Minggu, 17 Mei 2026
Beranda / Feature / Pagi yang Menyesakkan di Almahirah

Pagi yang Menyesakkan di Almahirah

Senin, 19 Januari 2026 12:00 WIB

Font: Ukuran: - +

Reporter : MRD

Suasana pasar Almahirah, Lamdingin, Kota Banda Aceh. [Foto: Dialeksis.com/Murdeli]


DIALEKSIS.COM | Feature - Sang matahari baru muncul beberapa saat lalu. Meredup di balik awan. Dari kejauhan, terlihat awan memeluk gunung Seulawah Agam yang memesona. Bagian bawah gunung di Lembah Seulawah, Aceh Besar itu, pun dikerubungi kabut, bersama pegunungan dan perbukitan yang berpanorama.

Pasar Almahirah, Lamdingin, Kecamatan Kuta Alam, Kota Banda Aceh, sejak pagi sudah ramai. Becak motor menderu, dibarengi suara knalpot sepeda motor (motor) dan pikap di jalanan komplek pasar kebanggaan warga Banda Aceh yang relatif tak dapat dibanggakan.

Di jalan pintu masuk sebelah selatan pasar yang tidak teratur itu, memang agak lumayan. Walau ada pedagang berjualan bebas terkesan tanpa aturan. Lebih ke dalam lagi, ada pedagang berjualan di tempat yang seharusnya untuk parkir. Menaruh barang beralaskan spanduk atau terpal.

Lebih tak lumayan lagi, di ruas jalan belakang deretan bangunan pasar, bagian barat komplek. Suasana lebih menyesakkan. Jalan sudah sempit. Tapi motor, becak sampai pikap mengaspal. Tak heran, jika sebentar-sebentar macet. Warga yang berbelanja dengan berjalan kaki pun terganggu.

Pengendara motor biasanya warga yang berbelanja. Langsung berhenti dekat pedagang kaki lima, beli dan bayar tanpa turun dari motor. Warga mode ini juga tak kalah membuat ribet. Ikut andil menambah kerumitan. Satu berhenti di sebelah kiri, satu di kanan, becak gak bisa lewat.

Banyak becak dan mobil pikap mengantar atau menjemput barang dagangan seperti sayuran, bahan bumbu masak, buah-buahan dan rempah. Motor, becak dan pikap melaju dari ke kedua arah. Bikin pasar makin ramai, ramai dengan masalah.

Sering, becak dan pikap ‘beradu’ arah di jalan itu. Biasanya becak mengalah, geser ke sisi jalan yang kosong. Kalau tidak ada yang dekat, mundur mencari celah kosong di antara pedagang. Untuk satu kali “beradu’. Butuh waktu beberapa menit becak untuk mencari celah di antara lapak. Jalanan pun macet.

Pembeli yang berjalan kaki harus ikut berhenti, karena mau lewat sisi jalan, jarang ada yang “nganggur”. Waktu yang dibutuhkan untuk berbelanja jadi tambah lama. Lama karena mengurut dahi menunggu macet selesai. Macet yang satu selesai, sebentar kemudian macet lagi.

Buruknya lagi, ada pikap yang mengantar atau mengambil barang dagangan. Seenaknya berhenti di tengah jalan. Pemotor dan becak harus menunggu hingga bongkar atau muat barang dari dan ke pikap selesai. Bisa dibayangkan jika barang yang dibongkar atau dimuat banyak. Bagaimana dongkolnya pemirsa.

Lokasi paling parah semrawutnya pasar kota kolaborasi itu di belakang pasar basah yang menjual ayam, pasar daging dan pasar sayur. Bagi pemotor yang tak sabar. Menekan tuas klakson adalah pereda “nyeri” ulu hati. Di sela menunggu macet, menghirup anyir dari saluran yang hampir mampet. Ada memang saluran dibangun baru, tapi malah mampet tulen.

Kondisi itu semakin menyesakkan ketika sejumlah pedagang di pasar terbesar di Banda Aceh itu menaruh barang dagangan sesuka hati di badan jalan, di jalan belakang itu. Bahkan hingga setengah badan jalan. Tak peduli mengganggu orang lain. Jalan yang sudah sempit, dikuasai pula segelintir pedagang tanpa perasaan.

Fiani, warga Kuta Alam, Banda Aceh di warung kopi komplek pasar mengatakan, kondisi semrawutnya sentra perekonomian yang kian berantakan itu sudah sejak lama. Tapi tidak ada upaya untuk dibenahi oleh pemangku kepentingan di kota kolaborasi. Seperti tak ada pemeliharaan.

“Memang yang namanya pasar di mana saja tak bagus-bagus amat. Tapi tidak separah di Almahirah. Harus ada usaha dan upaya membenahi fasilitas, kebersihan dan juga masalah kendaraan. Untuk aturan kendaraan awalnya akan ada penolakan, tapi lama-lama pedagang dan warga bisa terima, kalau diterapkan dengan adil, termasuk barang dagangan yang sampai menjorok ke tengah badan jalan harus ditertibkan,” katanya.

Misal, kata Fiani, di sisi utara dan selatan jalan di sebelah barat (belakang-red) komplek pasar di pasang portal. Tidak ada kendaraan yang boleh melintas. Barang dari becak dan pikap dilangsir dengan kereta sorong dari halaman depan pasar. Melewati lorong-lorong antar bangunan.

“Untuk itu pemerintah perlu memperbaiki beberapa lintasan lorong antar bangunan sehingga mudah dilintasi kereta sorong. Kalau sayur tidak berat-berat amat. Jadi jalan yang di belakang itu ditutup total untuk kendaraan supaya pedagang dan pembeli nyaman beraktivitas,” katanya.

Atau yang lebih ringan, lanjut Fiani, dinas terkait membuat aturan untuk jalan di sebelah barat komplek Pasar Almahirah itu hanya dilintasi kendaraan dari satu arah. Motor, becak dan pikap masuk dari arah selatan dan keluar di ujung utara. “Jadi tidak ada lagi berlawanan arah hingga membuat macet dan membuat tensi darah naik,” ujar Fiani.

Sementara Husaini, warga lainnya mengharapkan dinas terkait di Kota Banda Aceh memperbaiki drainase agar air dan limbah mengalir lancar. “Itu untuk mengurangi bau menyengat di sekitar pasar ayam dan pasar ikan, kami masyarakat ingin ada perbaikan, bagaimana baiknya itu urusan pemerintah,” katanya.

Dan, awan tak lagi memeluk Gunung Seulawah Agam yang terlihat jelas dan gagah. Matahari pun meninggi, terang, tiada ragu menyinari bumi. Tidak seperti pemerintah di kota kolaborasi yang ragu dengan membiarkan pasar Almahirah terlihat kumuh. Karena pemangku kepentingan yang terkesan tak sungguh-sunguh. [mur]

Keyword:


Editor :
Redaksi

riset-JSI