Logo Dialeksis
Beranda / Analisis / Peluang dan Dinamika Politik DPR RI Dapil ACEH 1

Peluang dan Dinamika Politik DPR RI Dapil ACEH 1

Kamis, 14 Maret 2019 09:31 WIB

Font: Ukuran: - +

Ilustrasi : Pondek

DIALEKSIS.COM |  Pada Pemilihan Umum yang dihelat 17 April 2019 mendatang , untuk konteks DPR RI terdapat dua Dapil yaitu Dapil Aceh 1 dan Dapil Aceh 2.

Untuk Dapil Aceh 1 yang terdiri dari Aceh Selatan, Aceh Tenggara, Aceh Barat, Kota Banda Aceh, dan Kota Subulussalam, terdapat  98 caleg itu akan bersaing memperebutkan 7 kursi DPR RI. Artinya, 1 kursi DPR RI akan diperebutkan paling tidak oleh 14 orang di dapil tersebut.

mencermati level dinamika politik di level DPRI RI Dapil Aceh 1, menurut pengamat politik dan Keamanan Aceh, Aryos Nivada benar-benar menguras energi kandidat dalam arti tenaga, pikiran, modalitas dan tim kerja yang kuat akan benar benar diuji didapil 1. Untuk meraih modal di Dapil 1 tidak mudah, selain sebaran suara berada di beberapa wilayah, kandidat juga harus benar-benar jeli dalam menyusun strategi serta melihat momentum.

“Bila kita melihat peluang keterpilihan dari dapil 1, hasil informasi dan observasi lapangan, kita mendapatkan kesimpulan beberapa partai partai nasional yang telah memiliki nama. Partainya yaitu Nasdem,  Demokrat, Gerindra, Golkar PAN, PKS, kemudian Kuda hitam antara PPP atau PKB.” ujar aryos.

Bila dilihat dari segi sosok yang mewakili, Dosen FISIP Unsyiah ini menuturkan terdapat banyak wajah baru nantinya di Dapil Aceh 1 yang akan menggeser petahana. Hanya sedikit yang bertahan, salah satunya adalah Teuku Riefky Harysa dari Partai Demokrat

“Sebagai Petahana, Riefky sudah memiliki modalitas politik yang telah dibangun jauh jauh hari. Tambang suara Riefky ada di Kalangan Pemuda, ulama, kalangan pendidikan.  Namun harus diingat, di Dapil 1 ini akan banyak muncul muka baru. Hampir semua orang baru. Bahkan bisa dipastikan tidak lebih dari dua petahana yang akan bertahan. Hanya Riefky yang berpotensi” jelasnya.

Kemudian di partai lain seperti PAN sendiri terdapat beberapa kandidat potensial lolos, seperti Muslim, kuda hitamnya  Nazaruddin Dek Gam.

“ Peluang Muslim lebih unggul daripada Dek Gam. Walau kandidat yang diusung PAN kalah, tetapi potensi suara Muslim ada di Asel. Namun di Aceh Tenggara  sendiri posisi Muslim besar suara disana pada 2014, dengan raihan suara 15.054.  Dalam konteks kekinian, akan mengalami pergeseran walaupun tidak signigikan.  Dipastikan di Aceh tenggara akan pecah, info diperoleh Bupati Aceh Tenggara Raidin tidak mendukung Muslim. Bahkan banyak juga caleg asli dari wilayah Aceh Tenggara yang maju, seperti Andi Sinulingga dan Salim Fakri. mereka berdua akan menggerus suara dari Muslim” ucap aryos.

Lebih rinci, aryos menjelaskan seperti Di Subulussalam sebagai basis suara terbesar kedua Muslim, apalagi kandidat yang diusung berhasil menang di Pilkada 2017 melalui wakil walikota Subulussalam menjaga dan memperbesar suara.  

“Salmaza memang dari PAN namun bupatinya kemungkinan tidak akan fokus membantu Muslim sebab dia akan memperjuangkan partainya sendiri Hanura. Akan tetapi kembali dari sejauhmana komunikasi politik yang dibangun oleh Muslim untuk menyakinkan Bintang dan basis grass root pemilih di Subulussam. Memang dari Muslim memilki jejaring di basis grass root sebab banyak saudaranya di Subulussalam. Namun yang harus dipahami bahwa dalam konteks politik basis saudara yang kuat itu dapat beralih ke kandidat lain manakala secara posisi nilai tawar maupun komunikasi yang dibangun muslim mandek, maka semua itu dapat berubah.” rincinya.

Bagaimana dengan sebaran suara di Pidie dan Pidie Jaya? secara basis Muslim kurang memiliki basis suara disana.

“Sehingga dirinya akan bertarung sengit dengan kandidat yang memang berasal dari sana. Misal Sulaiman Abda yang memiliki basis kuat di Pidie dan Pidie Jaya. Maka itulah saya katakan posisi Muslim jika tidak benar dalam penggalangan dan menjalankan strategi jitu bisa kalah di Pileg 2019” tukas aryos

Alumnus Universitas Gadjah Mada ini lebih lanjut menuturkan, dari dinamika politik yang ada, terdapat sosok baru yang potensial terpilih.  Tak lain adalah   wartawan spesialis wilayah konflik yang wajahnya tak asing lagi di layar kaca, Desi Fitriani.

“Mantan wartawan metro TV ini bila kita lihat ritme kerja timnya di Dapil 1 sangat dinamis dan kencang. Sampai ke Aceh tenggara, aceh selatan melaboh semua di jelajahi. Terlebih dengan bantuan luar biasa Surya Paloh yang mendukung penuh Desy. Sehingga semakin memperbesar peluang keterpilhan dirinya” kata aryos.

Sedangkan Dari Golkar yang memiliki elektabilitas keterpilihan tinggi adalah Sulaiman Abda.  

“jumlah suara badan yang diraih Sulaiman Abda ketika maju di DPRA dari Dapil Aceh 1 mencapai sekitar 17.023 suara. Ini menjadi yang terbanyak dari seluruh caleg yang bertarung di Dapil I. Ditambah lagi dia asli Pidie. Banyak hal yang sudah dikontribusikan oleh sulaiman abda untuk memperkuat keterpilihan dirinya” jelasnya

Kekuatan Sulaiman Abda adalah dia mampu membangun kerelawanan dari beragam kalangan dan latar belakang, seperti pemuda, ulama dan lainnya. Dipastikan suara Sulaiman Abda akan besar di Pidie, Pidie Jaya, Banda Aceh, Aceh Besar, Sabang, ditambah lagi dengan Nagan Raya dan Aceh Barat serta sedikit di Aceh Selatan.  Namun Aceh Jaya kurang optimal.

Bila di PKS, fifty fifty antara Ghufron dan Rafly Kande.

“Masing masing punya basis, Rafly basisnya di kalangan kebudayaan dan seniman serta pantai barat selatan.  Di barat selatan dia rutin mengunjungi wilayah ini pada saat dia menjadi anggota DPD. Dirinya juga sering berbicara terkait isu isu keacehan. Rafly dikenal pamornya sebagai seniman dan juga elit politik. Akan halnya Ghufron hanya dikenal sebagai ketua PKS. Kurang menonjol sebab dirinya kurang komunikatif dibanding rival separtainya Rafly” ucapnya

Akan halnya di Gerindra akan terjadi pertarungan sengit antara Fahdulah atau dikenal dengan dek fad dengan Abdullah Saleh.  

“sedangkan di PKB yang memiliki potensi kuat adalah Irmawan. Dirinya memiliki daya tawar di Gayo Lues dan irisan suara di beberapa wilayah seperti Aceh Besar dan Aceh Selatan” pungkas Aryos.

Meski demikian, dinamika politik Dapil 1 yang sangat cair dan dinamis menurut Aryos membuat Peta politik dapat berubah seiring dinamika yang terjadi dilapangan dengan segala faktor yang mempengaruhi.

“ Yang jelas Kunci Di dapil 1 sangat ditentukan pada sosok, pengaruh jaringan dayah, jaringan tokoh kunci, dan pengaruh uang dan partai” tutup Aryos. (PD)


Editor :
Pondek

darwis jeunib
pelantikan menteri nadiem
Komentar Anda