikan.

Ia berharap ke depan pemerintah dapat memberikan perhatian lebih terhadap kebutuhan tenaga pendidik berlatar Pendidikan Luar Biasa di Aceh, sehingga layanan pendidikan bagi anak berkebutuhan khusus dapat semakin optimal dan sesuai dengan kebutuhan peserta didik.

"Kami ingin anak-anak tidak hanya mendapatkan pendidikan di sekolah, tetapi juga memiliki keterampilan yang bisa menjadi modal untuk hidup mandiri di masa depan,” tutup Yenti. [nh]

Keyword:


Editor :
Redaksi

riset-JSI
dishes